Teknik Supervisi Akademik Yang Terbaru Kurikulum 2013

Pada implementasi kurikulum 2013 terdapat hal-hal baru diseputar kegiatan pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, proses, dan penilaian, sehingga keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013 sebenarnya sudah dapat dideteksi oleh seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

Untuk mendukung peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolah, dibutuhkan Kepala Sekolah yang memahami kurikulum sehingga diharapkan dapat membimbing, menjadi contoh, dan menggerakkan pendidik dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut.

Salah satu bentuk kontrol dan penjaminan mutu pembelajaran adalah pengawasan proses sebagaimana diamanatkan dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016.

Dalam satuan pendidikan bentuk pengawasan proses dalam penjaminan mutu pembelajaran adalah supervisi akademik yang berkelanjutan sebagai salah satu implementasi kurikulum , dalam hal ini kurikulum 2013.

Tujuan kegiatan supervisi akademik oleh Supervisor (Kepala sekolah) adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran.

Tujuan lain sebagaimana pendapat Sergiovanni (1987), kegaiatan supervisi akademik bertujuan untuk (a) Pengembangan Profesionalisme; (b) Pengawasan Kualitas; (c) Penumbuhan Motivasi.

Yang dapat digambarkan sebagai trilogi supervisi berikut ini.


Selain itu, kegiatan supervisi pembelajaran harus membantu guru agar mampu melakukan proses pembelajaran yang berkualitas dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan mandiri.

Sasaran supervisi akademik adalah guru sebagai pelaksana proses pembelajaran, yang di dalamnya mencakup materi pokok dalam proses pembelajaran, pengenalan buku ajar, penyusunan RPP, pemilihan strategi/model/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan/SKL, sasaran supervisi pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi.

Harus Kita ingat bersama, bahwa dalam konteks Kurikulum 2013, supervisi akademik adalah upaya untuk menciptakan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Fungsi Supervisi Akademik secara singkat sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.

Sedangkan Manfaat Supervisi akademik antara lain sebagai berikut.
  1. Guru yang disupervisi akan mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam membuat perencanaan pembelajaran.
  2. Guru yang bersangkutan dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas.
  3. Guru yang bersangkutan akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam merencanakan dan mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran.
  4. Sebagai bahan refleksi guru untuk menambah dan meningkatkan wawasan serta pengetahuan
Dalam pelaksanaan supervisi akademik supervisor ( kepala sekolah) harus memperhatikan Prinsip-prinsip sebagai berikut.
  1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
  2. Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.
  3. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
  4. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
  5. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.
  6. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi pendidik dalam mengembangkan proses pembelajaran.
  7. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan pendidikdalam mengembangkan pembelajaran.
  8. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
  9. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.
  10. Aktif, artinya pendidik dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
  11. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor
  12. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).
  13. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.
  14. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik.
Tahapan / siklus yang digunakan dalam melakukan kegiatan supervisi akademik mengikuti alur kegiatan pelakasanaan pada pengawasan proses, sebagaimana Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses.

Alur siklusnya meliputi, pemantauan, supervisi, pelaporan dan tindak lanjut, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1. Pemantauan

Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan melalui antara lain, diskusi kelompok terfokus, pengamatan,pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi.

2. Supervisi

Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran yang dilakukan melalui antara lain, pemberian contoh, diskusi, konsultasi, atau pelatihan pelaporan.

3. Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran disusun dalam bentuk
laporan untuk kepentingan tindaklanjut pengembangan keprofesionalan pendidik secara berkelanjutan.

4. Tindak Lanjut

Tindak lanjut hasil pengawasan dilakukan dalam bentuk:

a. penguatan dan penghargaan kepada guru yang menunjukkan kinerja yang memenuhi atau
    melampaui standar; dan
b. pemberian kesempatan kepada guru untuk mengikuti program pengembangan keprofesionalan
    berkelanjutan

Menurut Sahertian (dalam Bahan Ajar Supervisi Akademik) pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan supervisi akademik, ada 3, yaitu sebagai berikut.

1. Pendekatan Langsung (Direktif)

Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan.

2. Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)

Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah

3. Pendekatan Kolaboratif

Pendekata koplaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi

Metode Supervisi akademik yang biasa digunakan adalah metode langsung dan metode tak langsung, secara matrik dapat digambarkan sebagai berikut

Teknik supervisi akademik terdiri atas dua macam, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok

1. Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru, teknik supervisi individual terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas dan menilai diri sendiri.

2. Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditunjukkan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan- kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu, kemudian diberi layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhannya. Secara lengkapnya, teknik supervisi akademik bisa dilihat pada Gambar 


Baca Juga Instrumen Perencanaan dan Pelaksanaan Supervisi Akademik
Secara skematik keterkaitan antara pendekatan, metode dan teknik ditunjukkan oleh Gambar

Sebagai indikator keberhasilan kegiatan supervisi akademik perlu diperhatikan rambu-rambu berikut.
1) Kemampuan guru meningkat, khususnya dalam kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan
    mengevaluasi pembelajaran.
2) Kualitas pembelajaran menjadi lebih baik, khususnya berkenaan dengan kemampuan guru
    mengajar. (Pembelajaran yang berkualitas diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
    yang tinggi)
3) Terjalin hubungan yang kolegial antara supervisor dan guru dalam memecahkan permasalahan-
    permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru di lapangan.

Agar kegiatan supervisi menjadi bernilai dan berarti, maka penyiapan dan pemilihan instrumen yang baik dan representatif sesuai kebutuhan harus menjadi perhatian bagi supervisor (kepala sekolah).

Baca Juga Instrumen perencanaan dan pelaksanaan Kegiatan Supervisi Akademik Terbaru

Adapun tahapan mensiapkan instrumen supervisi, dikelompokkan menjadi berikut ini.

1) Persiapan pendidik untuk mengajar terdiri dari:
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b. Program Tahunan.
c. Program Semesteran.
d. Pelaksanaan proses pembelajaran.
e. Penilaian hasil pembelajaran.

2) Instrumen supervisi kegiatan belajar mengajar
a. Lembar observasi (RPP, Pembelajaran, Penilaian hasil pembelajaran)
b. Suplemen observasi (ketrampilan mengajar, karakteristik mata pelajaran, pendekatan klinis, dan
    sebagainya).

Demikian uraian teknik supervisi akademik yang dapat saya sampaikan , semoga bermanfaat, dan bila berkenan tinggalkan komentar atau share ke teman lainya

Terima kasih

Paradigma Pembelajaran Pada Kurikulum 2013 Revisi 2017





Dalam implementasinya, Kurikulum 2013 terus mengalami perubahan dari tahun ketahun, hal ini tidak lain adalah sebagai upaya penyempurnaan pelaksanaan dan penerapannya untuk mencapai hasil pendidikan yang optimal dan bervisi global.

Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter setiap siswa sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Sebagaimana Pengertian pembelajaran berdasarkan Permendikbud No. 103 Tahun 2014 .Pembelajaran adalah proses interaksi antar siswa, antara siswa dengan tenaga guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar .
Proses tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam membangun bertumbuhnya sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia.

Dengan demikian sekolah bekerjasama dengan keluarga dan masyarakat dalam rangka membangun karakter bangsa.

Dari pemahaman di atas maka paradigma pembelajaran pada kurikulum 2013 memahami bahwa Keluarga merupakan tempat pertama bersemainya bibit sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Oleh karena itu, peran keluarga tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sekolah dalam membangun karakter bangsa.

Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan siswa yang dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Sedangkan masyarakat merupakan salah satu tempat berlangsungya pendidikan yang beragam yang perlu diselaraskan antara satu dengan yang lain, misalnya media massa, bisnis industri, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan.

Pertanyaan selanjutnya adalah Bagaimana Implementasinya pada Satuan Pendidikan atau Sekolah?

Kurikulum 2013 menekankan kepada pembelajaran langsung (direct teaching) dan tidak langsung (indirect teaching).

Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan siswa melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP.

Implementasinya, Kegitan pembelajaran di sekolah dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Secara singkat dapat di uraikan sebagai berikut :
  • Kegiatan intrakurikuler dilaksanakan melalui mata pelajaran,
  • Kegiatan kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang terkait langsung dengan mata pelajaran, misalnya tugas individu, tugas kelompok, dan pekerjaan rumah berbentuk proyek atau bentuk lainnya.
  • Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum.
Dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.

Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect).

Pembelajaran tidak langsung, berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap yang terkandung dalam KI-1 dan KI-2.

Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial pada mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti dan mata pelajaran PPKn, dicapai melalui pembelajaran langsung (direct teaching) dan tidak langsung (indirect teaching)

Sementara untuk mata pelajaran lainya, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut.
Hal ini dapat digambarkan melalui Pendekatan saintifik dalam proses Pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar sebagai berikut :



Pengalaman Belajar

Deskripsi Kegiatan yang Dilakukan

Bentuk Hasil Belajar


Mengamati
(observing)

Mengamati
dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan
sebagainya) dengan atau tanpa alat.

Perhatian
pada waktu mengamati suatu objek/ membaca suatu tulisan/mendengar suatu
penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on
task) yang digunakan untuk mengamati

Menanya
(questioning)

Membuat
dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang
belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai
klarifikasi.

Kemampuan
mengajukan pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dari kompleks ke yang
lebih kompleks antara lain berbentuk hipotetik.

Mengumpulkan
informasi / mencoba (experimenting)

Mengeksplorasi,
mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan
eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara
sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan

Jumlah
dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas
informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data.

Menalar/Mengasosiasi
(associating)

Mengolah
informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat
kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait
dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.

Mengembangkan
interpretasi,
argumentasi
dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta(konsep),
interpretasi argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua
interpretasi, struktur
baru,
argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari
berbagai jenis sumber.

Mengomunikasikan
(communicating)

Menyajikan
laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis;
dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan

Menyajikan
hasil
kajian
(dari mengamati
sampai
menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan
lain-lain.


Bagian Lain yang utama dan tidak boleh terlupakan adalah peserta didik itu sendiri.

Siswa adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan.

Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Agar benar- benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka siswa perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.

Pengalaman belajar inilah nantinya akan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat dan sebaliknya siswa dapat memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.

Siswa membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Oleh karena itu, pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan potensi siswa agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Singkatnya, keterjalinan, keterpaduan, dan konsistensi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat harus diupayakan dan diperjuangkan secara terus menerus sebagai tripusat pendidikan sekaligus menjadi sumber belajar yang saling menunjang.

Sehingga dalam implementasinya pembelajaran di sekolah perlu memperhatikan prinsip – prinsip berikut ini :
  1. Siswa difasilitasi untuk mencari tahu dan belajar dari berbagai sumber belajar.
  2. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, berbasis kompetensi, berbasis keterampilan aplikatif, dan terpadu.
  3. Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi.
  4. Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills.
  5. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat.
  6. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan(ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tutwurihandayani);
  7. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
  8. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  9. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
  10. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
Pelabuhan terakhir sebagai output dari karakteristik yang diharapkan adalah tercermin dari tiga ranah yang dikembangkan, mencakup Gradasi sikap, Pengetahuan dan Keterampilan, sebagaimana yang digambarkan dalam gradasi berikut ini
  1. Sikap, Gradasinya : Menerima , menjalankan, Menghargai, Menghayati ,dan Mengamalkan
  2. Pengetahuan, Gradasinya : Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, mengevaluasi, dan Mencipta
  3. Keterampilan Gradasinya : Mengamati , Menanya , Mencoba , Menalar, menyaji dan Mencipta.
Demikian gambaran tentang Paradigma yang sekarang berkembang dalam pembelajaran sebagaimana yang diharapkan dalam Kurikulum 2013. Jika artikel ini bermanfaat silahkan share ke teman atau tinggalkan komentar anda.

Terima kasih

#Kurikulum 2013,#Paradigma Pembelajaran




Bagaimana Cara Menyusun RPP Sesuai Kurikulum 2013 Revisi 2017


Cara Penyusunan RPP


Pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik apabila guru merencanakannya dengan baik. Perencanaan pembelajaran ini dikenal dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

RPP disusun sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk menjamin pencapaian kompetensi yang harus dikuasai Peserta didik.

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan tentang langkah – langkah / Panduan penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan pembelajaran). Harapan saya , hal ini dapat membantu Anda semua dalam merencanakan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai tuntutan kurikulum 2013.

Baiklah langsung saja pada pembahasan.

Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan RPP, penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran.

Untuk dapat menyusunnya dengan benar maka Anda harus mengetahui terlebih dahulu komponen dan prinsip penyusunan RPP.

Apa saja Komponen dan Prinsip Penyususnan RPP ??

BACA JUGA : PARADIGMA PEMBELAJARAN DALAM K13

- Komponen RPP

Dalam Permendikbud Nomor 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran dinyatakan bahwa RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci mengacu pada silabus, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru.

Komponennya meliputi:

(1) identitas sekolah,

(2) mata pelajaran,

(3) kelas/semester;

(4) alokasi waktu;

(5) KI, KD, indikator pencapaian kompetensi;

(6) materi pembelajaran;

(7) kegiatan pembelajaran (kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup )


Sedangkan menurut Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, bahwa komponen RPP terdiri dari :

(1) identitas sekolah,

(2) identitas mata pelajaran,

(3) kelas/semester,

(4) materi pokok,

(5) alokasi waktu,

(6) tujuan pembelajaran,

(7) KD dan IPK,

(8) materi pembelajaran,

(9) metode, media, sumber belajar,

(10) langkah-langkah pembelajaran (kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup)

(11) penilaian hasil pembelajaran.

Melihat kedua PERMENDIKBUD tersebut yang sama – sama membahas RPP, maka hakikatnya komponen RPP yang nantinya akan Anda Susun dapat mengacu pada salah satu Permendikbud diatas atau dapat pula memadukan keduanya. Dan semuanya benar.

Di Bawah ini contoh Format perpaduan antara dua Permendiknas No 103 dan 22


Keterangan :

(*) Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

(**) Materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi (dalam hal ini metakognitif tidak termasuk materi pembelajaran, metakognitif berkaitan dengan strategi belajar yang dilakukan oleh siswa, bagaimana siswa menemukan strategi untuk mempelajari materi fakta, konsep, maupun prosedur dengan membuat jembatan keledai, peta konsep, ringkasan ber gamar, dll yang Ia susun sendiri untuk memudahkan mereka memahami materi. Keterampilan demikian perlu dilatihkan agar tidak hanya sebagai pengetahuan tentang strategi saja akan tetapi lebih kepada penerapan strategi hingga menjadi strategi otomatis pada diri siswa.

(***) Disesuaikan dengan karakteristik siswa dan KD yang akan dicapai, pada bagian ini berkaitan dengan penggunaan pendekatan, strategi, model, dan metode pembelajaran.

Lampiran-lampiran RPP:

1. Materi Pembelajaran Pertemuan 1 (jika diperlukan)

2. Instrumen Penilaian Pertemuan 1

3. Materi Pembelajaran Pertemuan 2 (jika diperlukan)

4. Instrumen Penilaian Pertemuan 2

Dan seterusnya sesuai banyaknya pertemuan.

- Prinsip Penyususnan RPP

Hal kedua untuk dapat menyusun RPP dengan benar, maka Anda harus memahami Delapan (8) Prinsip Penyusunan RPP, berikut ini :

(1) Memperhatikan Perbedaan individual siswa antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan siswa.

(2) Menekankan Partisipasi aktif siswa.

(3) Berpusat pada siswa untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.

(4) Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman be ragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

(5) Melakukan Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

(6) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

(7) Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

(8) Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi

- Langkah – Langkah Penyusunan RPP

Setelah Anda memahami Komponen dan Prinsip penyusunan RPP di atas, selanjutnya baru dapat menyusun RPP dengan Langkah – langkah sebagai berikut:

(1) Mengkaji Silabus

Mengacu pada komponen yang tercantum pada Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, maka silabus dikembangkan oleh guru .

Lihat juga Panduan Pengembangan Silabus

(2) Melakukan analisis keterkaitan SKL, KI, KD dalam rangka merumuskan IPK, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan rencana penilaian sesuai dengan muatan KD.

Catatan :
Untuk mata pelajaran Agama dan PPKn merumuskan IPK dari pasangan KD pada KI-1, KD pada KI-2, KD pada KI 3, dan KD pada KI 4, sedangkan mata pelajaran lain IPK dari pasangan KD pada KI 3 dan KD pada KI 4

(3) Menentukan alokasi waktu untuk setiap pertemuan.

Penentuan ini berdasarkan hasil analisis waktu yang dibutuhkan untuk pencapaian tiap IPK (Indikator Pencapaian Kompetensi) dan disesuaikan dengan karakteristik siswa di satuan pendidikan.

(4) Merumuskan tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

(5) Menyusun materi pembelajaran.

Materi pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran, buku panduan guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, atau konteks pembelajaran dari lingkungan sekitar. Materi pembelajaran ini kemudian dikelompokkan menjadi materi untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial.

(6) Menentukan Pendekatan/Model/Metode Pembelajaran yang sesuai.

Hubungan Pendekatan, Model Dan Metode Pembelajaran

Contoh :

Pendekatan Sainstifik : Genre Based Approach), kontekstual Teaching and Learning (CTL), dll

Model : PBL, Inquiry Learning, Discovery Learning, Dll

Metode : eksperimen, diskusi, demonstrasi dll

(7) Menentukan media, alat, bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran.

(8) Memastikan sumber belajar yang dijadikan referensi yang akan digunakan dalam langkah penjabaran proses pembelajaran.

(9) Menjabarkan langkah-langkah pembelajaran ke dalam bentuk yang lebih operasional (mengutamakan pembelajaran aktif/active leaning).

(10) Mengembangkan penilaian proses dan hasil belajar meliputi lingkup, teknik, dan instrumen penilaian, serta pedoman penskoran (lihat Panduan Penilaian).

Dari uraian di atas maka dapat di buat Tahapan cara menyusun RPP K13 setelah direvisi 2017 seperti berikut

Tahapan Penyusunan RPP

Demikian penjelasan singkat tentang 10 langkah penyusunan RPP terbaru yang dapat saya sampaikan semoga dapat bermanfaat bagi Anda semua dan membatu untuk menjadi pendidik yang lebih profesional. Jika artikel ini bermanfaat silahkan share ke teman atau tinggalkan komentar.