Memahami Model pembelajaran Remedial Dan Pengayaan dalam Pembelajaran Tuntas

Menurut Carrol bahwa masalah belajar merupakan masalah waktu. Artinya siswa yang mempunyai kemampuan rendah akan memerlukan waktu relatif lebih lama dibanding dengan siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi.

Dalam konsep belajar tuntas, keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh hasil evaluasi yang sudah distandarisasi atau yang kita kenal dengan batas KKM (kemampuan kompetensi minimum)
Sehingga bagi siswa yang belum mencapai KKM berarti harus menjalani Pembelajaran Remedial, sedangkan Yang sudah KKM melakukan Pembelajaran Pengayaan.

Pada posting kali ini saya akan mengajak Anda semua Untuk Memahami tentang Model Pembelajaran Remedial dan Pengayaan dalam pembelajaran tuntas.
Langsung ke pointnya saja, okey ???

Pada konsep pembelajaran remedial :dikenal 3 model pembelajaran sedangkan pada pembelajaran Pengayaan ada dua model pembelajaran. Marilah kita simak bersama penjelasan berikut ini.

I. Tiga Model pembelajaran Remedial

Pembelajaran remedial adalah suatu proses pengulangan pembelajaran yang disebabkan karena siswa yang bersangkutan belum dapat mencapai batas minimal kompetensi yang diikuti dan disyaratkan dalam kelas reguler.

Dalam Model pembelajaran remedial dikenal tiga model pembelajaran sebagai berikut.

A. Model pembelajaran remedial di luar jam pelajaran sekolah(outside school hours)

Fokus model ini untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar pada satu atau beberapa materi subyek, dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pembelajaran dilaksanakan.

Ada tiga keuntungan dari pelaksanaan model ini antara lain :


  1. Siswa mendapat tambahan waktu untuk mempelajari kembali, diluar jam yang biasa diikuti di kelas.
  2. Siswa dibantu mengidentifikasi area materi yang sulit dan mendapatkan panduan untuk mengejar ketertinggalan dengan informasi tambahan agar lebih mudah memahaminya.
  3. Dalam kelompok kecil pada pembelajaran remedial ini siswa mendapatkan kesempatan interaksi lebih dengan guru, sehingga berkesempatan untuk mengajukan kesulitan – kesulitan belajar dan mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna


Namun dalam melaksanakan pembelajaran remedial ini juga harus memperhatikan tiga hal berikut agar hasilnya lebih efektif, yaitu:


  1. Siswa yang tadinya mengalami kesulitan belajar akan lebih siap untuk mengikuti pembelajaran pada kelas reguler
  2. Perlunya perhatian khusus dari orang tua siswa, agar membantu aktivitas siswa diluar jam sekolah ( seperti antar jemput sekolah dan lainnya)
  3. Kerjasama antar guru dengan guru lainnya, siswa dan orang tua.


Berikut ini beberapa pedoman yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran remedial outside school hours :


  1. Penekanan kepada para remediasi agar membantu siswa membangun dasar yang kokoh tentang materi yang sulit dan kemampuan belajar mandiri dengan bimbingan guru.
  2. Guru hendaknya mengkaji intisari kurikulum yang menekankan tentang ketuntasan belajar siswa dan merencanakan materi tambahan yang sesuai agar benar benar memantapkan pengetahuan dasar siswa , sehingga siap untuk mempelajari materi berikutnya.
  3. Guru mempersiapkan metode yang benar – benar tepat dan efektif, sehingga siswa merasa lebih mudah dalam memahami dan menelaah materi pelajaran. ( misal dengan bantuan LKS, membahas soal, atau mencatat hal – hal yang penting)
  4. Mengelompokkan siswa yang setingkat dalam kesulitan belajar dan topik yang sama.
  5. Durasi pembelajaran setidaknya sama dengan jam pelajaran biasa, dengan jumlah pertemuan di sesuaikan kebutuhan.


B. Model pembelajaran remedial pengambilan secara tertentu (withdrawal)

Model remedial ini berarti memisahkan siswa dari kelas biasa kedalam kelas khusus remedial.
Hal ini dilakukan agar pengetahuan dasar yang diperlukan lebih mapan sebagai pondasi untuk mempelajari materi berikutnya.
Model ini tidak digunakan untuk semua materi pelajaran, tetapi hanya pada topik – topik tertentu yang dianggap esensial saja.

Keuntungan dari model remedial ini antara lain :


  1. Guru lebih memahami kebutuhan siswa secara individu, kesulitan masing masing siswa dalam belajar, dan performa siswa di dalam kelas, karena jumlahnya relatif lebih sedikit.
  2. Guru lebih mudah memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa dalam memahami materi yang sulit
  3. Siswa dapat belajar lebih intensif karena interaksi dengan guru lebih meningkat.


Kelemahan dari model remedial ini yaitu

Timbulnya segregasi bagi siswa yang yang mengikuti remedial terlalu lama (misalnya siswa tersebut mendapat julukan tertentu dari teman – temannya ) dan siswa tersebut kehilangan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekelasnya (ordinary class)
Untuk menerapkan model remedial withdrawal ini perlu memperhatikan beberapa pedoman berikut ini :


  1. Sekolah harus menjadwalkan secara khusus mata pelajaran dan daftar siswa yang akan dipisahkan ( harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa).
  2. Jumlah siswa dalam satu kelompok belajar sebaiknya jangan lebih dari 15 siswa.
  3. Sekolah harus menentukan prioritas materi atau topik yang akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, terutama topik prasyarat untuk pelajaran berikutnya.
  4. Untuk memudahkan dalam memberikan fondasi pengetahuan kunci , sebaiknya dibuat kelompok siswa yang memiliki peringkat perkembangan intelektual yang sama.


C. Model pembelajaran remedial Tim (Co-teaching)

Model remedial ini dilakukan oleh tim pengajar, yang terdiri dari dua orang atau lebih.

Tugas tim pengajar ini bekerja sama dalam menyiapkan materi pembelajaran dan penilaian hasil belajar yang mengacu pada peningkatan pembelajaran efektif.

Kelebihan dari model remedial ini antara lain :


  1. Membangun kebersamaan dalam kelompok yang menciptakan suasana kondusif bagi lingkungan pendidikan secara keseluruhan di sekolah
  2. Efektifitas pembelajaran dapat lebih ditingkatkan, karena dapat terjadi kerja sama antar guru dalam meningkatkan profesionalitas dan saling bertukar kelebihan dan kekurangan materi.
  3. Lebih luwes dan leluasa dalam pelaksanaan pembelajaran bagi guru, karena guru bisa mengatur persiapan dan pelaksanaannya di antara anggota tim.
  4. Membantu meningkatkan interaksi antar siswa dengan guru, karena siswa dapat memilih guru yang dirasa cocok.


Dalam melaksanakan remedial model ini perlu memperhatikan beberapa hal berikut :


  1. Setiap anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama tentang motivasi dan model pembelajaran remedial ini.
  2. Dukungan dari sekolah, baik secara administrasi dan sumber daya untuk keberhasilan program ini.
  3. Koordinasi yang baik antar anggota tim dalam menjalankan peran, tugas dan sumberdaya yang ada.


Pedoman untuk melaksanakan model remedial co-teaching antara lain :

Persiapan :

Dalam tahap persiapan berikut ini hal – hal yang dapat dilakukan :


  1. Guru bersama –sama siswa menyusun rencana pembelajaran, mulai dari tujuan , topik, dan aktifitas fisik yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran.
  2. Mendiskusikan strategi pembelajaran antara siswa dengan guru. dan mengadaptasi kurikulum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan individu siswa
  3. Menyiapkan media dan LKS untuk memahami topik tersebut.


Presentasi Pelajaran

Dalam tahap ini guru dapat mengadopsi pembelajaran dengan cara yang luwes dengan ciri topik, tujuan dan materi pembelajaran. Berikut ini beberapa tindakan yang biasanya dilakukan:


  1. Guru mempresentasikan materi bersama –sama atau secara berurutan bergantian dan dapat melakukan elaborasi atau eksplanasi tambahan tentang materi sehingga lebih jelas.
  2. Guru mendorong siswa yang lemah dengan kelompok kecil ataupun bimbingan secara individu.
  3. Mengobservasi dan mencatat kinerja siswa , sehingga dapat terus diarahkan kepada sikap dan perilaku belajar yang baik.
  4. Mengembangkan keterampilan dan kebiasaan belajar mandiri di antara siswa. (cara memperoleh informasi, dan mengolah informasi tersebut)
  5. Mempertahankan agar kelas tetap tertib dan mengkondisikan suasana belajar yang saling membantu.


Evaluasi dan Review

Dalam tahap ini dapat dilakukan antara lain:


  1. Mengevaluasi anggota TIM dalam bekerjasama, dan peranannya.
  2. Merevisi materi pelajaran dan memperbaiki strategi pembelajaran dalam memenuhi kebutuhan siswa.
  3. Mengevaluasi kinerja siswa dan kemajuan belajarnya.


Berikut ini gambaran secara umum tentang korelasi Pembelajaran remedial dan pembelajaran reguler :


II. Dua Model Pembelajaran Pengayaan

Pembelajaran pengayaan adalah suatu upaya lebih bagi siswa yang memiliki kemampuan belajar lebih cepat dan memiliki kecerdasan luar biasa.
Dalam artian memberikan pemahaman yang lebih dalam dari pada sekedar standar kompetensi dalam kurikulum.

Secara filosofi pembelajaran pengayaan adalah cara untuk melihat pengetahuan /informasi yang dipelajarinya sedalam pemahaman yang diinginkan dalam pembelajaran.

Hal ini dilaksanakan tetap pada suatu keyakinan bahwa belajar merupakan suatu proses yang harus terjadi (on going process) dan belajar sebagai suatu yang menyenangkan (fun) sekaligus menantang (challenging).

Menurut Challahan (2003) pendidikan untuk siswa yang unggul (belajar sangat cepat) merupakan area pendidikan yang luar biasa yang karakteristik siswanya mempunyai kecakapan yang sangat tinggi.

Pembelajaran yang diberikan kepada siswa yang berkarakteristik seperti di atas perlu memperoleh perhatian khusus agar dapat meningkatkan pemahamannya, tanpa menimbulkan sikap kontra produktif.

Oleh karena itu, pembelajaran pengayaan bisa menggunakan dua model sebagai berikut :

1. Pembelajaran pengayaan model mentoring dan tutoring

Pembelajaran pengayaan model ini, menempatkan siswa yang mempunyai kemampuan belajar sangat cepat dengan siswa yang mempunyai kecepatan belajar seperti pada umumnya.

Metode ini disebut inclusion, dimana siswa yang mempunyai kecakapan unggul bertindak sebagai TUTOR atau mentor rekan sejawatnya yang relatif lambat dalam pembelajaran.

Di samping itu, tutor atau mentor sejawat (siswa,yang luar biasa) dapat membangunkembali konsep yang telah dipelajari dalam pembelajaran biasa, di dalam struktur kognitifnya.

Disisi lain tutor sebaya ini berarti membantu daya tahan (retensi) penguasaan siswa terhadap pengetahuan tersebut.
Kelemahan model ini bila dilakukan berulang ulang dalam kurun waktu yang lama dapat menimbulkan rasa superioritas bagi siswa yang mempunyai kecakapan lebih.

Model pengayaan ini dapat digambarkan ke dalam bagan berikut ini :


2. Pembelajaran pengayaan model proyek, merupakan proyek khusus .

Model pengayaan yang kedua ini termasuk kedalam model pengayaan horizontal. Model ini berupa pemberian tugas khusus atau proyek, proyek yang diberikan harus sebagai tindak lanjut dari pengetahuan yang telah dipelajarinya.

Contoh model ini dapat berupa penelitian sederhana, seperti penelitian literatur (dari berbagai buku), penelitian empiris (melakukan observasi langsung dengan eksperimen atau fenomena sebenarnya), atau mencari data dari berbagai narasumber.

Masalah atau kasus sebagai fokus penelitian dapat diajukan oleh siswa, guru atau kesepakatan keduanya.

Alokasi waktu yang digunakan dapat bervariasi, dapat dilakukan pada pada alokasi waktu kegiatan pembelajaran reguler, diluar jam pembelajaran atau pada kegiatan ekstrakurikuler.

Hasil kegiatan ini berupa laporan sederhana dan lengkap serta sebaiknya dipresentasikan didepan siswa yang lainnya.

Model pengayaan ini dapat digambarkan sebagai berikut


Saya Kira sampai disini dulu uraian tentang Model pembelajaran Remedial dan Pengayaan dalam pembelajaran tuntas, yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf bila ada kekurangan.untuk kritik dan saran silahkan tuliskan pada komentar, dan bila dianggap artikel ini bermanfaat jangan lupa share ke teman Anda semua.
Terima Kasih.

Baca Juga ;

Seorang Pengajar Pada Sekolah Menengah Atas Di Jawa Tengah dan Penulis Free line Pada Blog.. Blog ini sebagai wujud sumbangsih pada dunia Pendidikan dan sebagai langkah nyata dalam membantu dan melengkapi sumber referensi bagi siapapun yang membutuhkannya. Siap Berbagi, Siap Belajar, dan Pembelajaran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »