Model Pembelajaran Saintifik

     Cara atau teknik yang digunakan oleh guru kepada siswa dalam menyajikan materi pembelajaran dalam sebuah proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang sudah dirancang dapat tercapai menjadi sangat penting dipahami dan dipraktekan dalam proses pembelajaran sehari – hari di sekolah sebagai suatu lembaga formal yang selama ini dipercaya sebagai salah satu sumber utama pembinaan dan pencetak sumber daya manusia.
Model Pembelajaran Saintifik

    Oleh karenanya sudah menjadi suatu keharusan bagi para pendidik untuk mengenal metode pembelajaran dan model pembelajaran yang sesuai dan tepat untuk dilaksanakan agar tujuan yang yang dimaksud dapat dicapai. Dan pada kesempatan kali ini akan saya coba paparkan beberapa metode model pembelajaran, tepatnya yang berkenaan dengan mata pelajaran IPA, akan tetapi ini tidak menutup kemungkinan diterapkan pada bidang studi selain IPA.
    Jika membahas tentang beberapa contoh dari model-model pembelajaran itu sendiri, ada beberapa model yang sudah tidak asing lagi dengan kita, namun beberapa diantaranya juga merupakan model yang tergolong baru dan relevan dengan penerapan kurikulum saat ini. Beberapa contoh metode pembelajaran yang sudah umum diketahui yaitu metode ceramah, diskusi, studi kasus, demonstrasi, dan lain sebagainya. Sedangkan beberapa model pembelajaran yang terbilang up to date antara lain adalah model Discovery Learning, Project Based Learning,

    Problem Based Learning, Model Learning Cycle, dan Model Science Technology and Society (STS), dan masih banyak lagi lainnya.
    Dari sekian banyak model-model pembelajaranhttp://taufikiminia.blogspot.co.id/2017/11/model-pembelajaran-saintifik.html yang sudah disebutkan di atas, tidak ada satupun yang bisa dianggap sebagai model pembelajaran terbaik. Hal itu dikarenakan setiap model pembelajaran yang diterapkan oleh seorang tenaga pendidik selalu saja disertai dengan kelebihan dan kekurangan.

Oleh karenanya Para tenaga pendidik dalam menerapkannya perlu memperhatikan sintaks (urutan kegiatan/tahapan pembelajaran), sistem sosial (situasi atau norma yang berlaku dalam model, prinsip reaksi (upaya guru dalam membimbing dan merespon siswa atau pola kegiatan bagaimana guru memperlakukan siswa), sistem pendukung (faktor- faktor yang harus diperhatikan, dimiliki guru dalam menggunakan model serta sarana prasarana yang diperlukan untuk melaksanakan model), dan dampak pembelajaran (langsung dan iringan).

    Berikut uraian tentang konsep model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran khususnya IPA dan pada pembelajaran pada umumnya :

1. Model Pembelajaran Discovery Learning

    Discovery mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan jika ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui, masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.

    Pembelajaran pada model Discovery Learning meliputi: Tahap Stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan), Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah), Data collection (pengumpulan data), Data processing (pengolahan data), Verification (pembuktian) dan Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

2. Model Pembelajaran Project Based Learning

    Project Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Proyek adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam suatu kegiatan (proyek) yang menghasilkan suatu produk. Keterlibatan siswa mulai dari merencanakan, membuat rancangan, melaksanakan, dan melaporkan hasil kegiatan berupa produk dan laporan pelaksanaanya. Model pembelajaran ini menekankan pada proses pembelajaran jangka panjang, terlibat secara langsung dengan berbagai isu dan persoalan kehidupan sehari-hari, belajar bagaimana memahami dan menyelesaikan persoalan nyata, bersifat interdisipliner, dan melibatkan siswa sebagai pelaku mulai dari merancang, melaksanakan dan melaporkan hasil kegiatan (student centered).

    Model pembelajaran ini bertujuan untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahami pembelajaran melalui investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif

3. Model Problem Based Learning (PBL)

     Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Model pembelajaran ini bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya.

A. Prinsip Proses Pembelajaran PBL

     Prinsip-prinsip PBL yang harus diperhatikan pada dalam penggunaannya meliputi
  • konsep dasar, 
  • pendefinisian masalah, 
  • pembelajaran mandiri, 
  • pertukaran pengetahuan dan penilaiannya. 
B. Kelebihan Problem Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Masalah)
  • Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
  • Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan
  • PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.. 
4. Model Siklus Belajar

    Model siklus belajar awalnya dikembangkan oleh Karlplus dan Thier (1967). Model ini memiliki tiga fase, yaitu fase Eksplorasi (Exploration), fase Penelusuran (Invention), dan fase Penemuan (Discovery). Namun, belakangan oleh Lawson (1988) fase-fase tersebut dinamai fase Eksplorasi (Exploration), fase Pengenalan Istilah (Term introduction), dan fase Penerapan Konsep (Concept application). (Lawson,1995:153)

Berdasarkan jenisnya, siklus belajar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu: descriptive, empirical-abductive, dan hypothetical-deductive. Perbedaan di antara ketiganya terletak pada derajat siswa dalam mencapai penggambaran alam atau dalam menghasilkan hipotesis dan mengujinya.
Baca Juga : Langkah - Langkah Penerapan Model Pembelajaran
    Selanjutnya, model 3E dikembangkan menjadi 5E. Model Siklus Belajar 5E dikemukakan oleh Bybee, terdiri atas 5 fase, yaitu: Engagement (pelibatan siswa), Exploration (eksplorasi/penggalian informasi), Explanation (penjelasan), Elaboration (penjelasan lebih lanjut), dan Evaluation (evaluasi), sebagai implementasi dari teori belajar konstruktivisme dan implementasi pembelajaran sains berbasis inkuiri.

   Sebagaimana dalam suatu siklus manapun, tidak ada akhir dari sebuah proses. Setelah fase elaborasi, maka fase engagement akan dimulai. Evaluasi bukanlah sebagai tahap akhir, kegiatan ini berlangsung pada empat tahap/fase belajar lainnya.

5. Model pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat
    
Model pembelajaran STM atau STS ( sains teknologi sosial ) berorientasi pada konstruktivisme. Model STS yang diajukan oleh Horsley, et.al, (1990:59), Carin (1997:74), dan Yager (1992:15) meliputi empat tahap, yaitu tahap invitasi, tahap eksplorasi, penemuan, dan penciptaan, tahap pengajuan penjelasan dan solusi, serta tahap pengambilan tindakan.

Demikian Model Pembelajaran Saintifik yang dapat kami share semoga bermanfaat. kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar

Seorang Pengajar Pada Sekolah Menengah Atas Di Jawa Tengah dan Penulis Free line Pada Blog.. Blog ini sebagai wujud sumbangsih pada dunia Pendidikan dan sebagai langkah nyata dalam membantu dan melengkapi sumber referensi bagi siapapun yang membutuhkannya. Siap Berbagi, Siap Belajar, dan Pembelajaran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »