Pengertian dan Faktor - Faktor Komunikasi Efektif

       Modal penting untuk hidup bermasyakat dalam mewujudkan kerjasama antar anggotanya adalah komunikasi, karena dari komunikasi yang benar akan terwujudnya maksud yang diharapkan bersama. Berbicara tentang komunikasi marilah kita lihat pengertian komunikasi , mulai dari asal usul katanya (etimologi), komunikasi berasal dari kata Latin Communis atau communico atau communicare yang berarti “sama atau membuat sama”.
Komunikasi 1

       Sedangkan secara terminologi komunikasi dapat diartikan proses menyampaikan pesan dari satu orang kepada orang lain baik perorangan atau kelompok orang (audiens). Pesan yang disampaikan dapat berupa perkataan (verbal ) maupun tulisan/symbol (nonverbal).
     
      Menilik hal diatas maka dalam komunikasi setidaknya terdapat tiga unsur yang terlibat dalam sebuah komunikasi, yang pertama orang yang menyampaikan pesan (komunikator), yang kedua Pesan (Bahasa verbal atau nonverbal), dan yang ketiga orang yang menerima pesan (komunikan). Apabila ketiga unsur tersebut telah terpenuhi dan sebuah pemahaman telah disepakati maka dapat dikatakan telah terjadi komunikasi.

     Dengan demikian komunikasi dikatakan berhasil jika telah terjadi kesamaan makna antara pesan yang disampaikan oleh komunikator dengan pesan yang diterima oleh komunikan, dan disebut dengan komunikasi efektif.
   
Pertanyaan yang timbul adalah siapakah yang paling sering membutuhkan komunikasi yang efektif?.

      Tentu kita akan menjawab semua orang membutuhkannya, betul memang akan tetapi diantara orang atau kelompok orang yang membutuhkan komunikasi efektif adalah seorang pendidik (Guru) atau tutor. Karena kita semua tahu bahwa kunci pokok yang menopang pekerjaan seorang Pendidik adalah komunikasi dengan peserta didiknya (komunikan), agar pesan atau materi pelajaran yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh peserta didiknya.

Oleh karenanya seorang pendidik perlu menguasai dan memahami kajian-kajian teoretis dan praktis mengenai pengelolaan komunikasi yang menyangkut konsep, teknik, dan strategi penerapan komunikasi dalam pembelajaran.
       
      Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana caranya agar komunikasi yang kita lakukan dapat efektif dipahami oleh komunikan?. Pada kesempatan kali ini akan coba kami sampaikan komunikasi efektif dan faktor – faktor apa yang mendukung atau menghambatnya.

A. Pengertian Komunikasi Efektif

        Secara sederhana komunikasi dikatakan efektif apabila pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan sama maknanya dengan pesan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima pesan. Pesan harus dimaknai bersama antara penyampai dan penerima, sebab dengan memahami makna yang sama terhadap suatu pesan, maka tindakan yang diharapkan terhadap efek komunikasi menjadi sama. Perbedaan makna pesan (persepsi) akan menghasilkan salah menafsirkan maksud pesan (misinterpretasion), misinterpretasi akan berakibat misunderstanding, hasilnya akan misaction.

Jadi, secara sederhana komunikasi disebut efektif bila:

Perception -----> interpretation --------> understanding -------> action

Sebaliknya bila komunikasi tidak efektif akan berakibat:

Misperception---- misinterpretation---->misunderstanding ----> misaction

       Jadi yang dimaksud komunikasi efektif adalah komunikasi yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dimana respons atau efek yang terjadi pada komunikan (baik efek kognisi, efek afeksi, atau efek konasi) sesuai dengan tujuan komunikator.

Menurut Stewart L. Tubb dan Sylvia Moss (dalam Mulyana, 2001), komunikasi yang efektif memiliki tanda-tanda antara lain:
  1. Pemahaman. Komunikasi dikatakan efektif apabila penerima pesan (komunikan) memperoleh pemahaman yang cermat atas isi pesan yang disampaikan oleh komunikator.
  2. Kesenangan. Ketika Anda mengatakan: “Halo!”, “Selamat pagi!”, anda mugkin tidak bermaksud mencari informasi dari orang yang anda sapa. Komunikasi seperti ini dimaksudkan untuk memperoleh kesenangan.
  3. Mempengaruhi Sikap. Tindakan mempengaruhi orang lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi kita berusaha mempengaruhi sikap orang lain, dan berusaha agar orang lain tidak hanya memahami ucapan kita, tetapi agar orang mengikuti apa yang kita inginkan.
  4. Hubungan Sosial yang Baik. Manusia adalah makhluk sosial, dia tidak akan bertahan hidup sendirian. Dia butuh orang lain untuk melangsungkan kehidupannya.
  5. Tindakan. Efektifitas komunikasi biasanya diukur oleh tindakan nyata. Misalnya masyarakat berbondong-bondong menyumbangkan harta atau pakaian setelah mengetahui berita betapa mengenaskannya korban bencana longsor.
        Jadi bila diantara lima tanda di atas terpenuhi atau terjadi maka kita dapat mengatakan bahwa komunikasi yang terjadi efektif sesuai kontek yang komunikator harapkan. Demikian halnya dalam konteks pembelajaran Komunikasi akan efektif apabila kelima tanda di atas terpenuhi dan sebagai outputnya terjadi hubungan yang baik diantara guru (pendidik) dan peserta didik. Saling menghargai, menghormati, dan santun dalam berkata dan bertutur kata merupakan salah satu faktor untuk menjalin hubungan yang baik diantara pelaku komunikasi (guru dan peserta didik).

B. Faktor pendukung dan penghambat komunkasi efektif

     Dalam realitanya sering kita jumpai dalam berkomunikasi adakalanya tidak seperti yang kita harapkan. Terlepas dari itu semua banyak faktor mempengaruhi keberhasilan suatu komunikasi. Berikut ini beberapa faktor yang mendukung terjadinya komunikasi efektif, baik dalam keseharian maupun dalam pembelajaran.

1. Faktor Komunikator (Guru/pendidik)

    Keefektifan komunikasi ditentukan oleh etos komunikator. Etos adalah nilai yang ada pada diri seorang komunikator. Etos dibangun oleh unsur kepercayaan (credibilty) dan atraksi (attractiveness). Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator. Kredibilitas dimunculkan oleh komunikan ketika dia melihat komunikator.

2. Faktor Komunikan (Peserta Didik)

    Sebelum menyampaikan pesan, komunikator terlebih dahulu harus memahami siapa komunikan (know your audiences) karena komunikan terdiri dari orang-orang yang hidup, bekerja, dan bermain satu sama lain dalam jaringan lembaga sosial. Komunikan akan mempertimbangkan keuntungan pesan yang disampaikan komunikator pada dirinya.
Dalam konteks pembelajaran, penting bagi guru untuk memahami karakteristik peserta didik. Antara lain:
  • mengetahui kebutuhan peserta didik, 
  • kecakapan yang dimiliki peserta didik, 
  • pengalaman-pengalaman belajar dan pengalaman di luar kelas, 
  • kemampuan berpikir peserta didik, dan 
  • kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik. 
Untuk lebih jelas bagaimana? BACA JUGA cara memahami karakteristik peserta didik

3. Faktor Pesan (Muatan Pelajaran)

     Pesan dibangun oleh dua faktor, yaitu: isi pesan (the content of messasge) dan bahasa (symbol). Supaya pesan mudah diterima dan dipahami oleh komunikan, maka pesan harus diorganisasikan dengan baik, setelah terorganisasi dengan baik pesan harus disesuaikan dengan cara berpikir, kebutuhan, dan kepentingan komunikan.
Rakhmat (1989) memberikan lima tahapan dalam penyususan pesan yang baik, yaitu: Tahap perhatian, tahap kebutuhan, tahap pemuasan, tahap visualisasi, dan tahap tindakan.

    Terlepas dari faktor pendukung di atas, terdapat juga faktor – faktor yang menghambat terjadinya komunikasi efektif baik dalam komunikasi sehari hari maupun dalam pembelajaran. Menurut Yusuf (2010) mengelompokkan hambatan-hambatan dalam komunikasi atau pembelajaran sebagai berikut:
  1. Hambatan pada sumber. Sumber pada suatu proses komunikasi dapat dikatakan sebagai penggagas atau komunikator. Sumber bertindak sebagai manajer (pengelola). Ketidakcakapan manajer dalam mengelola proses komunikasi akan menghambat keberhasilan komunikasi. Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu saja harus mampu mengelola komunikasi dengan baik. Perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang efektif menjadi kunci keberhasilan dalam pembelajaran. Menyiapkan perangkat pembelajaran, menyiapkan media, mengemas konten pelajaran, serta penggunaan bahasa yang tepat merupakan tuntutan yang harus dimiliki oleh guru.
  2. Hambatan pada saluran (channel/media). Hambatan pada saluran lebih pada yang bersifat fisik. Hambata pada saluran terjadi karena adanya ketidakberesan pada saluran komunikasi. Saluran merupakan alat dimana pesan dapat sampai padas asaran (komunikan atau peserta didik). Contoh hambatan ini misalnya aliran listrik mati ketika guru menyampaikan materi melalui computer (LCD), kabel mic terputusputus, tulisan tidak jelas, suara gaduh di ruangan, bahkan suara guru yang parau/serak (sehingga tidak jelas terdengar).
  3. Hambatan pada komunikan/sasaran. Hambatan dalam proses pembelajaran dapat terjadi pada sasaran/komunikan. Dalam konteks pembelajaran hambatan pada sasaran komunikasi diantaranya: kemampuan dan atau kapasitas kecerdasan dari peserta didik; minat dan bakat; motivasi dan perhatian; sensasi dan persepsi; ingatan; dan kemampuan mentransfer pengetahuan serta berpikir kognitif. 
Demikian sekilas tentang komunikasi efektif dan faktor faktornya semoga dapat bermanfaat bagi teman – teman yang memerlukannya, untuk perbaikan artikel yang lain silahkan tingggalkan komentar.

Baca juga Cara Membangun Komunikasi Efektif

Cara Pengelolaan kelas yang harus dikuasai Pendidik

Menjadi suatu keniscayaan sebagai seorang penanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran dan untuk mencapai kondisi optimal dalam proses pembelajaran, maka seorang pendidik harus mampu mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan di kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan peserta didik.
PENGELOLAAN KELAS

Di sisi lain peran pendidik menurut Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator. 

Dengan demikian agar peranannya dapat berjalan optimal maka pengelolaan kelas menjadi salah satu yang urgen, sehingga pengelolaan kelas yang efektif menjadi kunci keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran dengan baik.

Jadi tujuan pengelolaan kelas adalah menciptakan kondisi kelas yang sesuai dengan proses pembelajaran efektif untuk tujuan pembelajaran yang ditargetkan.

Mengingat begitu besarnya peran pengelolaan kelas yang baik dalam pencapaian tujuan pembelajaran, maka pada kesempatan kali ini akan kami coba paparkan secara singkat delapan langkah pengelolaan kelas yang harus dipahami dan dikuasai oleh seorang pendidik. Mulai dari perencanaan sampai dengan bagaimana mengantisipasi timbulnya masalah di dalam kelas.

1. Persiapan yang cermat

Persiapan yang cermat adalah guru harus mengenali benar karakteristik peserta didiknya, karena mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Baik kemampuan keterampilan, pemahaman maupun emosional. Sebagai contoh ada peserta didik yang memiliki kemampuan mengerjakan tugas dengan cepat, dan ada pula yang lambat. Mereka yang memiliki kemampuan mengerjakan tugas dengan cepat, harus diberi aktifitas yang lebih dari lainnya. Ini dimaksudkan agar mereka yang cepat mengerjakan tugas, tidak mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas.

Untuk memahami karakteristik peserta didik lebih dalam baca juga Penguatan Pendidikan Karakter Peserta didik.

2. Terus menjaga dan mengembangkan rutinitas.

Agar peserta didik tidak selalu dibingungkan dengan gaya dan model penugasan yang terus berubah, tidak ada salahnya guru menjaga rutinitas. Kecepatan siswa memahami apa yang akan dilakukan gurunya, akan mampu mengurangi keributan dikelas. Tetapi hal ini perlu di tegaskan bahwa rutinitas yang dimaksud jangan bersifat monoton, karena hal ini akan membosankan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih.

3. Percaya diri dan bersikap tenang

Dengan kepercayaan diri yang tinggi, guru akan mampu mengendalikan peserta didiknya, sehingga proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, karena dengan bersikap tenang dan percaya diri, guru tidak akan mudah panik dan kehilangan keseimbangan, serta tidak akan ragu ketika menghadapi reaksi dan kelakuan peserta didiknya.

4. Profesional dalam bersikap dan bertindak

Sudah seharusnya seorang pendidik harus bertindak dan bersikap profesional. Sehingga tidak hanya mampu melaksanakan tugas pokoknya, namun juga mampu melaksanakan hal-hal yang terkait dengan keberhasilan tugas pokok tersebut, baik dalam bersikap, bertindak dan mengambil langkah sebagai seorang profesional.

5. Mampu mengenali perilaku peserta didik yang tidak tepat

Dalam hal ini guru harus mampu mengenali perilaku tidak tepat dari siswa-siswanya, yakni dalam bentuk apa perilakunya, kapan akan muncul, dan apakah perilaku tersebut sudah memerlukan respon dari guru atau belum.

Untuk memahami perilaku peserta didik baca juga 8 Aliran teori Pendidikan

6. Jangan membuat langkah mundur

Jangan memandang remeh terhadap gangguan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Jika Pendidik tidak bisa mengatasi gangguan kecil, sehingga gangguan itu terus membesar dan mengganggu peserta didik lainnya maka pendidik tidak boleh melangkah mundur. Sebagai antisipasi supaya tidak melakukan langkah mundur, dapat dilakukan antisipasi melalui hal-hal berikut. :

  • Menegur dengan santun peserta didik yang melakukan perbuatan tidak benar dalam kelas, saat sudah mengganggu orang lain.
  • Terus pantau peserta didik yang diberi teguran agar tidak menimbulkan gangguan berikutnya
  • Gunakan otoritas terhadap peserta didik yang melakukan perlawanan, dengan mengedepankan aturan yang sudah disepakati bersama.
  • Tetap berikan bimbingan dan arahan pada peserta didik yang nakal, diluar jam pembelajaran agar tidak mengganggu waktu belajar peserta didik yang lainnya.
  • Tetap tenang dan penuh percaya diri ketika menghadapi dan menyelesaikan masalah peserta didik didalam kelas.

7. Melakukan komunikasi dengan orang tua peserta didik

Komunikasi yang baik dengan orang tua peserta didik dapat membantu pengelolaan kelas, karena semua perlakuan guru terhadap peserta didiknya memperoleh kepercayaan dari orang tuanya. Ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dengan orang tua atau wali peserta didik, terutama kepada orang tua dari peserta didik yang bermasalah.

8. Waspada dengan munculnya masalah
Sebagai langkah preventive dari timbulnya masalah yang mengganggu proses pembelajaran di kelas, tidak ada salahnya pendidik melakukan hal – hal berikut ini :

  • Penataan kelas secara fisik harus terlihat nyaman untuk proses pembelajaran
  • Perangkat pembelajaran (RPP) harus tersusun berbasis pada tingkat satuan pendidikan sesuai intake peserta didik
  • Bersikap tenang, antusias, penuh optimistik, akrab, namun tetap menjaga wibawa keguruannya
  • Tingkatkan profesionalisme agar sesuai dan dengan harapan peserta didik dan mampu membuktikan bahwa dia dapat memenuhi harapan mereka.
  • Sistem yang dikembangkan di sekolah mendukung bagi pendidik untuk mengembangkan pengelolaan kelas yang efektif, seperti sistem administrasi akademik memungkinkan guru untuk mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran, dan terkomunikasikan dengan baik pada orang tua peserta didik.
  • Berpenampilan menarik dan tidak berlebihan sehingga dapat diterima semua peserta didik, kelas dikelola dengan baik, penyampaian pendidik yang jelas dan mudah dipahami, dan membuat suasana yang menyenangkan bagi semua orang di dalam kelas.
Dari delapan langkah tersebut diatas agar tetap bisa terlaksana dengan baik dan sesuai harapan bersama, maka tidak dapat lepas dari prinsip – prinsip pengelolaan kelas seperti menurut Djamarah dan Uzer Usman (dalam Ana Rosilawati, 2008:134-135) prinsip pengelolaan kelas mencakup : 1) Hangat dan Antusias; 2) Tantangan; 3) Bervariasi; 4) Keluwesan; 5) Penekanan Pada hal-hal yang Positif; dan 6) Penanaman Disiplin diri.

Demikian Cara pengelolaan kelas yang dapat kami paparkan kepada rekan, saudara semua, mudah – mudahan dapat bermanfaat dan membantu bagi yang membutuhkan.

Untuk perbaikan artikel silahkan tinggalkan komentar

8 Aliran Teori Pendidikan yang Masih Relevan




Delapan Aliran Pendidikan
Ilmu mendidik teoritis merupakan cara berfikir yang tertuju pada penyusunan persoalan dan pengetahuan seputar pendidikan secara ilmiah yang bergerak dari praktek pendidikan kearah penyusunan suatu sistem pendidikan. Untuk dapat mewujudkan sistem pendidikan yang sesuai dan benar, maka seorang pendidik perlu memahami, aliran – aliran teori pendidikan.

Di bawah ini kami paparkan secara singkat delapan aliran teori pendidikan, yang masih relevan dan sangat berguna untuk difahami sebagai standar dari proses – proses pelaksanaan pendidikan yang diharapkan bersama sesuai tuntutan zaman.

1. Teori pendidikan menurut aliran Naturalisme

Teori Naturalisme diungkapkan oleh seorang filsuf Prancis bernama J.J. Rouseoue. Teori ini mengatakan bahwa setiap anak yang baru lahir pada hakikatnya memiliki pembawaan baik, namun pembawaan baik itu dapat berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. 

Aliran ini juga dikenal sebagai aliran Negativisme.

“Segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam, dan segala sesuatu menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan manusia ”.

Seorang anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, maka anak tersebut harus diserahkan ke alam. Kekuatan alam akan mengajarkan kebaikan-kebaikan yang terlahir secara alamiah sejak kelahiran anak tersebut. Dengan kata lain Rouseoue menginginkan perkembangan anak dikembalikan ke alam yang mengembangkan anak secara wajar karena hanya alam lah yang paling tepat menjadi guru.

2. Teori pendidikan menurut aliran Nativisme

Tokoh utama aliran Nativisme adalah seorang filsuf Jerman bernama Schopenhauer.
Teori aliran ini mengatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki pembawaan atau bakatnya yang akan berkembang menurut arahnya masing-masing. Pembawaan tersebut ada yang baik dan ada yang buruk. 

Oleh karena itu perkembangan anak tergantung dari pembawaan sejak lahir dan keberhasilan pendidikan anak ditentukan oleh anak itu sendiri.

Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Nativisme menekankan kemampuan dalam diri anak sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap pendidikan anak.

Menurut teori ini anak tumbuh dan berkembang tidak dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan baik lingkungan sekitar yang ada maupun lingkungan yang direkayasa orang dewasa yang disebut sebagai pendidikan. Oleh karena itu anak akan berkembang sesuai dengan pembawaannya bukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar.

3. Teori pendidikan menurut aliran Empirisme

Aliran empirisme merupakan aliran yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Aliran ini mengatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan anak yang dibawa semenjak lahir tidak dianggap penting.

Tokoh utama aliran ini adalah John Lock seorang filsuf dari Inggris. Teori aliran ini mengatakan bahwa anak yang lahir ke dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong dan yang belum ditulisi, atau lebih dikenal dengan istilah “Tabularsa” (a blank sheet of paper). Menurut aliran ini anak-anak yang lahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa seperti kertas putih yang polos. Oleh karena itu anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa yang memberikan warna pendidikannya.

Menurut pandangan Empirisme (environmentalisme), pendidikan memegang peranan penting, sebab pendidikan menyediakan lingkungan yang sangat ideal kepada anak-anak. Lingkungan itu akan diterima anak sebagai sejumlah pengalaman yang telah disesuaikan dengan tujuan pendidikan.


4. Teori pendidikan menurut aliran Konvergensi

Konvergensi artinya pertemuan. Pelopor aliran ini adalah William Stern seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman.

Teori ini mengatakan bahwa seseorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga pembawaan buruk. Bakat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuai dengan perkembangan bakat dan pembawaan tersebut. 

Dengan demikian paham/ aliran teori ini menggabungkan antara pembawaan sejak lahir dan lingkungannya yang menyebabkan anak mendapatkan pengalaman.

    William Stern menjelaskan pemahamannya tentang pentingnya pembawaan, bakat dan lingkungan itu dengan perumpamaan dua garis yang menuju satu titik pertemuan. Oleh karena itu teorinya dikenal dengan sebutan konvergensi (memusat ke satu titik).

5. Teori Pendidikan menurut aliran Kognitivisme

 Dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980.

Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.

Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental.

Teori ini digolongkan ke dalam kognitivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini,

6. Teori Pendidikan Menurut Aliran Behaviorisme

Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang member respon terhadap lingkungan.Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.

Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanist, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan,mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.

Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Beberapa tokoh teori ini adalah Pavlov, Watson, Skinner, Hull, Guthrie dan Thorndike.

7. Teori Pendidikan Menurut Aliran Konstruktivisme

Teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa untuk mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna.

Teori ini mencerminkan siswa memiliki kebebasan berpikir yang bersifat eklektik, artinya siswa dapat memanfaatkan teknik belajar apapun asal tujuan belajar dapat tercapai.

8. Teori Pendidikan Menurut Aliran Humanistik

     Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu

mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. 

Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.

Demikian semoga bermanfaat, segala kritik dan saran silahkan tulis di komentar