4 PERBEDAAN SERTA PERSAMAAN TEORI DAN MODEL PEMBELAJARAN DARI PARA PAKAR PENDIDIKAN

TEORI DAN MODEL PEMBELAJARAN DARI PARA PAKAR PENDIDIKAN

Ketepatan Pendidik dalam memilah serta mempraktikkan teori serta model belajar di dalam kelas jadi salah satu factor berarti dalam keberhasilan belajar peserta didik. Hasil belajar yang baik hanya dicapai lewat proses belajar yang baik pula, perihal tersebut memberikan warna interaksi yang terjalin antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi dalam aktivitas pendidikan dikatakan bernilai edukatif bila ditunjukan guna mencapai tujuan tertentu yang sudah diformulasikan saat sebelum pendidikan dilakukan, dengan harapan dimana materi pelajaran yang di informasikan bisa dikuasai serta dipahami oleh peserta didik secara tuntas.

 

Teori belajar ialah dasar mengembangkan model yang hendak digunakan. Model belajar selaku ketentuan dalam memastikan langkah- langkah yang hendak dilakukan dalam proses belajar yang hendak dilaksanakan.

 

Berikut ini 4 point perbedaaan serta persamaan Teori serta model pembelajaran dari pendapat para pakar yang bisa jadi acuan untuk tenaga pendidik dalam menetapkan tujuan serta metode belajar yang hendak dilaksanakan.

 

1.  Perbedaan serta persamaan teori belajar Bolles dengan teori belajar Bronfenbrenner

 

Perbedaan teori belajar Bolles dengan teori belajar Bronfenbrenner ialah:

 

Konsep teori belajar Bolles secara totalitas terdiri dari 4 konsep ialah ekspektasi, predisposiosi bawaan, motivasi membatasi fleksibilitas respons, serta argument tempat. Dalam teori belajar Bolles lebih menekankan pada kedudukan S- S serta R- S dalam belajar. Misalnya ekspektasi( pengharapan) yakni organisme belajar satu jenis peristiwa yang mendahului peristiwa yang lain. Bolles menarangkan penggondisian klasik selaku ekspektasi yang dipelajarai yang ketika diberi dengan satu stimulus (CS) hendak memunculkan stimulus yang lain ( US). Secara universal urutan temporal serta kontiguitas temporal antara 2 stimuli ataupun antar respons serta konsekuensinya bakal memastikan sifat dari ekspektasi yang dipelajari. Misalnya kilat akan menjadi prediktor bakal munculnya petir. Pada konsep predisposisi bawaan, Bolles menekankan pada ekspektasi S- S serta R- S bawaan dalam analisisnya terhadap sikap. Misalnya S- S bawaan, kala balita menampilkan ketakutan akan suara keras, mengisyaratkan kalau balita tersebut memperkirakan peristiwa bahaya yang diikuti. Sebaliknya contoh R- S bawaan merupakan terbentuknya sikap streotip yang banyak dicoba spesies saat menghadapi makanan, bahaya, serta objek ataupun kejadian biologis yang lain. Pada konsep motivasi membatasi fleksibilitas respons, Bolles menarangkan kalau motivasi serta belajar tidak bisa dipisahkan, akan tetapi seseorang mesti tahu baik itu kondisi motivasional ataupun apa yang secara alamiah dilakukan organisme tersebut dalam kondisi motivasional itu. Serta pada konsep argument tempat, Bolles berkata kalau tempat sangat pengaruhi bentuk- bentuk belajar yang organisme jalani dimana baginya kalau organism mempunyai kewajiban guna belajar atau tidak bergantung pada tempat mereka berada serta gimana mereka membiasakan diri dengan totalitas skema.( Hergenhan dan Olson, 2009: 446- 448& Supardan, 2015: 146).

Sementara itu konsep teori belajar dari Urie Bronfenbrenner lebih difokuskan pada pengaruh konteks sosial dimana anak itu tinggal serta orang- orang yang pengaruhi pertumbuhan anak tersebut. Teori ini terdiri dari 5 sistem area yang merentang dari interaksi interpersonal hingga pada pengaruh kultur yang lebih luas ialah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, serta kronosistem. Dalam teori belajar Urie Bronfenbrenner ini dipaparkan kalau banyaknya konteks sosial yang berhubungan dalam sistem area baik keluarga, teman sebaya, sekolah, tetangga,( sebagai sistem lingkungan yang mikro); ikatan antar sekolah dengan keluarga( selaku mesosistem); dewan sekolah, dewan pengawas taman, sarana rekreasi, serta perpustakaan( selaku ekosistem); nilai serta adat istiadat warga( selaku makrosistem); serta kondisi ekonomi sesuatu warga( selaku kronosistem) sangat pengaruhi mutu serta pertumbuhan dengan model bioekologis.( Supardan, 2015: 278).

 

Persamaan kajian teori belajar Bolles dengan teori belajar Bronfenbrenner

 

Kedua konsep teori belajar tersebut, sama- sama menekankan pada pentingnya kedudukan lingkungan ataupun tempat terhadap perkembangan perilaku organisme. Dimana dalam konsep Bolles organisme bisa belajar ataupun tidak sangat bergantung pada tempat dimana organisme itu terletak. Sebaliknya dalam konsep Bronfenbrenner kalau pertumbuhan organism itu sangat didetetapkan oleh banyaknya interaksi sosial yang terjalin serta dirasakan oleh organisme baik pada sistem area yang mikro, meso, ekosistem, makro serta kronosistem. Maksudnya interaksi dalam sistem area baik keluarga, teman sebaya, sekolah, tetangga; hubungan antar sekolah dengan keluarga; dewan sekolah, dewan pengawas taman, sarana tamasya, serta perpustakaan; sistem nilai serta adat istiadat masyarakat; serta kondisi ekonomi suatu masyarakat sangat pengaruhi mutu serta memainkan kedudukan yang positif dalam pertumbuhan organisme.

2.  Perbedaan dan Persamaan teori belajar refleksiologi Watson, dengan teori belajar koneksionisme Thorndike, dan teori belajar kondisioning operan Skinner

 

 

Perbedaan teori belajar refleksiologi Watson, dengan teori belajar koneksionisme Thorndike, serta teori belajar kondisioning operan Skinner yakni:

Watson merupakan seseorang yang mendukung peran lingkungan terhadap kepribadian seorang. Teori belajar Watson bersandar pada 2 prinsip ialah prekuensi serta resensi. Prinsip prekuensi memberitahukan bahwa semakin sering kita melaksanakan sesuatu respon terhadap stimulus tertentu, semakin cenderung kita menjadikan respon tersebut sebagai stimulus lagi. Begitu pula halnya dengan prinsip resensi ialah semakin baru ataupun kekinian kita melaksanakan respon terhadap stimulus tertentu, semakin cenderung kita melaksanakannya lagi. Dengan demikian maka teori belajar ini lebih mementingkan proses pengualangan serta proses memberikan respon terhadap sesuatu stimulus mesti dilakukan dengan segera. Watson kurang mendukung pada faktor penguatan( reinforcement), imbalan( reward), serta hukuman( punishment) selaku penyebab terbentuknya pembelajaran. Watson berpandangan jika apa yang dapat membuat kita bisa belajar stimulus respon merupakan sekedar sebab keduanya berlangsung beriringan. Maksudnya kalau pembelajaran bisa dihasilkan lewat keberiringan belaka, tanpa penguatan. Pemikiran Watson tentang karakteristik hubungan stimulus respons yakni tergantung pada prinsip prekuensi ataupun latihan serta prinsip kekinian.( Supardan, 2015: 248).

 

Teori belajar Thorndike memberitahukan jika bentuk sangat dasar dari proses belajar merupakan trial and error learning ataupun yang disebut sebagai selecting and connecting. Thorndike mengikhtisarkan jika belajar bersifat bertahap, bukan langsung ke kemampuan substansi. Belajar adalah bersifat langsung serta tidak dimediasi oleh pemikiran serta penalaran. Kalau mamalia termasuk manusia belajar dengan teknik yang sama. Dalam teori Thorndike dikenal istilah hukum kesiapan, hukum latihan, hukum efek, hukum belongingness, serta konsep penyebaran efek. Dalam teori ini mengutamakan reward, reinfoecement, serta punishing yang digunakan pada hukum kesiapan.( Hergenhan serta Olson, 2009: 60; Schunk, 2012: 103; Supardan, 2015: 238).

 

Teori belajar Skinner lebih menekankan pada perilaku yang perlu dicermati ialah respondent behavior( perilaku responden) yang ditimbulkan oleh sesuatu stimulus yang diketahui, serta perilaku operant behavior( perilaku operan) yang tidak disebabkan oleh stimulus yang dikenal, namun dilakukan sendiri oleh organisme. Pengkondisian jenis S yang dinamakan respondent conditioning( pengkondisian responden) lebih menekankan makna pentingnya stimulus. Sebaliknya pengkondisian jenis R yang dinamakan operant conditioning lebih menekankan pada respons. Prinsip universal dari pengkondisian jenis R yakni jika setiap respons yang disertai dengan stimulus yang menguatkan cenderung bakal diulangi, serta stimulus yang menguatkan ialah segala sesuatu yang memperbesar rata- rata terjadinya respons operan, ataupun suatu penguat ialah seluruh suatu yang menaikkan probabilitas terjadinya kembali suatu respons.( Hergenhan serta Olson, 2009: 85; Supardan, 2015: 252).

 

Persamaan Ketiga tokoh baik Watson, Thorndike, serta Skinner yakni berbarengan mengusung teori belajar yang mengedepankan stimulus serta respons. Disamping itu proses pengulangan serta latihan ialah konsep persamaan yang ada dalam teori belajar ini. Maksudnya dalam teori belajar menurut pemikiran Watson tentang karakteristik hubungan stimulus respons ialah tergantung pada prinsip prekuensi ataupun latihan serta prinsip kekinian. Dalam teori belajar Thorndike diketahui dengan hukum kesiapan serta latihan. Sebaliknya prinsip universal dari pengkondisian jenis R dari teori belajar Skinner ialah kalau tiap respons yang diiringi dengan stimulus yang menguatkan cenderung bakal diulangi, serta stimulus yang menguatkan merupakan segala sesuatu yang memperbesar rata- rata terjadinya respons operan, ataupun suatu penguat merupakan segala sesuatu yang meningkatkan probabilitas terjadinya kembali suatu respons. Dengan demikian proses pengulangan serta latihan ialah titik persinggungan dari ketiga teori ini.

 

BACA JUGA : 8 Aliran Teori Pendidikan yang Masih Relevan Untuk diimplementasikan Hingga Kini

 

3.  Persamaan serta perbedaan antara model pembelajaran Joyce dan Weil dengan Arthur L Costa

 

Persamaan antara model pembelajaran Joyce serta Weil dengan Arthur L Costa yakni:

 

Model Arthur L Costa

 

Directive strategies, yang digunakan oleh Arthur L Costa yaitu untuk menekankan pembelajaran dalam meraih tujuan bahwa siswa bisa meniru perilaku serta keterampilan yang dimodelkan maupun diperagakan dan diistruksikan oleh guru. strategi ini diperuntukan buat membantu siswa dalam memperoleh dan menerima fakta gagasan serta keterampilan.

 

Meditative strategies, strategi ini diperuntukan buat membantu siswa meningkatkan penalaran konsep- konsep serta proses- proses pemecahan permasalahan dan disebutkan yang tercantum dalam strategi ini antara lain merupakan strategi induktif serta latihan inkuiri.

 

Generative strategies, strategi ini diperuntukan buat membantu siswa mengembangkan solusi baru, kekuatan berpikir guna memecahkan permasalahan serta kreativitas.

 

Collaborative strategies, strategi ini diperuntukan buat membantu siswa belajar berhubungan dengan orang lain serta kerja sama dengan kelompok. Pembelajar ini merupakan strategi pembelajaranyang mengembangkan jalinan kerjasama dalam mengerjakan tugas- tugas akademik didalam kelas.

( http:// www. academia. edu/ 10138647/ makalah_developing_mind.)

Model Joyce serta Weil

 

Model pemebelajaran sistem perilaku yakni fokus pada perilaku yang dapat diamati. Pembelajaran instruksi langsung, belajar dari simulasi, pembelajaran menguasai.

 

Kelompok model pemrosesan informasi terdiri dari strategi belajar secara induktif, pencapaian konsep- konsep, model induktif kata bergambar, riset ilmiah serta latihan riset, penghafalan, sinektik, serta belajar dari presentasih.

 

Kelompok model pembelajaran personal. Pembelajar senantiasa belajar. Kepribadian mereka merupakan apa yang berhubungan denganlingkungan pendidikan.

 

Kelompok model pengajaran sosial. Model ini meningkatkan apa yang bisa dilakukan bersama- sama serta menciptakan atmosfer akademis dalam masyarakat.

( Joyce, Weil serta Calhoun, 2009).

 

Perbedaannya antara model pembelajaran Joyce serta Weil dengan Arthur L Costa yaitu

 

Model belajar yang diformulasikan oleh Joyce serta Weil tergambar secara rinci dalam makna jika model yang diartikan merupakan lebih bersipat universal dengan berbagai metode pembelajaran yang ada pada tiap- tiap model tersebut. Sedangkan

 

Model pendidikan yang dijabarkan oleh Arthur L Costa lebih khusus sebab tiap strategi yang digunakan langsung focus pada langkah- langkah penerapan yang sipatnya lebih operasional.

 

4.  Perbedaan serta Persamaan Teori belajar Bandura dengan Martin dalam Pengembangan Pembelajaran

 

Perbedaan Teori belajar Bandura dengan Martin dalam Pengembangan Pembelajaran ialah:

Bandura mengembangkan sudut pandang teoretis baru dimana orang dipandang sebagai perantara aktif yang bertindak terhadap lingkungan menurut harapan tertentu, namun individu juga berpegang pada pemahaman ataupun pengetahuan mengenai apa kiranya yang bakal menjadi konsekuensi dari perilakunya. Komponen penting yang lain dari teori belajar Bandura merupakan anggapan kalau pembelajaran pada hakikatnya berlangsung melalui peniruan ataupun pemodelan. Dalam teori belajar observasional ini peniruan jauh lebih kompleks sebab individu dipahami selaku pihak yang memainkan peran aktif dalam menentukan kelompok perilaku mana yang hendak dia tiru serta pula frekuensi dan intensitas peniruan yang hendak dijalankan.( Bandura dalam Supardan, 2015: 264). Sebaliknya teori belajar Martin yang mengusulkan cita- cita pendidikan yang peka gender, yang menuntut pendidik guna senantiasa menyadari pengaruh gender dalam kehidupan pria serta wanita dimana gender tidak menciptakan serta menghasilkan perbedaan.( Supardan, 2015: 305).

 

Sebaliknya persamaan kedua teori ini tergambar dari pentingnya peran lingkungan dalam belajar. Bagi Bandura, orang, lingkungan serta perilaku orang seluruhnya berinteraksi guna menciptakan perilaku berikutnya. Ketiga komponen ini bagi Bandura saling mempengaruhi yakni jika perilaku mempengaruhi lingkungan serta orang, ataupun lingkungan maupun orang mempengaruhi perilaku. Dengan demikian menurut Bandura, orang bisa mempengaruhi lingkungan dengan bertindak dalam tata cara tertentu serta perubahan lingkungan itu pada gilirannya bakal mempengaruhi perilaku orang itu selanjutnya.( Supardan, 2015: 267). Berikutnya Martin melakukan konseptualisasi ulang terhadap sekolah sebagai ekuivalen moral dari rumah, baik dalam belajar untuk hidup dan mempelajari kebudayaan yang didominasi ataupun yang mendominasi. Menurut Martin, lembaga bukan saja di rumah dan sekolah, melainkan pula tempat ibadah, pemukiman, tempat kerja, museum, perpustakaan, gedung tempat pertunjukan, media cetak serta elektronik.( Supardan, 2015: 306).

 

Dengan demikian maka bisa disimpulkan bahwa dalam proses pengembangan model pembelajaran baik pada teori Bandura ataupun pada teori Martin berbarengan mengedepankan faktor lingkungan sebagai salah satu komponen berarti dalam pembelajaran serta pendidikan.

 

Demikian sekilas tentang teori dan model pembelajaran menurut para pakar mudah- mudahan berguna.

 

Previous
Next Post »