Teknik Supervisi Akademik Yang Terbaru Kurikulum 2013

Pada implementasi kurikulum 2013 terdapat hal-hal baru diseputar kegiatan pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, proses, dan penilaian, sehingga keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013 sebenarnya sudah dapat dideteksi oleh seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

Untuk mendukung peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolah, dibutuhkan Kepala Sekolah yang memahami kurikulum sehingga diharapkan dapat membimbing, menjadi contoh, dan menggerakkan pendidik dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut.

Salah satu bentuk kontrol dan penjaminan mutu pembelajaran adalah pengawasan proses sebagaimana diamanatkan dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016.

Dalam satuan pendidikan bentuk pengawasan proses dalam penjaminan mutu pembelajaran adalah supervisi akademik yang berkelanjutan sebagai salah satu implementasi kurikulum , dalam hal ini kurikulum 2013.

Tujuan kegiatan supervisi akademik oleh Supervisor (Kepala sekolah) adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran.

Tujuan lain sebagaimana pendapat Sergiovanni (1987), kegaiatan supervisi akademik bertujuan untuk (a) Pengembangan Profesionalisme; (b) Pengawasan Kualitas; (c) Penumbuhan Motivasi.

Yang dapat digambarkan sebagai trilogi supervisi berikut ini.


Selain itu, kegiatan supervisi pembelajaran harus membantu guru agar mampu melakukan proses pembelajaran yang berkualitas dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan mandiri.

Sasaran supervisi akademik adalah guru sebagai pelaksana proses pembelajaran, yang di dalamnya mencakup materi pokok dalam proses pembelajaran, pengenalan buku ajar, penyusunan RPP, pemilihan strategi/model/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan/SKL, sasaran supervisi pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi.

Harus Kita ingat bersama, bahwa dalam konteks Kurikulum 2013, supervisi akademik adalah upaya untuk menciptakan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Fungsi Supervisi Akademik secara singkat sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.

Sedangkan Manfaat Supervisi akademik antara lain sebagai berikut.
  1. Guru yang disupervisi akan mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam membuat perencanaan pembelajaran.
  2. Guru yang bersangkutan dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas.
  3. Guru yang bersangkutan akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam merencanakan dan mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran.
  4. Sebagai bahan refleksi guru untuk menambah dan meningkatkan wawasan serta pengetahuan
Dalam pelaksanaan supervisi akademik supervisor ( kepala sekolah) harus memperhatikan Prinsip-prinsip sebagai berikut.
  1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
  2. Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.
  3. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
  4. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
  5. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.
  6. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi pendidik dalam mengembangkan proses pembelajaran.
  7. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan pendidikdalam mengembangkan pembelajaran.
  8. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
  9. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.
  10. Aktif, artinya pendidik dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
  11. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor
  12. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).
  13. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.
  14. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik.
Tahapan / siklus yang digunakan dalam melakukan kegiatan supervisi akademik mengikuti alur kegiatan pelakasanaan pada pengawasan proses, sebagaimana Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses.

Alur siklusnya meliputi, pemantauan, supervisi, pelaporan dan tindak lanjut, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1. Pemantauan

Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan melalui antara lain, diskusi kelompok terfokus, pengamatan,pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi.

2. Supervisi

Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran yang dilakukan melalui antara lain, pemberian contoh, diskusi, konsultasi, atau pelatihan pelaporan.

3. Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran disusun dalam bentuk
laporan untuk kepentingan tindaklanjut pengembangan keprofesionalan pendidik secara berkelanjutan.

4. Tindak Lanjut

Tindak lanjut hasil pengawasan dilakukan dalam bentuk:

a. penguatan dan penghargaan kepada guru yang menunjukkan kinerja yang memenuhi atau
    melampaui standar; dan
b. pemberian kesempatan kepada guru untuk mengikuti program pengembangan keprofesionalan
    berkelanjutan

Menurut Sahertian (dalam Bahan Ajar Supervisi Akademik) pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan supervisi akademik, ada 3, yaitu sebagai berikut.

1. Pendekatan Langsung (Direktif)

Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan.

2. Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)

Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah

3. Pendekatan Kolaboratif

Pendekata koplaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi

Metode Supervisi akademik yang biasa digunakan adalah metode langsung dan metode tak langsung, secara matrik dapat digambarkan sebagai berikut

Teknik supervisi akademik terdiri atas dua macam, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok

1. Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru, teknik supervisi individual terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas dan menilai diri sendiri.

2. Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditunjukkan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan- kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu, kemudian diberi layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhannya. Secara lengkapnya, teknik supervisi akademik bisa dilihat pada Gambar 


Baca Juga Instrumen Perencanaan dan Pelaksanaan Supervisi Akademik
Secara skematik keterkaitan antara pendekatan, metode dan teknik ditunjukkan oleh Gambar

Sebagai indikator keberhasilan kegiatan supervisi akademik perlu diperhatikan rambu-rambu berikut.
1) Kemampuan guru meningkat, khususnya dalam kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan
    mengevaluasi pembelajaran.
2) Kualitas pembelajaran menjadi lebih baik, khususnya berkenaan dengan kemampuan guru
    mengajar. (Pembelajaran yang berkualitas diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
    yang tinggi)
3) Terjalin hubungan yang kolegial antara supervisor dan guru dalam memecahkan permasalahan-
    permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru di lapangan.

Agar kegiatan supervisi menjadi bernilai dan berarti, maka penyiapan dan pemilihan instrumen yang baik dan representatif sesuai kebutuhan harus menjadi perhatian bagi supervisor (kepala sekolah).

Baca Juga Instrumen perencanaan dan pelaksanaan Kegiatan Supervisi Akademik Terbaru

Adapun tahapan mensiapkan instrumen supervisi, dikelompokkan menjadi berikut ini.

1) Persiapan pendidik untuk mengajar terdiri dari:
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b. Program Tahunan.
c. Program Semesteran.
d. Pelaksanaan proses pembelajaran.
e. Penilaian hasil pembelajaran.

2) Instrumen supervisi kegiatan belajar mengajar
a. Lembar observasi (RPP, Pembelajaran, Penilaian hasil pembelajaran)
b. Suplemen observasi (ketrampilan mengajar, karakteristik mata pelajaran, pendekatan klinis, dan
    sebagainya).

Demikian uraian teknik supervisi akademik yang dapat saya sampaikan , semoga bermanfaat, dan bila berkenan tinggalkan komentar atau share ke teman lainya

Terima kasih

Seorang Pengajar Pada Sekolah Menengah Atas Di Jawa Tengah dan Penulis Free line Pada Blog.. Blog ini sebagai wujud sumbangsih pada dunia Pendidikan dan sebagai langkah nyata dalam membantu dan melengkapi sumber referensi bagi siapapun yang membutuhkannya. Siap Berbagi, Siap Belajar, dan Pembelajaran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »