Cara Menyusun Laporan Pendahuluan BAB 1 pada PTK

Pada BAB I Laporan PTK diberi judul PENDAHULUAN, yang terdiri atas enam bagian, yaitu : latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
Cara Menyusun Laporan Pendahuluan BAB 1 Pada PTK
Laporan Pendahuluan

Dan pada posting kali ini akan saya coba paparkan bagaimana cara menyusun laporan pendahuluan PTK pada BAB I ini. Mulai dari latar belakang masalah sampai dengan manfaat penelitian.

Untuk memahami ke enam bagian tersebut di atas marilah ikuti uraiannya satu per satu di bawah ini

A. Latar belakang masalah

Sebelum membahas lebih lanjut tentang latar belakang masalah, coba jawab terlebih dahulu pertanyaan berikut ini.

Manakah yang harus dipikir terlebih dahulu antara latar belakang masalah atau judul penelitian ?, dan itulah mungkin salah satu pertanyaan yang sering kita temui jika kita akan melakukan suatu penelitian.

Daripada bingung, ikuti terus paparan di bawah ini sampai selesai

Hal yang benar untuk menjawab pertanyaan tadi adalah, bahwa peneliti menjumpai masalah baru kemudian ingin meneliti yang terkait dengan permasalahan itu.
Laporan pendahuluan PTK BAB 1

Pada penelitian tindakan kelas umumnya permasalahan yang perlu diatasi adalah permasalahan yang terkait dengan proses, sekalipun yang tampak di permukaan adalah masalah hasil belajar.

Akan tetapi permasalahan yang ada, umumnya dapat dimasukkan ke dalam kriteria, kelas pembelajaran yang baik dengan 4 kondisi pembelajaran berikut ini, yaitu a). Peserta didiknya aktif, b) motivasi peserta didik tinggi, c) suasana kelas menyenangkan, dan d) hasil belajar baik.
Andaikan permasalahan penelitian tersebut kebalikan dari 4 kondisi di atas , apa yang harus dilakukan peneliti?

Yang jelas peneliti harus berpikir untuk mengatasi permasalahannya. Semua permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitiannya.

Untuk memulai penelitian, peneliti harus merumuskan judul terlebih dahulu.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah peneliti harus merumuskan judul penelitiannya?.

Untuk menjawab pertanyaan tadi, kita perlu bicarakan tentang judul penelitian tindakan. Apa tindakan yang harus dilakukan peserta didik agar kondisi pembelajaran bisa baik seperti yang diharapkan?. Bagaimana kita harus mengaktifkan peserta didik ?. tindakan apakah yang harus kita berikan kepada peserta didik agar suasana belajar menyenangkan dan hasilnya baik?. Metode apakah yang sesuai dengan kompetensi dasar dan mata pelajarannya?.
Misalnya tindakan untuk kompetensi operasi hitung geometri pada mata pelajaran matematika kelas VII SMP, tentu berbeda dengan tindakan kompetensi bela negara untuk mata pelajaran PKn siswa kelas X SMA.

Dengan demikian Prinsip penting dalam menentukan judul penelitian tindakan adalah tindakan itu tidak harus membuat siswa aktif, motivasi tinggi, namun ada hal – hal lain yang perlu diperhatikan oleh peneliti.

Sekali lagi, perlu diingat bahwa tindakan tersebut tidak hanya untuk meningkatkan prestasi belajar saja, tetapi harus ada tujuan yang mengarah ke proses. Misalnya : minat, kreatifitas, perhatian, ketekunan, dan semangat belajar.

Dengan demikian secara tidak langsung , jika sudah menentukan judul penelitian dengan benar, maka kita telah merumuskan latar belakang dengan benar juga.
Oleh karena itu Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh peneliti untuk merumuskan judul penelitian. Yaitu harus memuat What, Who, dan How.

1. What adalah apa yang akan ditingkatkan melalui penelitian tersebut. Seperti kondisi kelas yang akan ditingkatkan dalam permasalahan yang sudah dibahas sebelumnya, yaitu (1) keaktifan siswa, (2) motivasi siswa, (3) suasana pembelajaran, dan (4) hasil belajar. Untuk what ini sebaiknya tidak hanya menunjuk pada hasil saja, tetapi juga proses. Dalam hal ini, what – nya sudah betul karena sudah ada tiga objek yang menyangkut proses. Artinya sesudah menyebutkan proses, baru menuju ke hasil.

2. Who adalah siapa yang akan ditingkatkan.peserta didik kelas berapa, untuk kompetensi dasar apa , mata pelajaran apa. Di bagian ini harus jelas siapa subjeknya dan keterangan tentang apa objeknya.

3. How, menunjuk pada tindakan apa yang harus dilakukan oleh subjek tindakan, yaitu para peserta didik.
Untuk meningkatkan keaktifan peserta didik peneliti dapat meminta peserta didik berdiskusi kelompok. Melalui diskusi ini mungkin peserta didik aktif, tetapi apakah motivasinya tinggi untuk mengikuti?. Bagaimanakah suasana pembelajaran, apakah menyenangkan?. Apakah peserta didiknya bersemangat antusias mengikuti pembelajaran?.

Kita ambil contoh judul penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berbunyi :

Metode Mencongak Berhadiah untuk Meningkatkan Aktivitas, Motivasi, Suasana Menyenangkan dan Hasil Belajar Operasi Hitung 1 sampai dengan 100 Siswa Kelas V Sekolah Dasar

Dari judul tersebut mari kita lihat apakah sudah memenuhi tiga hal yang harus ada pada judul penelitian?

What : aktivitas, motivasi siswa, suasana pembelajaran yang menyenangkan, dan hasil belajar operasi hitung 1 sampai dengan 100.

Who : yang ditingkatkan adalah siswa kelas V Sekolah Dasar.

How : Mencongak berhadiah.

Kita ambil contoh kembali untuk judul PTS, yang berbunyi :

Meningkatkan Kemampuan Menyusun RPP Guru Sejarah Kelas X Sekolah Menengah Atas dengan Cara Pembimbingan Bertahap dan Saling Mengoreksi “


Dari judul tersebut yang berlaku sebagai What adalah Kemampuan menyusun RPP, sedangkan sebagai Who adalah guru sejarah kelas X SMA, dan sebagai How nya adalah dengan Pembimbingan bertahap dan saling mengoreksi.

Dari penjelasan diatas, berarti dengan menyusun judul penelitian tindakan dengan benar maka secara tidak langsung kita tinggal memaparkan latar belakang penelitian tersebut sesuai judul penelitiannya. Karena hingga sekarang masih banyak ditemukan dalam judul penelitian yang masih kurang tepat ,sebab masih kurang atau belum mencantumkan tindakan yang dilakukan atau juga objek yang ditingkatkan hanya baru memuat hasil belajar saja lupa meningkatkan aspek afektif seperti minat, motivasi dan lainnya.

Baca Juga Cara Menyusun Laporan BAB II Kajian Pustaka

Dari judul penelitian yang sudah benar, selanjutnya tinggal kita paparkan latar belakang masalah penelitian, disusun sinkron dengan judul penelitian. Untuk menyusun latar belakang masalah, simaklah juga point - point berikut ini :

1. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang nyata terjadi di sekolah tersebut atau pada bidang studi
tersebut dengan disertai data faktualnya dan diagnosis dilakukan oleh guru atau tenaga kependidikan lainya di sekolah
2. Masalah yang diteliti bersifat urgen dan mendesak untuk dilakukan pemecahannya.
3. Dapat dilihat, dilaksanakan dari segi biaya,, ketersediaan waktu dan sumberdaya pendukung lainya.
4. Perlu dideskripsikan dan dianalisis secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut.
5. Prosedur yang digunakan dalam identifikasi masalah perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis
6. Kemukakan perlakuan atau metode pembelajaran yang biasa digunakan secara jelas sehingga dipandang perlu adanya perbaikan.

B. Identifikasi masalah.

Yang dimaksud dengan identifikasi masalah dalam penelitian adalah daftar dari permasalahan yang ada dan muncul sebelum penelitian dimulai.
Permasalahn yang muncul pada identifikasi masalah jauh lebih banyak jika dibanding dengan rumusan masalah yang dicantumkan.

Jika pada rumusan masalah muncul empat point rumusan masalah seperti yang dicontohkan, yaitu : (1) Peserta didik kurang aktif, (2) motivasi belajar peserta didik rendah, (3) suasana belajar kurang menyenangkan, dan (4) hasil belajar yang rendah.

Maka dalam identifikasi masalah harus berupa daftar permasalahan dengan jumlah yang lebih besar atau lebih banyak, kita ambil misal ada tujuh permasalahan, seperti :

1. Dalam mengikuti pembelajaran banyak peserta didik yang bengong dan tidak aktif.
2. Ketika pembelajaran banyak peserta didik yang mengantuk, ini pertanda pembelajaran tidak menarik
3. Suasana pembelajaran tidak menyenangkan, peserta didik kelihatan tidak bersemangat.
4. Motivasi peserta didik rendah, hal ini terlihat lesu saat mengikuti pembelajaran
5. Ada beberapa orang peserta didik tidak memperhatikan ketika pembelajaran berlangsung
6. Ketika ditanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan di antara proses pembelajaran berlangsung
7. Hasil belajar peserta didik kurang tinggi ketika diadakan posttest
8. Dan sebagainya

Dari ketujuh contoh identifikasi masalah tersebut kemudian dijadikan empat rumusan masalah sebagaimana contoh diatas tadi.

Perlu diingat bahwa tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. Namun pada saat menuliskan identifikasi masalah jangan asal –asalan, karena bisa jadi penelitian yang dilakukan kurang membawa manfaat. Oleh sebab itu identifikasi masalah merupakan tahap kualitas masalah yang diteliti.

Untuk itu beberapa langkah berikut perlu diikuti dengan PTK.

1. Masalah harus riil dan on the job problem oriented. Artinya, masalah tersebut di bawah kewenangan guru untuk memecahkanya, masalah itu datang dari pengalaman dan pengamatan seorang guru sendiri melalui kegiatan pembelajaran sehari – hari , bukan datang dari pengalaman orang lainnya. Masalah nyata bukan imagginery, sesuai yang ada di kelas, karena harus didukung dengan data empiris seperti data kelas data sekolah observasi dan catatan/jurnal harian guru.

Contohnya : menurut data kelas ditemukan bahwa (a). Sebagian besar peserta didik (75%) tidak dapat menguasai keterampilan matematika dasar, (b). Mayoritas Peserta didik (>85%) tidak berminat belajar bahasa inggris

2. Masalah harus Problematik, artinya masalah tersebut perlu dipecahkan, atau perlu pemecahan yang benar dan cepat. Tidak semua masalah pembelajaran yang nyata adalah masalah – masalah yang problematik karena (a). Pemecahan masalah tersebut kurang didukung literatur atau prasarana birokratis, (b). Pemecahan masalah belum mendesak dilaksanakan, dan (c). Guru tidak mempunyai wewenang penuh untuk memecahkan.
Misalnya mayoritas siswa tidak dapat membaca buku teks bahasa Indonesia. Masalah tersebut bisa menjadi masalah yang kurang problematik bagi guru biologi, karena masalah tersebut lebih tepat menjadi tanggung jawab guru bahasa Indonesia.

3. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. Maksudnya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas atau nyata. Untuk itu pilihlah masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. Untuk uji asas manfaat tersebut lontarkan beberapa pertanyaan berikut : (a) apa yang akan terjadi apabila masalah tersebut dipecahkan. (b) apa resiko terburuk apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan?? Dan (c) tujuan pendidikan mana yang tidak tercapai, apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan?. Jawaban terhadap pertanyaan - pertanyaan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan .

4. Masalah harus feasible (dapat dipecahkan atau ditangani). Maksudnya jika dilihat dari sumber daya peneliti (waktu, dana, dukungan birokrasi, dan sebagainya) apakah masalah tersebut dapat dipecahkan. Dengan kata lain, tidak semua penelitian yang harus real problematik dan manfaatnya jelas, selalu feasible. Untuk itu harus dipilih masalah – masalah yang feasible dengan pertimbangan faktor sumber daya peneliti seperti di atas.

C. Batasan masalah.

Batasan masalah dibuat untuk memfokuskan penelitian. Tujuh identifikasi masalah yang telah dibuat diatas, dipertimbangkan lagi terlalu banyak, sehingga perlu mengurangi beberapa masalah, seperti, banyak yang menguap, main Hp dan lainnya tidak menjadi prioritas perhatian peneliti, tetapi kemudian memfokuskan pada empat masalah yang ditindaklajuti dengan penelitian tindakan, yaitu (1) keaktifan siswa, (2) motivasi siswa, (3) suasana pembelajaran, dan (4) hasil belajar selama dan sesudah proses pembelajaran. Dengan Keempat masalah ini, berarti peneliti telah melakukan batasan masalah.

D. Rumusan masalah.

Biasanya berupa pertanyaan atau kalimat tanya yang jawabannya akan tertuliskan di BAB V yang berupa simpulan. Isi pertanyaan rumusan masalah terkait dengan yang diberi tindakan.
Rumusan masalah dibuat berdasarkan batasan masalah, yaitu masalah dari identifikasi masalah yang sudah dibatasi tadi. Walaupun ada penelitian yang menuliskan pertanyaan penelitiannya (rincian rumusan masalah) ditulis di akhir BAB II, kajian pustaka.

Atau dapat juga dalam menyusun rumusan masalah yang berupa pertanyaan dengan memperhatikan kata tanya what, when, who, where, why, dan how much.
Di bawah ini, Contoh rumusan masalah, sebagaimana pada contoh judul penelitian di atas.

1. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat Peserta didik lebih aktif?
2. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat motivasi Peserta didik yang l berprestasi
meningkat?
3. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat prestasi belajar Pesera didik lebih baik lagi?
4. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat suasana pembelajaran menyenangkan Pesera didik?

E. Tujuan penelitian.

Ibarat dua buah mata, yaitu mata kiri dan mata kanan, keduanya simetris atau serupa (bukan sama persis). Demikian juga antara Rumusan Masalah dengan tujuan penelitian, keduanya serupa, sehingga dari rumusan masalah yang jumlahnya empat, maka tujuan penelitian juga harus ada empat juga, yaitu :

1. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat Peserta didik lebih aktif?
2. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat motivasi Peserta didik yang
berprestasi meningkat ?
3. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat Peserta didik lebih aktif?
4. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat prestasi belajar Peserta didik
lebih baik lagi?

F. Manfaat penelitian.

Pada bagian ini menjelaskan apa saja atau siapa saja yang akan memperoleh manfaat dari penelitian ini. Dengan demikian , rumusan manfaat penelitian seperti uraian berikut :

1. Bagi guru. :

a. Mendapat kesempatan dalam mempraktikkan teori belajar, bahwa metode yang digunakan cocok untuk meningkatkan prestasi belajar peserta
didiknya, dan
b. Mempunyai pengalaman melaksanakan penelitian tindakan, sehingga tidak ragu lagi dalam melaksanakan PTK

2. Bagi Peserta didik :

a. Mengalami pembelajaran dengan metode yang menyenangkan
b. Mengalami mendapatkan prestasi belajar yang tinggi dan cukup memuaskan, dan
c. Mendapatkan pengalaman aktif dalam pembelajaran

3. Bagi sekolah :

a. Bangga mempunyai guru yang sudah dapat melaksanakan PTK
b. Bangga mempunyai guru yang mampu melaksanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan
c. Bangga mempunyai peserta didik yang mempunyai prestasi yang tinggi.

Demikian dahulu ulasan mengenai cara menyusun laporan pendahuluan BAB I pada PTK, semoga bermanfaat bagi Anda Semua. Kalau ada pertanyaan atau masukan silahkan tuliskan di kolom komentar

Seorang Pengajar Pada Sekolah Menengah Atas Di Jawa Tengah dan Penulis Free line Pada Blog.. Blog ini sebagai wujud sumbangsih pada dunia Pendidikan dan sebagai langkah nyata dalam membantu dan melengkapi sumber referensi bagi siapapun yang membutuhkannya. Siap Berbagi, Siap Belajar, dan Pembelajaran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »