Cara Menyusun Laporan Pendahuluan BAB 1 pada PTK

Pada BAB I Laporan PTK diberi judul PENDAHULUAN, yang terdiri atas enam bagian, yaitu : latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
Cara Menyusun Laporan Pendahuluan BAB 1 Pada PTK
Laporan Pendahuluan

Dan pada posting kali ini akan saya coba paparkan bagaimana cara menyusun laporan pendahuluan PTK pada BAB I ini. Mulai dari latar belakang masalah sampai dengan manfaat penelitian.

Untuk memahami ke enam bagian tersebut di atas marilah ikuti uraiannya satu per satu di bawah ini

A. Latar belakang masalah

Sebelum membahas lebih lanjut tentang latar belakang masalah, coba jawab terlebih dahulu pertanyaan berikut ini.

Manakah yang harus dipikir terlebih dahulu antara latar belakang masalah atau judul penelitian ?, dan itulah mungkin salah satu pertanyaan yang sering kita temui jika kita akan melakukan suatu penelitian.

Daripada bingung, ikuti terus paparan di bawah ini sampai selesai

Hal yang benar untuk menjawab pertanyaan tadi adalah, bahwa peneliti menjumpai masalah baru kemudian ingin meneliti yang terkait dengan permasalahan itu.
Laporan pendahuluan PTK BAB 1

Pada penelitian tindakan kelas umumnya permasalahan yang perlu diatasi adalah permasalahan yang terkait dengan proses, sekalipun yang tampak di permukaan adalah masalah hasil belajar.

Akan tetapi permasalahan yang ada, umumnya dapat dimasukkan ke dalam kriteria, kelas pembelajaran yang baik dengan 4 kondisi pembelajaran berikut ini, yaitu a). Peserta didiknya aktif, b) motivasi peserta didik tinggi, c) suasana kelas menyenangkan, dan d) hasil belajar baik.
Andaikan permasalahan penelitian tersebut kebalikan dari 4 kondisi di atas , apa yang harus dilakukan peneliti?

Yang jelas peneliti harus berpikir untuk mengatasi permasalahannya. Semua permasalahan tersebut menjadi latar belakang penelitiannya.

Untuk memulai penelitian, peneliti harus merumuskan judul terlebih dahulu.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah peneliti harus merumuskan judul penelitiannya?.

Untuk menjawab pertanyaan tadi, kita perlu bicarakan tentang judul penelitian tindakan. Apa tindakan yang harus dilakukan peserta didik agar kondisi pembelajaran bisa baik seperti yang diharapkan?. Bagaimana kita harus mengaktifkan peserta didik ?. tindakan apakah yang harus kita berikan kepada peserta didik agar suasana belajar menyenangkan dan hasilnya baik?. Metode apakah yang sesuai dengan kompetensi dasar dan mata pelajarannya?.
Misalnya tindakan untuk kompetensi operasi hitung geometri pada mata pelajaran matematika kelas VII SMP, tentu berbeda dengan tindakan kompetensi bela negara untuk mata pelajaran PKn siswa kelas X SMA.

Dengan demikian Prinsip penting dalam menentukan judul penelitian tindakan adalah tindakan itu tidak harus membuat siswa aktif, motivasi tinggi, namun ada hal – hal lain yang perlu diperhatikan oleh peneliti.

Sekali lagi, perlu diingat bahwa tindakan tersebut tidak hanya untuk meningkatkan prestasi belajar saja, tetapi harus ada tujuan yang mengarah ke proses. Misalnya : minat, kreatifitas, perhatian, ketekunan, dan semangat belajar.

Dengan demikian secara tidak langsung , jika sudah menentukan judul penelitian dengan benar, maka kita telah merumuskan latar belakang dengan benar juga.
Oleh karena itu Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh peneliti untuk merumuskan judul penelitian. Yaitu harus memuat What, Who, dan How.

1. What adalah apa yang akan ditingkatkan melalui penelitian tersebut. Seperti kondisi kelas yang akan ditingkatkan dalam permasalahan yang sudah dibahas sebelumnya, yaitu (1) keaktifan siswa, (2) motivasi siswa, (3) suasana pembelajaran, dan (4) hasil belajar. Untuk what ini sebaiknya tidak hanya menunjuk pada hasil saja, tetapi juga proses. Dalam hal ini, what – nya sudah betul karena sudah ada tiga objek yang menyangkut proses. Artinya sesudah menyebutkan proses, baru menuju ke hasil.

2. Who adalah siapa yang akan ditingkatkan.peserta didik kelas berapa, untuk kompetensi dasar apa , mata pelajaran apa. Di bagian ini harus jelas siapa subjeknya dan keterangan tentang apa objeknya.

3. How, menunjuk pada tindakan apa yang harus dilakukan oleh subjek tindakan, yaitu para peserta didik.
Untuk meningkatkan keaktifan peserta didik peneliti dapat meminta peserta didik berdiskusi kelompok. Melalui diskusi ini mungkin peserta didik aktif, tetapi apakah motivasinya tinggi untuk mengikuti?. Bagaimanakah suasana pembelajaran, apakah menyenangkan?. Apakah peserta didiknya bersemangat antusias mengikuti pembelajaran?.

Kita ambil contoh judul penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berbunyi :

Metode Mencongak Berhadiah untuk Meningkatkan Aktivitas, Motivasi, Suasana Menyenangkan dan Hasil Belajar Operasi Hitung 1 sampai dengan 100 Siswa Kelas V Sekolah Dasar

Dari judul tersebut mari kita lihat apakah sudah memenuhi tiga hal yang harus ada pada judul penelitian?

What : aktivitas, motivasi siswa, suasana pembelajaran yang menyenangkan, dan hasil belajar operasi hitung 1 sampai dengan 100.

Who : yang ditingkatkan adalah siswa kelas V Sekolah Dasar.

How : Mencongak berhadiah.

Kita ambil contoh kembali untuk judul PTS, yang berbunyi :

Meningkatkan Kemampuan Menyusun RPP Guru Sejarah Kelas X Sekolah Menengah Atas dengan Cara Pembimbingan Bertahap dan Saling Mengoreksi “


Dari judul tersebut yang berlaku sebagai What adalah Kemampuan menyusun RPP, sedangkan sebagai Who adalah guru sejarah kelas X SMA, dan sebagai How nya adalah dengan Pembimbingan bertahap dan saling mengoreksi.

Dari penjelasan diatas, berarti dengan menyusun judul penelitian tindakan dengan benar maka secara tidak langsung kita tinggal memaparkan latar belakang penelitian tersebut sesuai judul penelitiannya. Karena hingga sekarang masih banyak ditemukan dalam judul penelitian yang masih kurang tepat ,sebab masih kurang atau belum mencantumkan tindakan yang dilakukan atau juga objek yang ditingkatkan hanya baru memuat hasil belajar saja lupa meningkatkan aspek afektif seperti minat, motivasi dan lainnya.

Baca Juga Cara Menyusun Laporan BAB II Kajian Pustaka

Dari judul penelitian yang sudah benar, selanjutnya tinggal kita paparkan latar belakang masalah penelitian, disusun sinkron dengan judul penelitian. Untuk menyusun latar belakang masalah, simaklah juga point - point berikut ini :

1. Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang nyata terjadi di sekolah tersebut atau pada bidang studi
tersebut dengan disertai data faktualnya dan diagnosis dilakukan oleh guru atau tenaga kependidikan lainya di sekolah
2. Masalah yang diteliti bersifat urgen dan mendesak untuk dilakukan pemecahannya.
3. Dapat dilihat, dilaksanakan dari segi biaya,, ketersediaan waktu dan sumberdaya pendukung lainya.
4. Perlu dideskripsikan dan dianalisis secara cermat akar penyebab dari masalah tersebut.
5. Prosedur yang digunakan dalam identifikasi masalah perlu dikemukakan secara jelas dan sistematis
6. Kemukakan perlakuan atau metode pembelajaran yang biasa digunakan secara jelas sehingga dipandang perlu adanya perbaikan.

B. Identifikasi masalah.

Yang dimaksud dengan identifikasi masalah dalam penelitian adalah daftar dari permasalahan yang ada dan muncul sebelum penelitian dimulai.
Permasalahn yang muncul pada identifikasi masalah jauh lebih banyak jika dibanding dengan rumusan masalah yang dicantumkan.

Jika pada rumusan masalah muncul empat point rumusan masalah seperti yang dicontohkan, yaitu : (1) Peserta didik kurang aktif, (2) motivasi belajar peserta didik rendah, (3) suasana belajar kurang menyenangkan, dan (4) hasil belajar yang rendah.

Maka dalam identifikasi masalah harus berupa daftar permasalahan dengan jumlah yang lebih besar atau lebih banyak, kita ambil misal ada tujuh permasalahan, seperti :

1. Dalam mengikuti pembelajaran banyak peserta didik yang bengong dan tidak aktif.
2. Ketika pembelajaran banyak peserta didik yang mengantuk, ini pertanda pembelajaran tidak menarik
3. Suasana pembelajaran tidak menyenangkan, peserta didik kelihatan tidak bersemangat.
4. Motivasi peserta didik rendah, hal ini terlihat lesu saat mengikuti pembelajaran
5. Ada beberapa orang peserta didik tidak memperhatikan ketika pembelajaran berlangsung
6. Ketika ditanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan di antara proses pembelajaran berlangsung
7. Hasil belajar peserta didik kurang tinggi ketika diadakan posttest
8. Dan sebagainya

Dari ketujuh contoh identifikasi masalah tersebut kemudian dijadikan empat rumusan masalah sebagaimana contoh diatas tadi.

Perlu diingat bahwa tidak semua masalah pendidikan dapat didekati dengan PTK. Namun pada saat menuliskan identifikasi masalah jangan asal –asalan, karena bisa jadi penelitian yang dilakukan kurang membawa manfaat. Oleh sebab itu identifikasi masalah merupakan tahap kualitas masalah yang diteliti.

Untuk itu beberapa langkah berikut perlu diikuti dengan PTK.

1. Masalah harus riil dan on the job problem oriented. Artinya, masalah tersebut di bawah kewenangan guru untuk memecahkanya, masalah itu datang dari pengalaman dan pengamatan seorang guru sendiri melalui kegiatan pembelajaran sehari – hari , bukan datang dari pengalaman orang lainnya. Masalah nyata bukan imagginery, sesuai yang ada di kelas, karena harus didukung dengan data empiris seperti data kelas data sekolah observasi dan catatan/jurnal harian guru.

Contohnya : menurut data kelas ditemukan bahwa (a). Sebagian besar peserta didik (75%) tidak dapat menguasai keterampilan matematika dasar, (b). Mayoritas Peserta didik (>85%) tidak berminat belajar bahasa inggris

2. Masalah harus Problematik, artinya masalah tersebut perlu dipecahkan, atau perlu pemecahan yang benar dan cepat. Tidak semua masalah pembelajaran yang nyata adalah masalah – masalah yang problematik karena (a). Pemecahan masalah tersebut kurang didukung literatur atau prasarana birokratis, (b). Pemecahan masalah belum mendesak dilaksanakan, dan (c). Guru tidak mempunyai wewenang penuh untuk memecahkan.
Misalnya mayoritas siswa tidak dapat membaca buku teks bahasa Indonesia. Masalah tersebut bisa menjadi masalah yang kurang problematik bagi guru biologi, karena masalah tersebut lebih tepat menjadi tanggung jawab guru bahasa Indonesia.

3. Masalah harus memberi manfaat yang jelas. Maksudnya pemecahan masalah tersebut akan memberi manfaat yang jelas atau nyata. Untuk itu pilihlah masalah penelitian yang memiliki asas manfaat secara jelas. Untuk uji asas manfaat tersebut lontarkan beberapa pertanyaan berikut : (a) apa yang akan terjadi apabila masalah tersebut dipecahkan. (b) apa resiko terburuk apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan?? Dan (c) tujuan pendidikan mana yang tidak tercapai, apabila masalah tersebut tidak segera dipecahkan?. Jawaban terhadap pertanyaan - pertanyaan tersebut dapat membimbing pada penemuan masalah penelitian yang mendesak untuk dipecahkan .

4. Masalah harus feasible (dapat dipecahkan atau ditangani). Maksudnya jika dilihat dari sumber daya peneliti (waktu, dana, dukungan birokrasi, dan sebagainya) apakah masalah tersebut dapat dipecahkan. Dengan kata lain, tidak semua penelitian yang harus real problematik dan manfaatnya jelas, selalu feasible. Untuk itu harus dipilih masalah – masalah yang feasible dengan pertimbangan faktor sumber daya peneliti seperti di atas.

C. Batasan masalah.

Batasan masalah dibuat untuk memfokuskan penelitian. Tujuh identifikasi masalah yang telah dibuat diatas, dipertimbangkan lagi terlalu banyak, sehingga perlu mengurangi beberapa masalah, seperti, banyak yang menguap, main Hp dan lainnya tidak menjadi prioritas perhatian peneliti, tetapi kemudian memfokuskan pada empat masalah yang ditindaklajuti dengan penelitian tindakan, yaitu (1) keaktifan siswa, (2) motivasi siswa, (3) suasana pembelajaran, dan (4) hasil belajar selama dan sesudah proses pembelajaran. Dengan Keempat masalah ini, berarti peneliti telah melakukan batasan masalah.

D. Rumusan masalah.

Biasanya berupa pertanyaan atau kalimat tanya yang jawabannya akan tertuliskan di BAB V yang berupa simpulan. Isi pertanyaan rumusan masalah terkait dengan yang diberi tindakan.
Rumusan masalah dibuat berdasarkan batasan masalah, yaitu masalah dari identifikasi masalah yang sudah dibatasi tadi. Walaupun ada penelitian yang menuliskan pertanyaan penelitiannya (rincian rumusan masalah) ditulis di akhir BAB II, kajian pustaka.

Atau dapat juga dalam menyusun rumusan masalah yang berupa pertanyaan dengan memperhatikan kata tanya what, when, who, where, why, dan how much.
Di bawah ini, Contoh rumusan masalah, sebagaimana pada contoh judul penelitian di atas.

1. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat Peserta didik lebih aktif?
2. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat motivasi Peserta didik yang l berprestasi
meningkat?
3. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat prestasi belajar Pesera didik lebih baik lagi?
4. Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat suasana pembelajaran menyenangkan Pesera didik?

E. Tujuan penelitian.

Ibarat dua buah mata, yaitu mata kiri dan mata kanan, keduanya simetris atau serupa (bukan sama persis). Demikian juga antara Rumusan Masalah dengan tujuan penelitian, keduanya serupa, sehingga dari rumusan masalah yang jumlahnya empat, maka tujuan penelitian juga harus ada empat juga, yaitu :

1. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat Peserta didik lebih aktif?
2. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat motivasi Peserta didik yang
berprestasi meningkat ?
3. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat Peserta didik lebih aktif?
4. Untuk mengetahui Apakah melalui metode mencongak berhadian dalam perkalian 1 sampai dengan 100 dapat membuat prestasi belajar Peserta didik
lebih baik lagi?

F. Manfaat penelitian.

Pada bagian ini menjelaskan apa saja atau siapa saja yang akan memperoleh manfaat dari penelitian ini. Dengan demikian , rumusan manfaat penelitian seperti uraian berikut :

1. Bagi guru. :

a. Mendapat kesempatan dalam mempraktikkan teori belajar, bahwa metode yang digunakan cocok untuk meningkatkan prestasi belajar peserta
didiknya, dan
b. Mempunyai pengalaman melaksanakan penelitian tindakan, sehingga tidak ragu lagi dalam melaksanakan PTK

2. Bagi Peserta didik :

a. Mengalami pembelajaran dengan metode yang menyenangkan
b. Mengalami mendapatkan prestasi belajar yang tinggi dan cukup memuaskan, dan
c. Mendapatkan pengalaman aktif dalam pembelajaran

3. Bagi sekolah :

a. Bangga mempunyai guru yang sudah dapat melaksanakan PTK
b. Bangga mempunyai guru yang mampu melaksanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan, dan
c. Bangga mempunyai peserta didik yang mempunyai prestasi yang tinggi.

Demikian dahulu ulasan mengenai cara menyusun laporan pendahuluan BAB I pada PTK, semoga bermanfaat bagi Anda Semua. Kalau ada pertanyaan atau masukan silahkan tuliskan di kolom komentar

Budaya Sekolah

leo.cash verefication: dbd22ba3bd0df8f385bdac3e9f8be207.html
Budaya sekolah (Organisasi) sering disinonimkan dengan adat istiadat
Budaya Sekolah
Bagian terpenting dari terbentuknya akhlakul karimah salah satunya adalah lingkungan tempat kita berdomisili atau melakukan aktivitas hidup sehari – hari. Pada anak yang memasuki usia sekolah maka bagian dari lingkungan yang mewarnai akhlak yang dimiliki adalah lingkungan sekolah.

Dengan demikian lingkungan sekolah yang ikut andil dalam proses pendidikan anak bangsa ini harus memiliki budaya sekolah dan iklim sekolah yang memotivasi peserta didiknya untuk selalu melakukan perbuatan yang terpuji dan tidak melanggar hukum positif maupun agama serta norma masyarakatnya.

Pada posting sekarang ini akan saya coba paparkan tentang Budaya sekolah dan iklim sekolah yang perlu di pahami bersama oleh semua orang sebagai bagian dari proses pendidikan dan sumber pendidikan.

Apa yang dimaksud Budaya?

Budaya (kultural) menurut kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai adat istiadat, pikiran, sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah.

Dalam pengertian sehari –hari biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi, dalam hal ini, tradisi diartikan sebagai ide – ide umum, sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang tampak dari perilaku sehari – hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.

Dalam organisasi (lembaga pendidikan), pengertian budaya diuraikan sebagai berikut :

Pertama budaya adalah tindakan, yaitu keyakinan dan tujuan yang dianut bersama , yang dimiliki oleh anggota organisasi yang potensial membentuk perilaku mereka dan bertahan lama meskipun sudah berganti anggota. Dalam lembaga pendidikan contohnya berupa tindakan saling menyapa, saling menghargai, toleransi dan lainnya.

Kedua budaya adalah norma perilaku, yaitu cara berperilaku yang sudah lazim dipakai pada sebuah organisasi yang bertahan lama karena semua anggotanya mewariskan perilaku tersebut kepada anggota baru.

Dalam lembaga pendidikan, perilaku ini berupa semangat untuk selalu giat belajar, bertutur sapa santun, selalu menjaga kebersihan, dan lain sebagaianya.

Yang pada prinsipnya terjadi interaksi antar individu sesuai peran dan fungsinya masing – masing dalam rangka mencapai tujuan bersama, sesuai dengan tatanan nilai yang telah dirumuskan dengan baik yang terus berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku keseharian melalui proses interaksi dalam kurun waktu yang panjang dan efektif.

Dalam kurun waktu yang panjang inilah perilaku tersebut akan membentuk suatu pola budaya tertentu dan unik antara satu organisasi dengan organisasi lainnya.

Dari sinilah lahir karakter khusus suatu lembaga pendidikan (budaya) yang sekaligus menjadi pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya.

Untuk memahami lebih jauh tentang Budaya sekolah, marilah kita kaji lebih lanjut tentang hal – hal berikut ini :

A. Perbedaan Budaya dan Iklim Sekolah
B. Definisi Budaya Organisasi
C. Tingkat Budaya Organisasi
D. Iklim Organisasi,dan
E. Budaya Malu Bagi seorang Guru.

A. Perbedaan Budaya dan Iklim Sekolah.


Antara budaya dan iklim organisasi adalah dua perspektif kontemporer ,dan berguna untuk memeriksa karakter khas sekolah, karena keduanya sebagian bersaing, sebagian saling melengkapi.

Budaya organisasi ini terwujud dalam norma –norma, nilai – nilai bersama, dan asumsi dasar, masing – masing terjadi pada tingkat yang berbeda abstraksi.

Budaya organisasi yang kuat dapat meningkatkan atau sekaligus menghambat efektivitas organisasi, sedangkan budaya yang berbeda dapat saling mendukung bila dapat mengatasi kendala lingkungan budaya sekolah.

Budaya sekolah dapat dipahami dengan menganalisis simbol – simbol , artefak, situs – situs, upacara, ikon, pahlawan, mitos, ritual, dan legenda.
Seringkali yang paling penting tentang organisasi bukanlah peristiwa yang terjadi tapi makna apa yang didapat dibalik peristiwa itu.
Setiap- sekolah mempunyai kekhasan budaya yang holistik, kepercayaan penuh dan kontrol. Budaya dan kepercayaan dapat mendorong prestasi peserta didik, dan budaya kontrol humanistik akan ikut mendukung pengembangan sosio-emosional peserta didik.

Sedangkan Iklim organisasi merupakan kualitas sekolah yang terwujud dalam persepsi kolektif guru menuju perilaku organisasi.
Iklim sekolah dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu keterbukaan perilaku dan sehatnya hubungan interpersonal .

Setiap perspektif ini dapat diukur secara akurat dengan menggunakan instrumen survey yang tepat. Keterbukaan sekolah berkaitan dengan persepsi organisasi terhadap efektivitas sekolah dan prestasi peserta didik.

Tidak ada cara yang cepat dan sederhana untuk mengubah budaya atau iklim organisasi sekolah, tetapi perencanaan jangka panjang dianggap lebih cocok sebagai pendekatan untuk perubahan itu termasuk pengubahan norma, daripada rencana jangka pendek. Ditunjang dengan strategi pelengkap untuk perubahan organisasional yaitu pendekatan berfokus pada pertumbuhan dan rencana perubahan norma.

B. Definisi Budaya Organisasi.

Tidak dapat kita temui definisi yang utuh untuk budaya dari antropologi yang ada, sehingga gagasan budaya membawa kompleksitas dan kebingungan konseptual. Dengan demikian kita akan menemukan berbagai definisi beragam tentang budaya organisasi. Sebagai pertimbangan ikuti definisi menurut para pakar berikut ini :

1. William Ouchi (1981:41) mendefinisikan organisasi sebagai budaya; simbol, upacara, mitos yang mengkomunikasikan nilai – nilai yang mendasari dan keyakinan organisasi itu untuk karyawannya.

2. Henry Mintzberg (1989:98) mengacu pada kebudayaan sebagai organisasi ideologi, atau tradisi dan kepercayaan organisasi yang membedakannya dari organisasi lain dan infus kehidupan tertentu ke dalam kerangka strukturnya.

3. Stephen Robilan (1998:595) mendefinisikan budaya organisasi sebagai suatu sistem makna bersama yang diselenggarakan oleh anggota yang membedakan organisasi dari organisasi lain.

4. Edgar Schein (1999) berpendapat bahwa budaya harus disediakan untuk tingkat yang lebih dalam asumsi dasar, nilai – nilai, dan keyakinan yang menjadi bersama dan dihargai agar organisasi menjadi sukses.

Dari definisi – definisi diatas maka dapat didefinisikan budaya organisasi adalah suatu sistem yang harus disediakan berdasarkan tradisi dan kepercayaan serta ideologi sebagai suatu makna nilai – nilai bersama untuk karyawannya yang menjadi pembeda organisasi dari organisasi lainnya.

C. Tingkat Budaya Organisasi.

Sebuah perspektif pada budaya akan muncul ketika norma – norma perilaku yang digunakan menjadi elemen dasar dari budaya itu. Norma – norma biasanya tidak tertulis dan harapan informal akan terjadi dibawah pengalaman.

Norma akan secara langsung mempengaruhi perilaku. Norma itu jauh lebih terlihat daripada baik nilai – nilai atau asumsi tadi, akibatnya norma itu akan menyediakan sebuah cara yang jelas untuk membantu orang memahami aspek budaya dalam kehidupan organisasi.

Bila kita cermati perubahan perilaku organisasi, maka penting untuk mengetahui dan memahami norma – norma budaya itu.
Norma adalah fenomena universal. Mereka sungguh penting, rumit tapi juga sangat lunak. Karena mereka bisa berubah begitu cepat dan mudah, dengan menyajikan sebuah kesempatan besar untuk orang yang tertarik dalam perubahan.

Setiap kelompok , tidak peduli pada ukurannya, setelah memahami dirinya sebagai sebuah entitas budaya, dengan merencanakan norma – norma sendiri, maka akan dapat menciptakan orang – orang positif untuk mencapai tujuan dan modifikasi atau membuang yang negatif.

Norma menentukan cara orang berpakaian dan berbicara, menanggapi otoritas, konflik tekanan, dan cara orang – orang dengan keseimbangan konflik diri dengan kepentingan organisasi.
Upacara sebagai bagian dari penanaman Budaya Sekolah dan Iklim Sekolah
Upacara Bendera
Contoh norma seperti berikut : tidak mengkritik rekan – rekan guru kepada peserta didik atau orang tua siswa.
Secara singkat, norma – norma kelompok kerja mendefinisikan bagian utama dari budaya organisasi.
Pada tingkat menengah abstraksi, budaya didefinisikan sebagai kepercayaan dan nilai bersama.
Nilai adalah keyakinan dari apa yang diinginkan. Mereka mencerminkan asumsi yang mendasari budaya , dan membentuk analisis.
Nilai sering mendefinisikan apa yang anggota harus lakukan untuk menjadi sukses dalam organisasi.
Ketika kita meminta orang – orang untuk menjelaskan mengapa mereka berperilaku tertentu, kita dapat mulai menemukan nilai – nilai utama organisasi.

Nilai – nilai bersama mendefinisikan karakter dasar organisasi dan memberikan organisasi suatu kepemilikan identitas.
Jika mereka (anggota organisasi) tahu apa makna nama mereka, tahu apa yang harus menjunjung tinggi standar mereka,maka mereka akan cenderung membuat keputusan yang akan mendukung standar tersebut, dan akan cenderung merasa menjadi bagian dari organisasi serta kehidupan organisasi menjadi bermakna penting.

Budaya yang kuat akan dapat mempromosikan kekompakan loyalitas, dan komitmen yang pada gilirannya mengurangi kecenderungan bagi anggotanya.

Berikut ini adalah fungsi penting yang dijalankan oleh budaya organisasi :

 Budaya berfungsi mendefinisikan batas, itu menciptakan perbedaan di antara organisasi.
 Budaya organisasi menyediakan dengan identitas.
 Budaya memfasilitasi pengembangan komitmen untuk kelompok
 Budaya meningkatkan stabilitas sistem sosial.
 Budaya adalah perekat sosial yang mengikat organisasi, ia menyediakan standar yang sesuai untuk perilaku
 Budaya berfungsi untuk membimbing dan membentuk sikap ,dan perilaku anggota organisasi. Hal ini penting untuk diingat , bahwa budaya yang kuat, yang dapat berupa emosional atau disfungsional yang mempromosikan atau sebaliknya menghambat efektivitas.

Sejumlah studi dari perusahaan bisnis menunjukkan bahwa, terdapat elemen – elemen utama yang terpenting dalam membentuk budaya organisasi, yaitu :
• Inovasi , maksudnya sejauh mana karyawan diharapkan untuk menjadi kreatif dan berani mengambil resiko.
• Stabilitas, artinya sejauh mana kegiatan berfokus pada status quo ketimbang perubahan.
• Perubahan terhadap detail, artinya uraikan yang ada perhatian untuk presisi dan detail.
• Hasil Orientasi, artinya sejauh mana manajemen menekankan hasil.
• Orientasi Orang, artinya sejauh mana keputusan manajemen sensitif terhadap individu.
• Orientasi Tim, maksudnya tingkat penekanan pada kolaorasi dan kerja sama tim.
• Agresivitas, artinya sejauh mana karyawan diharapkan untuk menjadi kompetitif daripada pindah kerja.

Itulah tujuh point utama yang terpenting untuk membentuk budaya organisasi.

D. Iklim Organisasi.

Tidak seperti budaya, dari awal iklim organisasi telah terikat pada proses alat ukur iklim, berakar dari sejarah dalam disiplin psikologi sosial dan psikologi industri, bukan dalam antropologi atau sosiologi.
Ekstrakurikuler Kepramukaan 
Pada awalnya iklim organisasi dipahami sebagai sebuah konsep umum untuk mengekspresikan kualitas abadi kehidupan organisasi.
Sebagaimana Renato Taguiri (1968:23) mencatat bahwa “ konfigurasi tertentu karakteristik abadi dari ekologi, lingkungan, sistem sosial, dan budaya akan merupakan iklim, banyak sebagai konfigurasi tertentu dari karakteristik pribadi merupakan kepribadian.

Demikian pula BH Glimer (1966: 57) mendefinisikan iklim organisasi sebagai karakteristik yang membedakan organisasi dari organisasi lain, dan yang mempengaruhi perilaku orang dalam organisasi.

Dari dua hal di atas Marshal Poole (1985) merangkumnya menjadi “ iklim organisasi berkenaan dengan unit besar, itu mencirikan sifat dari seluruh organisasi atau sub unit utama.

Dengan demikian iklim organisasi menggambarkan suatu unit organisasi , timbul dari praktek rutin yang penting bagi organisasi dan anggotanya. Sehingga iklim organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku anggotanya.
Jika dikaitkan dengan lembaga pendidikan, maka iklim sekolah adalah istilah luas yang mengacu pada persepsi guru dengan lingkungan kerjanya, organisasi formal, organisasi informal, peran peserta didik dan pengaruh kepemimpinan organisasi itu.
Sederhananya, set internal karakteristik yang membedakan sekolah tersebut dengan sekolah lainnya dan pengaruh perilaku anggota masing – masing sekolah ialah iklim organisasi sekolah.

Lebih khusus iklim sekolah yaitu kualitas yang relatif abadi dari lingkungan sekolah yang didasarkan pada persepsi kolektif perilaku anggotanya.
Oleh karenanya suasana sekolah akan berdampak besar pada perilaku organisasi sekolah dan juga administrator dapat berpengaruh signifikan positif pada perkembangan, dari kepribadian sekolah, yang penting untuk menggambarkan dan menganalisis iklim sekolah.
Sebagai contoh, misalnya kegiatan MOS atau sekarang dikenal dengan MPPD (masa pengenalan peserta didik baru) adalah suatu upaya bagi organisasi sekolah untuk memperkenalkan budaya sekolah dan iklim sekolah yang baru bagi para peserta didik. Sehingga dalam kegiatan MPPD tersebut memiliki tujuan – tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut antara lain :

1. Memperkenalkan peserta didik pada lingkungan fisik sekolah yang baru mereka masuki.
2. Memperkenalkan peserta didik pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib yang berlaku di dalamnya
3. Memperkenalkan peserta didik pada keorganisasian.
4. Memperkenalkan peserta didik pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah sekolah
5. Memperkenalkan peserta didik pada budaya yang eksis di sekolah tersebut
6. Dan seterusnya...

Dari contoh tujuan diatas menggambarkan bahwa budaya dan iklim sekolah memberikan warna tersendiri dari kepribadian anggota sekolah dan membedakan dari sekolah lainnya.

Dan sebagai bagian yang ikut mewarnai kepribadian sekolah dalam iklim sekolah serta budaya sekolah, guru sangat berpengaruh dalam pembentukanya. Oleh karenanya budaya yang di bawah ini, patut kita pahami bersama.

E. Budaya Malu Bagi Seorang Guru.

Menghilangkan budaya malu yang bukan pada tempatnya akan membuat seorang guru semakin profesional dalam bersikap.
Sebaliknya menumbuhkan budaya malu dalam hal yang menghambat produktivitas akan membuat guru menjadi contoh bagi peserta didiknya.

Apa saja Budaya malu yang mesti dihilangkan dan budaya malu yang mesti ditumbuhkan ???

Simaklah uraian berikut ini :

Budaya malu yang mesti dihilangkan dari seorang guru :

• Budaya Malu bertanya dan malu memberi ide saat rapat.
• Budaya malu untuk mempertanyakan dengan cara yang baik mengenai kebijakan sekolah yang guru merasa kurang tepat.
• Budaya malu belajar pada yang lebih muda, dari yang lebih yunior atau dari peserta didik itu sendiri.
• Budaya malu ketika meminta maaf kepada peserta didik.

Budaya malu yang mesti ditumbuhkan dari seorang guru :

• Malu terlambat datang ke sekolah, saat rapat dan saat dead line pengumpulan administrasi
• Malu mengajar tanpa persiapan di kelas,
• Malu melihat kondisi kotor di sekolah dan lingkungan kelas
• Malu menyalahkan peserta didik sebagai biang keributan tanpa mawas diri tentang seberapa menariknya cara kita mengajar.
• Malu berpakaian seenaknya datang ke sekolah
• Malu menggunakan LKS yang tidak jelas juntrungannya.
• Malu tidak melaksanakan kewajiban dan tugas pokoknya sebagai guru
• Dst.....

Dan masih banyak lagi lainnya yang menandakan kita kurang profesional dan sebagai figur yang tidak patut dicontoh bagi peserta didiknya.

Sampai disini dulu pembahasan mengenai Budaya Sekolah sebagai suatu organisasi, semoga dapat memberikan kebaikan dan bermanfaat bagi Anda semua yang memerlukannya.

Psikologi Mengajar

dalam posting sekarang ini akan saya coba sampaikan tentang Psikologi Mengajar
Psikologi Mengajar
Berbicara tentang pembelajaran tidak dapat terlepas dengan mengajar, karena dalam pendidikan formal keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan.

Dalam menjalani proses ini sangat melibatkan faktor psikis/kejiwaan dari para pelakunya. Oleh sebab tersebut pada posting sekarang ini akan saya coba sampaikan tentang Psikologi Mengajar, sebagai bagian dari keberhasilan pembelajaran, sehingga pada gilirannya dapat mencapai tujuan dari pendidikan.

Pembentukan manusia Indonesia sebagaimana disebutkan dalam tujuan SISDIKNAS pada pasal 8, yaitu “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. “. Dapat dicapai melalui Pendidikan.

Pendidikan itu sendiri diwujudkan melalui proses pengajaran (pembelajaran), baik dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Proses ini berdasarkan interaksi antara guru dengan peserta didiknya dalam proses pengajaran (pembelajaran) yang bersifat edukatif.

Agar Pembelajaran dapat berlangsung efektif, guru harus mampu menjadikan proses pembelajaran yang menyenangkan serta dinamis dan tidak monoton (pembelajaran yang baik). Oleh karena itu guru harus dapat menggunakan metode yang bervariatif, tidak banyak ceramah dan membuat peserta didik aktif dalam menerima pelajaran.

Untuk memahami Psikologi Mengajar tersebut mari kita pahami empat hal di bawah ini :

A. Ciri – ciri proses pembelajaran yang efektif :

1. Berpusat pada siswa.

Secara umum dalam kegiatan pendidikan, peserta didik menjadi subjek utama. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran siswa menjadi prioritas utama perhatian guru. artinya segala bentuk aktivitas diarahkan untuk membantu perkembangan peserta didik.
Dengan demikian keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam sejauh mana perwujudan diri peserta didik sebagai pribadi mandiri, pelajar efektif, dan pekerja yang produktif.

2. Interaksi edukatif antara guru dengan siswa

Dalam proses pembelajaran hendaknya guru tidak hanya memberikan bahan yang harus dipelajari, akan tetapi guru dapat berperan sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan pribadi peserta didik. Artinya terjadi interaksi edukatif antara guru dengan siswa, tegasnya antara guru dan peserta didik terjalin hubungan yang mendidik dan mengembangkan.
Dengan kata lain interaksi antara guru dengan peserta didik berdasarkan sentuhan – sentuhan psikologi,yaitu adanya pemahaman antara guru dengan peserta didiknya. Karena dalam suasana seperti ini dapat ditumbuhkan rasa percaya diri.

3. Suasana demokratis

Suasana demokratis dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran melalui hubungan antara guru dengan peserta didik dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih mewujudkan hak dan kewajibannya.
Dalam suasana demokratis, semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensi yang dimiliki, sehingga dapat membangun rasa percaya diri, yang pada gilirannya dapat berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kemampuan masing – masing peserta didik.

4. Metode yang variatif dan sesuai.

Sesuai tujuan dan bahan yang diajarkan hendaknya metode mengajar yang digunakan guru bervariasi, melihat keperluannya dan sumber daya yang tersedia. Artinya seorang guru juga harus kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada dalam mendesain pembelajaran dan metode mengajar yang dilakukan.

Dalam Suasana seperti ini akan membuat peserta didik lebih senang dan bersemangat dalam belajar, sehingga hasil belajar yang dicapai akan lebih optimal dan tercipta suasana belajar yang tidak membosankan.

5. Guru Profesional.

Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian yang memadai, memiliki tanggung jawab yang tinggi, serta memiliki rasa kebersamaan dengan rekan sejawatnya. Karena dengan profesionalisme, guru mencintai pekerjaannya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Bahkan mereka mampu melaksanakan fungsi – fungsinya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab mempersiapkan peserta didik yang memiliki peran di masa depan.

Dengan demikian proses belajar mengajar yang efektif hanya mungkin terwujud apabila dilakukan oleh profesional dan dijiwai oleh profesionalisme.

6. Materi relevan dan bermanfaat.

Dalam hal ini tugas guru adalah mengolah bahan ajar yang akan diajarkan kepada peserta didik secara tepat dan bermakna.
Materi yang diajarkan bersumber dari kurikulum yang telah dibakukan dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan lingkungannya, sehingga memberikan makna dan manfaat bagi peserta didik.

Dengan harapan membuat peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas dan proses pembelajaran di kelasnya.

7. Lingkungan yang kondusif
Faktor lingkungan baik di sekolah maupun di luar sekolah sangat berpengaruh terhadap belajar mengajar di sekolah tersebut. Oleh sebab itu lingkungan yang kondusif sangat mempengaruhi dan menunjang proses belajar mengajar secara efektif.

Dalam hal ini Peran sekolah dan guru sangat diharapkan mampu membina kerja sama dengan pihak – pihak di luar sekolah, terutama dengan keluarga peserta didik dan steak holder setempat.

8. Sarana belajar yang menunjang

Sarana dan prasarana belajar yang memadai dan lengkap sangat menunjang berlangsungnya proses belajar dan mengajar yang efektif.
Yang termasuk kedalam sarana dan prasarana antara lain, alat bantu mengajar, ruang kelas, ruang laboratorium,lapangan olah raga, aula, perpustakaan dan sebagainya.
Sarana Sekolah Jaman dulu
B. Peranan Guru dalam Pembelajaran

Yang dimaksud peranan guru adalah keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru mempunyai peran yang cukup luas, baik di sekolah, di dalam keluarga, maupun di masyarakat.
Di bawah ini ada tujuh peran guru dalam bidang pendidikan, antara lain :

1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai bermacam - macam aktivitas pendidikan.
2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa kepentingan dan suara masyarakat dalam pendidikan
3. Seorang pakar pada bidangnya, dalam arti guru harus menguasai materi yang diajarkan.
4. Penegak disiplin, seorang guru harus menjaga agar siswa – siswanya mampu melaksanakan disiplin.
5. Pelaksana administrasi pendidikan, artinya guru bertanggung jawab agar proses belajar dan mengajar dapat berlangsung dengan baik dan efektif.
6. Pemimpin generasi muda, seorang guru bertanggung jawab mempersiapkan dan mengarahkan peserta didik sebagai generasi muda pewaris masa depan
7. Penerjemah kepada masyarakat, dalam hal ini guru berperan sebagai penyampai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

Sedangkan dari sudut pandang Psikologi guru berperan sebagai :

1. Pakar psikologi pendidikan, maksudnya seorang guru harus memahami psikologi pendidikan dan mampu menerapkannya dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
2. Seniman dalam hubungan antar manusia, maksudnya seorang guru mesti memiliki kemampuan menciptakan keadaan hubungan antar manusia, dalam hal ini dengan peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan.
3. Pembentukan kelompok, dalam arti mampu membentuk kelompok dan interaksi serta aktivitas sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Inovator, artinya seorang guru mampu menciptakan suatu pembaharuan untuk membuat sesuatu yang lebih baik.
5. Petugas kesehatan mental, maksudnya seorang guru bertanggung jawab atas terciptanya kesehatan mental peserta didiknya.

C. Kompetensi Guru

Secara umum kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan oleh seorang guru yang berkaitan dengan tugas tertentu.
Jadi kompetensi guru adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat menunjukkan perilaku sebagai guru.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi 4 kompetensi, yaitu ;

1. Kompetensi Pedagogik, adalah kompetensi yang menyangkut kemampuan memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi, dan mengenbangkan potensi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian, adalah kompetensi yang menyangkut kemampuan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

3. Kompetensi Sosial, adalah keterampilan untuk berinteraksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial, dalam arti kemampuan yang diperlukan untuk berhasil dalam hubungannya (komunikasi) dengan orang lain ( peserta didik, teman sejawat, tenaga kependidikan, orang tua murid dan masyarakat sekitar).

4. Kompetensi Profesional, adalah kompetensi yang berhubungan dengan aspek keahlian pada bidangnya, tanggung jawab atas tugasnya, dan kebersamaan dengan rekan sejawat serta lingkungannya serta antusias terhadap pemanfaatan teknologi dan pengembangan profesinya. Secara sederhana merupakan kemampuan mewujudkan diri sebagai guru profesional.


D. Profesionalisme Guru

Guru profesional yaitu guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan dengan didukung oleh etika profesi yang kuat.
Pada dasarnya kerja profesional guru merupakan perwujudan profesionalitas seorang guru yang secara sadar dan terarah dalam melaksanakan pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Kematangan profesional seorang guru ditandai dengan perwujudan guru yang memiliki :

1. Keahlian pada bidangnya
2. Rasa tanggung jawab profesi
3. Rasa kesejawatan yang tinggi terhadap rekan seprofesi.

Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian pada bidangnya, baik secara keilmuan dan menguasai keterampilan metodologinya dengan karakteristik memiliki rasa tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa, dan Negara, lembaga tempat mengabdi, organisasi profesi, dan kode etik jabatannya.

Kemudian Profesionalisme guru mempunyai makna penting, hal ini karena ;

1. Memberikan jaminan perlindungan kesejahteraan bagi masyarakat umum.
2. Merupakan suatu metode untuk memperbaiki profesi dan meningkatkan profesional guru
3. Memungkinkan perbaikan dan pengembangan diri guru dalam memberikan pelayanan pendidikan dan memaksimalkan potensinya

Sedangkan penampilan kepribadian seorang guru dalam berbagai situasi dan kondisi sebagai cerminan dari kualitas kepribadian, merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan kinerja secara tepat dan efektif.

Artinya kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seorang guru dalam berinteraksi dengan lingkungan pendidikan di berbagai situasi dan kondisi.

Sampai disini dulu uraian mengenai Psikologi Mengajar yang dapat saya paparkan, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga dapat bermanfaat untuk semuanya.