PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK


Guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif efektif, dan menyenangkan. 

Sehingga mengajar harus dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajar pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar.

Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi di kelas adalah siswa.

Dengan demikian hakikat mengajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa.

Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses daripada hasil).



     Langkah awal untuk mewujudkan proses belajar yang demikian sebagai guru yang profesional adalah menguasai kompetensi pedagogik yang berupa penguatan pendidikan karakter peserta didik dalam berbagai aspek, potensi peserta didik, bekal ajar awal, kesulitan belajar, pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi optimal, dan pembelajaran untuk mengaktualisasi potensi peserta didik.

Perkembangan peserta didik sebagaimana kita tahu bahwa peserta didik berasal dari latar belakang yang berbeda dan dipengaruhi oleh tiga faktor berikut yaitu faktor pembawaan, faktor lingkungan dan kematangan. 

Untuk itu pendidik harus memahami Tujuh perkembangan yang menyangkut Penguatan Pendidikan Karakter peserta didik tersebut di bawah ini

A. Perkembangan Peserta Didik

Menyangkut perkembangan peserta didik pada sekolah menengah harus dipahami tiga hal berikut :

  1. Peserta didik adalah individu yang unik yang memiliki potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi. Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar peserta didik tidak bisa dilepaskan dari karakteristik individunya. 
  2. Remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa kanak-kanak ke masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Menurut Erickson (Santrock, 2012:87) masa remaja merupakan masa berkembangnya identitas diri (self-identity). 
  3. Pemahaman tahap dan tugas perkembangan dapat digunakan oleh pendidik dalam menentukan apa yang harus diberikan kepada peserta didik pada masa-masa tertentu, dan bagaimana caranya mengajar atau menyajikan pengalaman belajar kepada peserta didik pada masa-masa tertentu tersebut. 

B. Perkembangan Kemampuan Intelektual

Untuk menentukan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan intelektual dan kreativitas peserta didik. Perlu dipahami hal – hal berikut :

  1. Intelegensi atau kemampuan intelektual adalah kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif. 
  2. Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget (Santrock, 2012:56) berada pada tahap berpikir operasional formal, remaja bernalar lebih abstrak, idealis dan lebih logis. Tipe pemikiran logis ini disebut juga penalaran deduktif hipotetik 
  3. Anak usia SMA berada pada fase formal operasional, namun banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas. Sedangkan kemampuan intelektual mengalami perkembangan yang paling pesat.
  4. Teori kecerdasan majemuk dari Howard Gardner yaitu kecerdasan linguistik, matematik-logis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, 
  5. Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik yang timbul dari pemikiran divergen. 

C. Perkembangan Fisik dan Kesehatan

Pemahaman pendidik terhadap kondisi fisik peserta didik sangat penting, karena dalam kegiatan belajar tidak hanya melibatkan proses mental saja, akan tetapi melibatkan kegiatan fisik.

Menurut Makmun (2009:95) normalitas dari konstitusi, struktur, dan kondisi jasmaniah seorang anak akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya yang dapat berpengaruh pada sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar.

Untuk itu perlu diperhatikan hal berikut ini.

Perkembangan fisik berpengaruh kepada perkembangan kepribadian, khususnya yang berkaitan dengan masalah citra diri (body–image) konsep diri (self-concept), harga diri (self-esteem).
Pada masa remaja terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas merupakan awal yang penting yang menandai masa remaja. Pada masa pubertas terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok.
Ciri-ciri perkembangan tubuh remaja yaitu, perubahan ukuran tubuh, proporsi tubuh yang kurang proporsional, ciri-ciri kelamin primer dan sekunder.

Pengaruh perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku peserta didik diantaranya ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, terlalu sederhana.
Untuk dapat menerapkannya dalam pembelajaran silahkan baca juga Implementasi Penguatan pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

D. Kecerdasan emosi dan Perkembangan Aspek Sosial

Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif (kritis) emosi cenderung memuncak dan kurang stabil, emosinya sering bersifat negatif dan temperamental. Selain itu munculnya perasaan baru seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.

Kecerdasan emosi memiliki lima wilayah, yaitu (1) mengenali emosi diri; (2) mengelola emosi diri; (3) memotivasi diri sendiri; (4) mengenali emosi orang lain; (5) membina hubungan.

Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, dan konformitas. Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah hubungan dengan lawan jenis, dan senang mengikuti berbagai aktivitas sosial.

Penerimaan sosial oleh teman sebaya sangat penting karena berkaitan dengan harga diri, karena itu remaja harus mampu mengendalikan emosi dan memiliki keterampilan sosial.

Empat status hubungan sosial teman sebaya yaitu anak popular, anak yang diabaikan, anak yang ditolak, dan anak kontroversial.

E. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual

Tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg adalah, (1) prakonvensional; (2) konvensional; (3) pasca konvensional.
Remaja umumnya berada pada tingkat perkembangan ketiga, yaitu moralitas pascakonvensional, pada tahap ini terjadi internalisasi moral dan tidak didasarkan pada standar-standar moral orang lain.

Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral pada masa anak – anak dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum, dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi pedoman untuk berperilaku baik. melalui proses internalisasi.

Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah dirinya dalam mengenal TuhanNya, sebagai hambaNya untuk beribadah kepadaNya

Karakteristik perilaku perilaku moral remaja awal adalah bersikap kritis, skeptis, dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

Gambaran umum perilaku religius pada masa remaja awal yaitu mulai mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai keberadaan dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan YME.




F. Sikap Dan kebiasaan Belajar

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan hasil belajar melalui operant conditioning dan proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang kurang efektif dapat diubah atau dimodifikasi melalui proses belajar yang baru.

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sikap dan kebiasaan belajar tidak hanya berdampak pada prestasi belajar, tapi juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter.

Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien





G. Identifikasi kemampuan awal dan kesulitan Belajar

Sebelum memasuki dan memulai kegiatan belajar-mengajar guru harus mengetahui bekal awal peserta didik.

Hal ini akan memberikan bantuan kepada guru dalam merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan awal peserta didik. Aspek-aspek bekal awal ajar peserta didik meliputi fungsi kognitif, fungsi afektif, psikomotor.

Untuk mengidentifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan mengenai materi yang terdahulu (apersepsi) dan pretest sebelum mereka memulai dengan kegiatan belajar-mengajar.

Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Langkah-langkah dalam mengidentifikasi kesulitan belajar, yaitu
(1) menandai dan menemukan kesulitan belajar, untuk mengetahui siapa siapa yang mengalami kesulitan belajar; (2) melokalisasi letak kesulitan untuk mengetahui di manakah kelemahan-kelemahan itu terjadi; (3) mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan belajar untuk mengetahui mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi.

Semoga artikel sederhana yang mengulas penguatan pendidikan karakter peserta didik ini dapat bermanfaat dan dapat sebagai tambahan pengetahuan, dan bagi yang mau berkomentar atau memberikan masukan silahkan, kami akan senang

Seorang Pengajar Pada Sekolah Menengah Atas Di Jawa Tengah dan Penulis Free line Pada Blog.. Blog ini sebagai wujud sumbangsih pada dunia Pendidikan dan sebagai langkah nyata dalam membantu dan melengkapi sumber referensi bagi siapapun yang membutuhkannya. Siap Berbagi, Siap Belajar, dan Pembelajaran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »