Lirik lagu marhabibisalam



Lirik Lagu Marhabibi salam versi gambus

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam

Ahlan ahlan ya habibi...
oh ... oh...

Fakulti habibi tafadhol huna
Tajilassujudi wa tah jassiqam
Fa qolla li inni akhofal idza
‘alainal hisan ‘alainaddawam

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam...


Fakulti ta’ala wala tahisinin
Waini asirrom wa antum khirom
Faqola romuni ba’atissabab
Walakin ‘alimta wa samtim dimam

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam

Memahami Model pembelajaran Remedial Dan Pengayaan dalam Pembelajaran Tuntas

Menurut Carrol bahwa masalah belajar merupakan masalah waktu. Artinya siswa yang mempunyai kemampuan rendah akan memerlukan waktu relatif lebih lama dibanding dengan siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi.

Dalam konsep belajar tuntas, keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh hasil evaluasi yang sudah distandarisasi atau yang kita kenal dengan batas KKM (kemampuan kompetensi minimum)
Sehingga bagi siswa yang belum mencapai KKM berarti harus menjalani Pembelajaran Remedial, sedangkan Yang sudah KKM melakukan Pembelajaran Pengayaan.

Pada posting kali ini saya akan mengajak Anda semua Untuk Memahami tentang Model Pembelajaran Remedial dan Pengayaan dalam pembelajaran tuntas.
Langsung ke pointnya saja, okey ???

Pada konsep pembelajaran remedial :dikenal 3 model pembelajaran sedangkan pada pembelajaran Pengayaan ada dua model pembelajaran. Marilah kita simak bersama penjelasan berikut ini.

I. Tiga Model pembelajaran Remedial

Pembelajaran remedial adalah suatu proses pengulangan pembelajaran yang disebabkan karena siswa yang bersangkutan belum dapat mencapai batas minimal kompetensi yang diikuti dan disyaratkan dalam kelas reguler.

Dalam Model pembelajaran remedial dikenal tiga model pembelajaran sebagai berikut.

A. Model pembelajaran remedial di luar jam pelajaran sekolah(outside school hours)

Fokus model ini untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar pada satu atau beberapa materi subyek, dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pembelajaran dilaksanakan.

Ada tiga keuntungan dari pelaksanaan model ini antara lain :


  1. Siswa mendapat tambahan waktu untuk mempelajari kembali, diluar jam yang biasa diikuti di kelas.
  2. Siswa dibantu mengidentifikasi area materi yang sulit dan mendapatkan panduan untuk mengejar ketertinggalan dengan informasi tambahan agar lebih mudah memahaminya.
  3. Dalam kelompok kecil pada pembelajaran remedial ini siswa mendapatkan kesempatan interaksi lebih dengan guru, sehingga berkesempatan untuk mengajukan kesulitan – kesulitan belajar dan mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna


Namun dalam melaksanakan pembelajaran remedial ini juga harus memperhatikan tiga hal berikut agar hasilnya lebih efektif, yaitu:


  1. Siswa yang tadinya mengalami kesulitan belajar akan lebih siap untuk mengikuti pembelajaran pada kelas reguler
  2. Perlunya perhatian khusus dari orang tua siswa, agar membantu aktivitas siswa diluar jam sekolah ( seperti antar jemput sekolah dan lainnya)
  3. Kerjasama antar guru dengan guru lainnya, siswa dan orang tua.


Berikut ini beberapa pedoman yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran remedial outside school hours :


  1. Penekanan kepada para remediasi agar membantu siswa membangun dasar yang kokoh tentang materi yang sulit dan kemampuan belajar mandiri dengan bimbingan guru.
  2. Guru hendaknya mengkaji intisari kurikulum yang menekankan tentang ketuntasan belajar siswa dan merencanakan materi tambahan yang sesuai agar benar benar memantapkan pengetahuan dasar siswa , sehingga siap untuk mempelajari materi berikutnya.
  3. Guru mempersiapkan metode yang benar – benar tepat dan efektif, sehingga siswa merasa lebih mudah dalam memahami dan menelaah materi pelajaran. ( misal dengan bantuan LKS, membahas soal, atau mencatat hal – hal yang penting)
  4. Mengelompokkan siswa yang setingkat dalam kesulitan belajar dan topik yang sama.
  5. Durasi pembelajaran setidaknya sama dengan jam pelajaran biasa, dengan jumlah pertemuan di sesuaikan kebutuhan.


B. Model pembelajaran remedial pengambilan secara tertentu (withdrawal)

Model remedial ini berarti memisahkan siswa dari kelas biasa kedalam kelas khusus remedial.
Hal ini dilakukan agar pengetahuan dasar yang diperlukan lebih mapan sebagai pondasi untuk mempelajari materi berikutnya.
Model ini tidak digunakan untuk semua materi pelajaran, tetapi hanya pada topik – topik tertentu yang dianggap esensial saja.

Keuntungan dari model remedial ini antara lain :


  1. Guru lebih memahami kebutuhan siswa secara individu, kesulitan masing masing siswa dalam belajar, dan performa siswa di dalam kelas, karena jumlahnya relatif lebih sedikit.
  2. Guru lebih mudah memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa dalam memahami materi yang sulit
  3. Siswa dapat belajar lebih intensif karena interaksi dengan guru lebih meningkat.


Kelemahan dari model remedial ini yaitu

Timbulnya segregasi bagi siswa yang yang mengikuti remedial terlalu lama (misalnya siswa tersebut mendapat julukan tertentu dari teman – temannya ) dan siswa tersebut kehilangan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekelasnya (ordinary class)
Untuk menerapkan model remedial withdrawal ini perlu memperhatikan beberapa pedoman berikut ini :


  1. Sekolah harus menjadwalkan secara khusus mata pelajaran dan daftar siswa yang akan dipisahkan ( harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa).
  2. Jumlah siswa dalam satu kelompok belajar sebaiknya jangan lebih dari 15 siswa.
  3. Sekolah harus menentukan prioritas materi atau topik yang akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, terutama topik prasyarat untuk pelajaran berikutnya.
  4. Untuk memudahkan dalam memberikan fondasi pengetahuan kunci , sebaiknya dibuat kelompok siswa yang memiliki peringkat perkembangan intelektual yang sama.


C. Model pembelajaran remedial Tim (Co-teaching)

Model remedial ini dilakukan oleh tim pengajar, yang terdiri dari dua orang atau lebih.

Tugas tim pengajar ini bekerja sama dalam menyiapkan materi pembelajaran dan penilaian hasil belajar yang mengacu pada peningkatan pembelajaran efektif.

Kelebihan dari model remedial ini antara lain :


  1. Membangun kebersamaan dalam kelompok yang menciptakan suasana kondusif bagi lingkungan pendidikan secara keseluruhan di sekolah
  2. Efektifitas pembelajaran dapat lebih ditingkatkan, karena dapat terjadi kerja sama antar guru dalam meningkatkan profesionalitas dan saling bertukar kelebihan dan kekurangan materi.
  3. Lebih luwes dan leluasa dalam pelaksanaan pembelajaran bagi guru, karena guru bisa mengatur persiapan dan pelaksanaannya di antara anggota tim.
  4. Membantu meningkatkan interaksi antar siswa dengan guru, karena siswa dapat memilih guru yang dirasa cocok.


Dalam melaksanakan remedial model ini perlu memperhatikan beberapa hal berikut :


  1. Setiap anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama tentang motivasi dan model pembelajaran remedial ini.
  2. Dukungan dari sekolah, baik secara administrasi dan sumber daya untuk keberhasilan program ini.
  3. Koordinasi yang baik antar anggota tim dalam menjalankan peran, tugas dan sumberdaya yang ada.


Pedoman untuk melaksanakan model remedial co-teaching antara lain :

Persiapan :

Dalam tahap persiapan berikut ini hal – hal yang dapat dilakukan :


  1. Guru bersama –sama siswa menyusun rencana pembelajaran, mulai dari tujuan , topik, dan aktifitas fisik yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran.
  2. Mendiskusikan strategi pembelajaran antara siswa dengan guru. dan mengadaptasi kurikulum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan individu siswa
  3. Menyiapkan media dan LKS untuk memahami topik tersebut.


Presentasi Pelajaran

Dalam tahap ini guru dapat mengadopsi pembelajaran dengan cara yang luwes dengan ciri topik, tujuan dan materi pembelajaran. Berikut ini beberapa tindakan yang biasanya dilakukan:


  1. Guru mempresentasikan materi bersama –sama atau secara berurutan bergantian dan dapat melakukan elaborasi atau eksplanasi tambahan tentang materi sehingga lebih jelas.
  2. Guru mendorong siswa yang lemah dengan kelompok kecil ataupun bimbingan secara individu.
  3. Mengobservasi dan mencatat kinerja siswa , sehingga dapat terus diarahkan kepada sikap dan perilaku belajar yang baik.
  4. Mengembangkan keterampilan dan kebiasaan belajar mandiri di antara siswa. (cara memperoleh informasi, dan mengolah informasi tersebut)
  5. Mempertahankan agar kelas tetap tertib dan mengkondisikan suasana belajar yang saling membantu.


Evaluasi dan Review

Dalam tahap ini dapat dilakukan antara lain:


  1. Mengevaluasi anggota TIM dalam bekerjasama, dan peranannya.
  2. Merevisi materi pelajaran dan memperbaiki strategi pembelajaran dalam memenuhi kebutuhan siswa.
  3. Mengevaluasi kinerja siswa dan kemajuan belajarnya.


Berikut ini gambaran secara umum tentang korelasi Pembelajaran remedial dan pembelajaran reguler :


II. Dua Model Pembelajaran Pengayaan

Pembelajaran pengayaan adalah suatu upaya lebih bagi siswa yang memiliki kemampuan belajar lebih cepat dan memiliki kecerdasan luar biasa.
Dalam artian memberikan pemahaman yang lebih dalam dari pada sekedar standar kompetensi dalam kurikulum.

Secara filosofi pembelajaran pengayaan adalah cara untuk melihat pengetahuan /informasi yang dipelajarinya sedalam pemahaman yang diinginkan dalam pembelajaran.

Hal ini dilaksanakan tetap pada suatu keyakinan bahwa belajar merupakan suatu proses yang harus terjadi (on going process) dan belajar sebagai suatu yang menyenangkan (fun) sekaligus menantang (challenging).

Menurut Challahan (2003) pendidikan untuk siswa yang unggul (belajar sangat cepat) merupakan area pendidikan yang luar biasa yang karakteristik siswanya mempunyai kecakapan yang sangat tinggi.

Pembelajaran yang diberikan kepada siswa yang berkarakteristik seperti di atas perlu memperoleh perhatian khusus agar dapat meningkatkan pemahamannya, tanpa menimbulkan sikap kontra produktif.

Oleh karena itu, pembelajaran pengayaan bisa menggunakan dua model sebagai berikut :

1. Pembelajaran pengayaan model mentoring dan tutoring

Pembelajaran pengayaan model ini, menempatkan siswa yang mempunyai kemampuan belajar sangat cepat dengan siswa yang mempunyai kecepatan belajar seperti pada umumnya.

Metode ini disebut inclusion, dimana siswa yang mempunyai kecakapan unggul bertindak sebagai TUTOR atau mentor rekan sejawatnya yang relatif lambat dalam pembelajaran.

Di samping itu, tutor atau mentor sejawat (siswa,yang luar biasa) dapat membangunkembali konsep yang telah dipelajari dalam pembelajaran biasa, di dalam struktur kognitifnya.

Disisi lain tutor sebaya ini berarti membantu daya tahan (retensi) penguasaan siswa terhadap pengetahuan tersebut.
Kelemahan model ini bila dilakukan berulang ulang dalam kurun waktu yang lama dapat menimbulkan rasa superioritas bagi siswa yang mempunyai kecakapan lebih.

Model pengayaan ini dapat digambarkan ke dalam bagan berikut ini :


2. Pembelajaran pengayaan model proyek, merupakan proyek khusus .

Model pengayaan yang kedua ini termasuk kedalam model pengayaan horizontal. Model ini berupa pemberian tugas khusus atau proyek, proyek yang diberikan harus sebagai tindak lanjut dari pengetahuan yang telah dipelajarinya.

Contoh model ini dapat berupa penelitian sederhana, seperti penelitian literatur (dari berbagai buku), penelitian empiris (melakukan observasi langsung dengan eksperimen atau fenomena sebenarnya), atau mencari data dari berbagai narasumber.

Masalah atau kasus sebagai fokus penelitian dapat diajukan oleh siswa, guru atau kesepakatan keduanya.

Alokasi waktu yang digunakan dapat bervariasi, dapat dilakukan pada pada alokasi waktu kegiatan pembelajaran reguler, diluar jam pembelajaran atau pada kegiatan ekstrakurikuler.

Hasil kegiatan ini berupa laporan sederhana dan lengkap serta sebaiknya dipresentasikan didepan siswa yang lainnya.

Model pengayaan ini dapat digambarkan sebagai berikut


Saya Kira sampai disini dulu uraian tentang Model pembelajaran Remedial dan Pengayaan dalam pembelajaran tuntas, yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf bila ada kekurangan.untuk kritik dan saran silahkan tuliskan pada komentar, dan bila dianggap artikel ini bermanfaat jangan lupa share ke teman Anda semua.
Terima Kasih.

Baca Juga ;

Memahami Penilaian oleh Pendidik pada Kurikulum 2013 yang diPerbaharui

Kegiatan penilaian menjadi suatu keniscayaan bagi setiap kegiatan apapun, baik di lingkungan formal maupun nonformal. Tidak terkecuali bagi sebuah satuan pendidikan dan lebih khusus lagi bagi seorang pendidik / guru.

Secara universal penilaian adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan setiap akhir suatu kegiatan untuk mengukur sejauh mana kegiatan tersebut mencapai hasil yang diharapkan.

Berkenaan dengan hal tersebut jika kita kaitkan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah maka kegiatan penilaian ini mengalami perkembangan cakupanya seiring dengan diberlakukannya kurikulum tiap satuan pendidikan.

Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 sekarang ini, maka kegiatan penilaian terus mengalami penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Sehingga menjadi keharusan bagi setiap pendidik untuk selalu meng up date agar menjadi tidak usang dan tertinggal.

Dan pada posting kali ini saya ingin mengajak bersama kepada para pendidik untuk memahami penilaian oleh pendidik pada kurikulum 2013 yang diperbaharui.

Baiklah, mari simak saja penjelasan berikut di bawah ini semoga semakin menjadikan Saudara semua semakin faham.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik pada Satuan Pendidikan berfungsi untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam penilaian, dan bertujuan untuk:

1. mengetahui tingkat penguasaan kompetensi.
2. menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi.
3. menetapkan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi. dan
4. memperbaiki proses pembelajaran.

A. Penilaian Sikap

penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui capaian dan membina perilaku serta budi pekerti peserta didik sesuai butir-butir sikap dalam Kompetensi Dasar (KD) pada Kompetensi Inti Sikap Spiritual (KI-1) dan Kompetensi Inti Sikap Sosial (KI-2).

Teknik Penilaian Sikap

Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas, melalui observasi yang dicatat dalam jurnal. Teknik penilaian sikap dijelaskan pada skema berikut.


B. Penilaian Pengetahuan

Penilaian pengetahuan, selain untuk mengetahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, juga untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostic). Oleh karena itu, pemberian umpan balik (feedback) kepada peserta didik oleh pendidik

Teknik Penilaian Pengetahuan

Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Namun tidak menutup kemungkinan digunakan teknik lain yang sesuai, misalnya portofolio dan observasi. Skema penilaian pengetahuan dapat dilihat pada gambar berikut


C. Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan adalah penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik terhadap kompetensi dasar pada KI-4. Penilaian keterampilan menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah dikuasai peserta didik dapat digunakan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sesungguhnya (real life).

Teknik Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian praktik/kinerja, proyek, dan portofolio. Teknik penilaian lain dapat digunakan sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4 pada mata pelajaran yang akan diukur. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Skema penilaian keterampilan dapat dilihat pada gambar berikut.


D. Mekanisme pelaksanaan penilaian

Silahkan simak dan pahami mekanisme berikut


• Utama : Wali kelas, Guru BK, Guru MAPEL
• Ditunjang oleh Peserta Didik berupa: penilaian diri dan antar peserta didik
• Guru mapel melaksanakan penilaian di dalam kelas
• Guru BK dan Wali kelas melaksanakan penilaian diluar jam pelajaran
• Penilaian oleh peserta didik Dilakukan sekurang – kurangnya 1 kali dalam satu semester
Contoh indikator sikap spiritual secara umum:
1) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.
2) menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut.
3) memberi salam pada saat awal dan akhir kegiatan.
4) bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.
5) mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri.
6) bersyukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu.
7) berserah diri (tawakal) kepada Tuhan setelah berikhtiar atau melakukan usaha.
8) menjaga lingkungan hidup di sekitar satuan pendidikan.
9) memelihara hubungan baik dengan sesama umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
10) bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bangsa Indonesia.
11) menghormati orang lain yang menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut.

Contoh indikator sikap sosial secara umum:

  1. Jujur, yaitu perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  2. Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  3. Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan.
  5. Gotong royong, yaitu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong-menolong secara ikhlas.
  6. Santun atau sopan, yaitu sikap baik dalam pergaulan, baik dalam berbahasa maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif, artinya yang dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa berbeda pada tempat dan waktu yang lain.
  7. Percaya diri, yaitu suatu keyakinan atas kemampuan sendiri untuk melakukan kegiatan atau tindakan.


Contoh kata kerja operasional yang dapat digunakan aspek pengetahuan:

  1. mengingat: menyebutkan, memberi label, mencocokkan, memberi nama, memberi contoh, meniru, dan memasangkan.
  2. memahami: menggolongkan, menggambarkan, membuat ulasan, menjelaskan, mengekspresikan, mengidentifikasi, menunjukkan, menemukan, membuat laporan, mengemukakan, membuat tinjauan, memilih, dan menceritakan.
  3. menerapkan: mendemonstrasikan, memperagakan, menuliskan penjelasan, membuatkan penafsiran, mengoperasikan, mempraktikkan, merancang persiapan, menyusun jadwal, membuat sketsa, menyelesaikan masalah, dan menggunakan.tindakan.
  4. menganalisis: menilai, menghitung, mengelompokkan, menentukan, membandingkan, membedakan, membuat diagram, menginventarisasi, memeriksa, dan menguji.
  5. mengevaluasi: membuat penilaian, menyusun argumentasi atau alasan, menjelaskan apa alasan memilih, membuat perbandingan, menjelaskan alasan pembelaan, memperkirakan, dan memprediksi. dan
  6. mencipta (create): mengumpulkan, menyusun, merancang, merumuskan, mengelola, mengatur, merencanakan, mempersiapkan, mengusulkan, dan mengulas.


Berikut ini skema pengolahan nilai sikap untuk satuan pendidikan.
Simak baik – baik skema pengolahan nilai sikap di bawah ini.


Contoh pengolahan nilai pengetahuan mata pelajaran Matematika kelas X semester I.










Keterangan:

  1. Penilaian harian dilakukan oleh pendidik dengan cakupan meliputi seluruh indikator dari satu kompetensi dasar
  2. Penilaian akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan penilaian meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut
  3. KD 3.1 dilakukan tagihan penilaian sebanyak 3 kali, maka nilai pengetahuan pada KD 3.1
  4. Deskripsi berisi kompetensi yang sangat baik dikuasai oleh peserta didik dan/atau kompetensi yang masih perlu ditingkatkan. Pada nilai diatas yang dikuasai peserta didik adalah KD 3.4 dan yang perlu ditingkatkan pada KD 3.2.

Contoh deskripsi: “Memiliki kemampuan mendeskripsikan operasi aritmatika pada fungsi, namun perlu peningkatan pemahaman masalah kontekstual menggunakan konsep sistem persamaan linear tiga variabel”

Nilai Keterampilan

Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik, proyek, produk, portofolio, dan bentuk lain sesuai karakteristik KD mata pelajaran. Hasil penilaian pada setiap KD pada KI-4 adalah nilai optimal jika penilaian dilakukan dengan teknik yang sama dan objek KD yang sama. Penilaian KD yang sama yang dilakukan dengan proyek dan produk atau praktik dan produk, maka hasil akhir penilaian KD tersebut dirata-ratakan. Untuk memperoleh nilai akhir keterampilan pada setiap mata pelajaran adalah rerata dari semua nilai KD pada KI-4 dalam satu semester. Selanjutnya, penulisan capaian keterampilan pada rapor menggunakan angka pada skala 0 – 100 dan predikat serta dilengkapi deskripsi singkat capaian kompetensi.

Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

Konsekuensi dari pembelajaran tuntas adalah tuntas atau belum tuntas. Bagi peserta didik yang belum mencapai KKM maka dilakukan tindakan remedial dan bagi peserta didik yang sudah mencapai atau melampaui ketuntasan belajar dilakukan pengayaan. Pembelajaran remedial dan pengayaan dilaksanakan untuk kompetensi pengetahuan dan keterampilan, sedangkan sikap tidak ada remedial atau pengayaan namun menumbuh kembangkan sikap, perilaku, dan pembinaan karakter setiap peserta didik harus terus dilakukan.

Baca Juga : Memahami Model Pembelajaran Remidial dan Pengayaan

KKM dan Nilai Raport

Hasil penilaian oleh pendidik meliputi pencapaian kompetensi peserta didik pada sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terpisah karena karakternya berbeda.
Laporan hasil penilaian sikap berupa deskripsi yang menggambarkan sikap yang menonjol dalam satu semester. Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan dilaporkan dalam bentuk bilangan bulat (skala 0 – 100) dan predikat serta dilengkapi dengan deskripsi singkat yang menggambarkan capaian kompetensi yang menonjol dalam satu semester.
Bentuk dan model rapor untuk Sistem Paket dan Sistem Kredit Semester (SKS) pada prinsipnya sama. Contoh format laporan hasil belajar (rapor) terlampir. Predikat pada pengetahuan dan keterampilan dinyatakan dengan angka bulat dengan skala 0- 100, ditentukan berdasarkan interval predikat yang disusun dan ditetapkan oleh satuan pendidikan.
Penetapan tabel interval predikat untuk KKM yang berbeda dibuat tabel interval
predikat seperti contoh pada tabel berikut:












  • Nilai KKM merupakan nilai minimal untuk predikat Cukup. Berkaitan hal tersebut diharapkan satuan pendidikan dapat menentukan KKM yang sama untuk semua mata pelajaran.
  • Satuan pendidikan dapat menetapkan KKM berdasarkan SKL dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan sumber daya pendidikan di satuan pendidikan.
  • Keputusan kenaikan kelas bagi peserta didik dilakukan berdasarkan hasil rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan kebijakan satuan pendidikan, seperti minimal kehadiran, tata tertib, dan peraturan lainnya yang berlaku di satuan pendidikan tersebut.


Hal – Hal Penting Tentang Penilaian K 13

I. Acuan penilaian :


  • Acuan Kriteria menggunakan

1. Modus untuk sikap,
2. Rerata untuk pengetahuan, dan
3. Capaian optimum untuk keterampilan.


  • Modus untuk ketuntasan kompetensi sikap ditetapkan dengan predikat Baik.
  • Skor rerata untuk ketuntasan kompetensi pengetahuan ditetapkan paling kecil sesuai KKM masing – masing satuan pendidikan yang diambil saat penyusunan KTSP
  • Capaian optimum untuk ketuntasan kompetensi keterampilan ditetapkan paling kecil sesuai KKM masing – masing satuan pendidikan yang termuat dalam KTSP


II. SKALA PENILAIAN


  • Skala penilaian untuk kompetensi sikap menggunakan rentang predikat Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K).
  • Skala penilaian untuk kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan menggunakan rentang angka dan huruf D - A dengan contoh rincian sbb:













III. DESKRIPSI

• Contoh DESKRIPSI KOMPETENSI PENGETAHUAN

Mempunyai capaian kompetensi secara umum TUNTAS dengan predikat baik. sangat baik dalam penguasaan materi Menganalisis perkembangan model atom. baik dalam penguasaan materi Memahami hakikat ilmu kimia, metode ilmiah dan keselamatan kerja di laboratorium serta peran kimia dalam kehidupan, Menganalisis struktur atom berdasarkan teori atom Bohr dan teori mekanika kuantum. dan Menganalisis kepolaran senyawa.. (SB)

• Contoh DESKRIPSI KOMPETENSI KETERAMPILAN

Ananda ALIPIA AZHARA mempunyai capaian kompetensi secara umum TUNTAS dengan predikat baik. mempunyai kemampuan baik dalam penerapan materi Menyajikan hasil pengamatan tentang hakikat ilmu kimia, metode ilmiah dan keselamatan kerja dalam mempelajari kimia serta peran kimia dalam kehidupan dan Menyajikan hasil analisis hubungan konfigurasi elektron dan diagram orbital untuk menentukan letak unsur dalam tabel periodik dan sifat-sifat periodik unsur. . (SB).

• Contoh DESKRIPSI KOMPETENSI SIKAP DALAM MAPEL

- Tingkatkan sholat berjama'ah, kejujuran dalam mengerjakan soal dan kepedulian terhadap teman-teman (SB)
- Tingkatkan sholat berjama'ah, kedisiplinan, tanggung jawab, pro-aktif, responsif, kejujuran dalam mengerjakan soal sebagai perwujudan insan beragama (B)

Catatan :
Skap tidak boleh Cukup, minimal Baik
Downloads Materi ini Di sini
atau link AirHovkey Subscriber
Downloads Blanko Penilaian Kurikulum 2013 terbaru


Saya kira sampai disini dulu penjelasan mengenai bagaimana memahami penilaian oleh pendidik pada kurikulum 2013 yang direvisi kembali pada 2017 kemarin, semoga dapat bermanfaat.
Kalau ada masukkan silahkan tulis saja pada kolom komentar, dan jika penjelasan ini dirasa penting silahkan share ke teman yang lain.
Terima kasih.




Hillan By Musthafa



Perkembangan Musik Gambus Di Indonesia

Gambus merupakan salah satu jenis musik yang telah berusia ratusan tahun, dan hingga sekarang masih bertahan sekalipun ragam jenis musik lain seolah mengepung . Gambus berkembang sejak abad ke-19 bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut, Yaman Selatan ke Nusantara.

Di negara asalnya Timur tengah Musik gambus ini dinamai oud.sesuai dengan alat musik utamanya sebagai ciri khas yaitu sejenis gitar yang di bagian belakangnya dibuat menggembung (gitar aud). Jadi, istilah gambus hanya dikenal di Indonesia. Hingga kini tidak diketahui siapa yang pertama kali menggunakan nama gambus.

Ciri lain dari jenis musik ini adalah menggunakan syair-syair kasidah, gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan Rasul-Nya. Oleh karenanya, gambus digunakan para imigran menjadi sarana dakwah di nusantara. seiring dengan berjalannya waktu musik gambus berkembang menjadi sarana hiburan.dan sarana untuk menjalin silaturahmi antar komunitas keturunan Arab.

Salah satu musisi gambus yang paling kesohor adalah Syech Albar, kelahiran Surabaya 1908, yang juga ayah penyanyi rock Achmad Albar. Pada tahun 1935, rayuannya telah direkam dalam piringan hitam His Masters Voice. Suara dan petikan gambusnya bukan saja digemari di Indonesia, tapi juga di Timur Tengah.

Seiring dengan perkembangan Zaman Orkes Gambus Mulai diminati oleh kaum muda tidak hanya dari kaum keturunan arab tapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya tidak terkecuali masyarakat jawa, khususnya jawa timur sudah berkembang dengan sangat maju

Cara Pembuatan Koloid Liofil



Istilah koloid pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Graham (1861) berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin yang merupakan kristal tetapi sukar mengalami difusi, padahal umumnya kristal mudah mengalami difusi. Koloid berasal dari kata “kolia”, yang artinya “lem”. Pada umumnya koloid mempunyai ukuran partikel antara 1 nm– 100 nm. Oleh karena ukuran partikelnya relatif kecil, sistem koloid tidak dapat diamati dengan mata langsung (mata telanjang), tetapi masih bisa diamati dengan menggunakan mikroskop ultra.

Koloid liofil adalah salah satu jenis koloid sol yang suka terhadap cairan dan sering disebut dengan sol liofil.
Mengapa disebut Liofil / suka cairan ?

hampir semua orang memahami jika kita campurkan dua gelas air dengan lima sendok tepung kanji maka dihasilkan lem yang jumlahnya sekitar du gelas, hal ini terjadi karena air yang dua gelas terdispersi / terperangkap ke dalam partikel tepung kanji yang lima sendok tadi. sehingga dikatakan bahwa tepung kanji suka terhadap cairan dan disebut liofil. sol lifil ini jika telah mendingin sering disebut Gel.
Pada percobaan di atas adalah salah satu contoh pembuatan dari jenis sol liofil, yang terdapat di sekitar kita, sehingga jenis sol liofil yang kita dapati sering disebut dengan lem atau perekat atau glu.

Percobaan yang dilakukan di atas menggunakan Alat dan Bahan Sebagai berikut :

A. Alat : Panci, Gelas, Mangkok, Kompor, dan wadah dari bahan plastik.

B. Bahan : Air, dan Tepung kanji

C. Tujuan : Membuat Jenis Koloid Liofil Di sekitar kita

D. Cara kerja

Campurkan Air dan tepung kanji dan aduk sampai rata terlebih dahulu, kemudian baru dipanaskan dan terus sambil diaduk agar pemanasan yang terjadi merata. setelah kurang lebih lima samapai sepuluh menit pemansan di hentikan dan sudah menjadi sol yang kita maksud .
contoh sol liofil yang lainnya : agar - agar, jelli, dan bubur beras.


demikian sedikit penjelasan mengenai sol liofi yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat

Mahaffat Voc. Musthofa



Ciri - Ciri Alat Musik Gambus


Di Indonesia sendiri, Gambus mempunyai beberapa versi, antara lain Musik yang dihasilkan oleh orkes gambus di kalangan masyarakat Betawi (Jakarta) dan Sumatera Selatan, atau Instrumen petik berdawai yang dikenal di beberapa daerah seperti Jakarta, Maluku, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Lampung, NTB, dan Riau, serta Sejenis tarian tradisional Bangka yang dibawakan secara berpasangan, instrumen pengiringnya terdiri dari: sebuah gambus, dua buah marakas, dan dua buah gendang.

Namun secara umum, berikut Ciri - ciri alat musik Gambus:


  • Mempunyai berbagai macam bentuk mulai dari yang memiliki 3 senar hingga 12 senar. Jarang sekali dijumpai yang lebih dari itu.
  • Instrument ini dapat dimainkan secara solo maupun berkelompok (orkes).
  • Hampir seluruh bagian instrumen ini berupa pahatan mulai dari kepala, leher, perut, hingga ekornya.
  • Versi Melayu biasanya memiliki 7 buah telinga yang terpasang rapi pada bagian kepala.
  • Panjang alat musik ini mencapai 1 meter, tebalnya kurang lebih 10 cm

Demikian Ulasan singkat tentang Ciri - ciri alat musik Gambus yang dikenal di kalangan masyarakat Indonesia.

Sarapan Pagi Penting Untuk Kesehatan dan Performa Kerja

Apakah sarapan pagi itu penting ????
Sudah sarapan belum?? Atau belum sempat sarapan nih.
Pertanyaan atau pernyataan seperti itu sudah sering kita temui, terutama bagi Anda yang berprofesi sebagai karyawan atau anak sekolah.

Apalagi di era sekarang yang sangat marak dengan sistem absensi pingerprint, jika terlambat maka akan berpengaruh terhadap prestasi kerja sehingga tidak jadi mendapat bonus atau bagi anak sekolah maka akan mendapatkan perlakuan khusus.
Maka peristiwa tidak sempatnya melaksanakan makan pagi atau sarapan menjadi semakin sering kita dengar.
Alasanya bermacam macam, mulai dari tidak sempatlah atau nanti saja saat istirahat bahkan sekaligus ada yang sekalian untuk menguruskan badan dan masih banyak alasan lain.
Nah pada kesempatan kali ini saya akan coba paparkan sedikit tentang pentingnya sarapan (makan pagi) bagi kesehatan dan prestasi kerja.

Orang yang tidak sarapan (makan pagi) paling tidak akan menderita 4 L (Lapar, Letih, Lesu, dan Lemah), sehingga akan menurunkan semangat kerja, tidak fokus,dan hasil kerja yang kurang memuaskan.

Secara ilmiah makan pagi itu sangat penting baik bagi kesehatan kita maupun prestasi kita di tempat kerja atau di sekolah. Para ahli mengatakan bahwa ¼ hingga 1/3 dari makanan kita untuk sehari sebaiknya dimakan waktu pagi sebagai makan pagi (sarapan).
Ini berarti kalau kebutuhan kalori kita satu hari 3000 kalori, maka makan pagi (sarapan) setidaknya bernilai 750 – 1000 kalori.
sebagaimana dikatakan dr. Sukojto D. bahwa kalau kita tidak makan pagi, dapat menimbulkan sakit kepala, merasa lelah,letih, lesu terutama pada pukul 09.00 – 11.00 pagi. Akibat lainya akan mudah marah, tidak dapat berkonsentrasi, gugup, dan efisiensi fisik/mental berkurang. Pada anak sekolah kesanggupan belajarnya dapat menurun.

gejala – gejala di atas dialami oleh para karyawan, pekerja dan anak – anak sekolah serta lainnya, yang umumnya di sebabkan karena mereka tidak makan pagi (sarapan) atau sarapan yang tidak sesuai alias tidak cukup sehingga kadar gula dalam darah yang diperlukan untuk tenaga tidak cukup pula. Walaupun tidak selalu terjadi,kebiasaan tidak makan pagi dapat menimbulkan gangguan lambung atau sakit maag.

Melihat uraian di atas , jelaslah bahwa sarapan itu penting, walaupun ada usaha mengganti dengan minum vitamin atau tonikum tetap kurang bermanfaat , karena untuk mendapatkan tenaga diperlukan bahan – bahan makanan yang bergizi dengan jumlah kalori yaang sesuai dengan kebutuhan.
Masih kata dr. Sukojto, bahwa untuk mensiasati agar dapat melakukan makan pagi (sarapan) maka, kita bisa menyiapkan makanan pagi yang praktis berupa roti, telur rebus dan susu. Jika tidak sempat di makan saat dirumah bisa juga dibungkus dan dapat dimakan saat istirahat pagi.

Sehingga sekali lagi sarapan pagi itu penting untuk kesehatan dan performa kinerja kita.
Demikian uraian yang sedikit ini semoga bemanfaat.

Instrumen Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan Supervisi Akademik Terbaru



Peran Supervisi akademik yang dilakukan Kepala Sekolah antara lain untuk memberi pemahaman kepada guru tentang konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik perkembangan belajar siswa dengan memberikan contoh pembelajaran yang kreatif, inovatif, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan.

Pada dasarnya terdapat hubungan hirarkis antara kegiatan pemantauan, supervisi dan pelaporan.
Hasil pemantauan dan supervisi akademik itu tampil dalam wujud data yang menggambarkan kondisi riil, kenyataan yang sebenarnya, dan pakta otentik, biasanya dapat berupa catatan, rekaman, dan dokumentasi.

Untuk mendapatkan data tersebut, dapat dilakukan dengan cara atau teknik. Tentu saja cara dan teknik itu memerlukan instrumen pemantauan sebagai langkah awal.

Instrumen Supervisi Akademik
pada hakikatnya adalah instrumen pengumpulan data, informasi, dan fakta tentang kondisi riil dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran.

A. Persiapan Kegiatan Supervisi

Langkah-langkah dalam mempersiapkan kegiatan supervisi Akademik, yang perlu diperhatikan oleh kepala sekolah antara lain adalah penyusunan program dan jadwal pelaksanaan kegiatan supervisi.

1) Penyusunan Rencana Program Supervisi

Perlu diperhatikan bahwa untuk melihat keterukuran kegiatan supervisi Kepala Sekolah harus melakukan penyusunan rencana program supervisi.

Berikut ini adalah instrumen pendukung yang perlu dipersiapkan kaitannya dengan program supervisi, yakni berikut.
a. Hasil pelaporan supervisi tahun ajaran yang lalu.
b. Data lengkap guru yang akan disupervisi.
c. Administrasi pembelajaran guru ( Prota,RPP, Bahan Ajar, Buku Nilai, dsb).
d. Instrumen yang akan digunakan (Kepala Sekolah/Supervisor dapat menggunakan instrumen yang  sudah disiapkan atau dapat
pula mengembangkan/mengadaptasi instrumen sesuai kebutuhannya berupa inventori atau skala)
2) Jadwal pelaksanaan supervisi
Berikut ini adalah contoh jadwal yang dapat diadaptasi/dikembangkan , dapat di downloads pada bagian akhir artikel

3) Pelaksanaan Supervisi
Mengacu pada hasil pemantauan kesiapan guru baik secara administrasi dan sikap fisik/psikologis maka disepakati bersama antara kepala sekolah selaku supervisor dengan guru yang akan disupervisi penetapan jadwal supervisi

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan supervise sebagai berikut.
a. Memperhatikan kesiapan guru yang akan disupervisi.
b. Menetapkan Instrumen supervisi
c. Hindari pemberian nilai/kategori, disarankan merekam secara deskripsi semua kegiatan  pembelajaran selama proses
pengamatan berlangsung.
d. Temukan permasalahan untuk perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran.
e. Tidak mengambil alih tugas guru dalam proses pembelajaran.
f. Disarankan untuk tidak melakukan supervisi (memaksakan kehendak) apabila guru yang akan disupervisi belum memiliki kesiapan,
karena tidak akan diperoleh hasil pembinaan yang diharapkan.
g. Lakukan dialog professional pasca pengamatan untuk menentukan cara perbaikan pada kekurangan guru
h. Lakukan evaluasi dan tindak lanjut, perilaku apa yang akan diberikan untuk supervisi lanjutan (jika ada dan diperlukan).
i. Membuat rekapitulasi hasil supervisi yang berfungsi untuk memudahkan menyusun pelaporan dan

    tindak lanjut.

Baca Juga Teknik Supervisi Akademik Yang terbaru Kurikulum 2013

Contoh instrumen rekaman hasil supervisi akademik dapat di downloads pada akhir artikel.

Adapun langkah-langkah supervisi akademik pada observasi kelas dengan mengadaptasi dan menggunakan pendekatan supervisi klinis.

Secara diagram dapat ditunjuk sebagaimana tampak seperti pada Gambar  dibawah ini

I. Langkah I Pertemuan Pra-pengamatan (Pra Observasi)

Kepala Sekolah selaku supervisor menjelaskan pada guru kegiatan spesifik di kelas. Berunding dengan guru untuk membangun saling pengertian dan kemudahan komunikasi (menciptakan suasana yang akrab), sehingga kunjungannya dapat diterima dan tidak menakutkan, dan bagi guru kegiatan supervisi menjadi sebuah kebutuhan untuk memperbaiki dan meningkatkan kompetensinya dalam melaksanakan pembelajaran. Ia dapat mendiskusikan dan memutuskan hal di bawah ini dengan guru, yaitu bagaimana butir-butir di bawah ini akan dilihat berikut.
  1. Fokus Observasi,
  2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
  3. Pengelolaan kelas,
  4. Situasi belajar dan pembelajaran,
  5. Suasana kedisiplinan/disiplin kelas,
  6. Presentasi pelajaran,
  7. Reaksi siswa,
  8. Tugas menulis siswa,
  9. Penggunaan alat bantu audio visual dan alat bantu pembelajaran lainnya dan
  10. Menentukan alat bantu (instrumen) observasi yang akan digunakan ,
Kepala sekolah/supervisor juga menetapkan teknik supervisi yang akan dilakukan seperti berikut.
  1. Duduk pada bagian belakang dan memperhatikan.
  2. Berjalan mengelilingi kelas dan melihat apa yang dikerjakan siswa?
  3. Mencoba memberikan contoh dengan menyajikan sebuah model pembelajaran.
  4. Mengajukan sesi tanya jawab di dalam kelas.

II. Langkah-II Pengamatan ( Observasi)

Setelah melakukan pertemuan sebelumnya serta berdiskusi dengan guru, Kepala Sekolah/Supervisor harus memutuskan hal-hal yang harus diamati dari kejadian-kejadian yang ada, misalnya berikut.
  1. Apakah guru secara konsisten mendominasi kelas sepanjang waktu?
  2. Apakah ia melibatkan kelas dalam proses?
  3. Seberapa banyak ia menggunakan papan tulis?
  4. Apakah metodenya efektif?
  5. Apakah tayangan dalam alat bantu audio visual dan alat bantu pembelajaran lainnya relevan dengan materi ajar?
  6. Seberapa banyak pembelajaran nyata terjadi di dalam kelas?
Selama pengamatan, Kepala Sekolah/Supervisor mencatat butir petunjuk konstruktif dan positif, yang nantinya akan didiskusikan dengan guru.
Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: (1) tidak mengganggu proses pembelajaran, (2) tidak bersifat menilai/menghakimi dan (3) mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama. 

III. Langkah-III Analisis hasil pengamatan (observasi)

Kepala Sekolah/Supervisor mengorganisasi data pengamatan ke dalam bidang/mata pelajaran yang jelas untuk umpan balik pada guru.

Kepala Sekolah/Supervisor kemudian membuat analisis yang menyeluruh/komprehensif pada data yang ada untuk menafsirkan hasil pengamatannya, dengan menjawab pertanyaan,
  • Jika ini merupakan proses daur ulang, maka ia menentukan apakah dibutuhkan perubahan yang menyeluruh.
  • Jika demikian, apakah mereka memiliki pengaruh yang diinginkan terhadap bidang yang menjadi minatnya.
Berdasarkan analisisnya, maka Kepala Sekolah/Supervisor kemudian mengidentifikasi perilaku pembelajaran yang positif, yang harus dipelihara dan perilaku negatif yang harus dirubah, agar dapat menyelesaikan/menanggulangi masalah. 

IV. Langkah-IV Pertemuan setelah pengamatan (Pasca Observasi)

Data yang telah dianalisis ditunjukkan pada guru. Umpan balik diberikan sedemikian sehingga guru dapat memahami temuan, mengubah perilaku yang teridentifikasi dan mempraktekkan panduan yang diberikan.

Penerimaan dan internalisasi merupakan capaian terbaik. Hal ini terjadi apabila hubungan antara guru dengan kepala sekolah/supervisor dapat digolongkan ke dalam sifat kooperatif dan kolegalitas yang tidak mengancam.

Hubungan yang bersahabat merupakan hubungan yang banyak manfaatnya. Hubungan mereka harus mencerminkan hal berikut.
  1. Kepercayaan timbal balik terhadap kemampuannya masing-masing.
  2. Kepercayaan/ ketergantungan satu sama lain sebagai bentuk pertolongan/bantuan konstruktif
  3. Pendirian untuk saling bekerja sama menuju tujuan bersama. 
Beberapa kegiatan pasca observasi yang dilakukan antara lain sebagai berikut.
  1. Melakukan konfirmasi hasil penilaian diri
  2. Melakukan klarifikasi temuan/catatan khusus selama observasi berdasarkan pengamatan maupun informasi dari peserta didik
  3. Memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang terlaksana dengan baik
  4. Menyampaikan hasil evaluasi hasil supervisi
  5. Menggali informasi tentang kesulitan/hambatan yang dihadapi guru atau peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
  6. Memberi masukan dan saran untuk mengatasi kesulitan/hambatan serta perbaikan yang diperlukan
  7. Memberikan motivasi untuk terus menindaklanjuti hasil supervisi dan mendorong peningkatan profesionalisme melalui kegiatan MGMP, seminar, forum ilmiah, atau pendidikan lanjut
  8. Menandatangani secara bersama dengan guru hasil supervisi setelah dilakukan konfirmasi.

V.  Langkah ke-V Evaluasi Hasil Pengamatan

Dari umpan balik kepala sekolah/supervisor dan dukungan pada guru, maka dapat ditentukan bersama:

1) Perilaku positif pembelajaran yang harus dipelihara.
2) Strategi-strategi alternatif untuk mencapai perubahan yang diinginkan.
3) Kelayakan/kepantasan dari menggunakan kembali metode yang pernah dilakukan.

Asumsinya adalah apabila perilaku guru berubah, maka permasalahan spesifik dalam bidang yang menjadi perhatian akan dapat diselesaikan.

McGreal (1983) menyatakan bahwa guru pada akhir tahun seharusnya menerima nilai sumatif mereka , misalkan dengan kriteria M=memuaskan, B= baik, PP = perlu peningkatan. Faktor penyumbang perolehan nilai tersebut adalah keragaman keluaran yang terkait dengan guru, misalnya: promosi jabatan dan kenaikan gaji.

B. Laporan Hasil Supervisi

Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran disusun dalam bentuk laporan untuk kepentingan tindak lanjut pengembangan keprofesionalan pendidik secara berkelanjutan.

Pelaporan supervisi akademik adalah representasi semua kegiatan supervisi selama kurun waktu tertentu semester atau tahunan

Kebermaknaan dan keterukuran hasil pelaporan supervisi akademik akan mencerminkan profil mutu guru dan sebagai penanda baik/buruknya mutu pembelajaran.

Laporan sederhana hasil supervisi akademik sedikit-dikitnya memuat (1) Pendahuluan/ Latar Belakang, (2) Hasil Supervisi, dan (3) Kesimpulan/Penutup.

Berikut adalah salah satu contoh sistematika laporan supervisi akademik yang lengkap meliputi :.
  • Halaman Judul
  • Kata Pengantar
  • Daftar Isi
  • Bab I. Pendahuluan
  • Bab II. Kerangka Pikir
  • Bab III. Pendekatan dan Metode
  • Bab IV. Hasil Supervisi
  • Bab V. Kesimpulan/Penutup
  • Daftar Pustaka
  • Lampiran- lampiran ( Rekaman Hasil Supervisi )

C. Tindak Lanjut Supervisi

Kegiatan akhir pengawasan proses adalah tindak lanjut yakni melakukan analisis hasil pelaporan supervisi akademik yang memuat peta mutu guru hasil supervisi akademik guna memberikan rekomendasi terkait peningkatan mutu.

Dalam melakukan tindak lanjut hasil supervisi ini, sebagaimana tercantum dalam Permendikbud Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses yang meliputi berikut.

a. Penguatan dan penghargaan kepada pendidik yang kinerjanya memenuhi atau melampaui standar.
b. Pemberian kesempatan kepada pendidik untuk mengikuti program pengembangan keprofesian 
    berkelanjutan.

Adapun hal-hal yang diperhatikan pada tindak lanjut hasil supervisi yang meliputi ruang lingkup antara lain:
a. Pelaksanaan KTSP
b. Persiapan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran oleh pendidik.
c. Pencapaian standar kompetensi lulusan, standar proses, standar Isi, dan peraturan pelaksanaannya.
d. Peningkatan mutu pembelajaran melalui pengembangan aspek-aspek sebagai berikut:
1) model kegiatan pembelajaran yang mengacu pada Standar Proses;
2) peran serta peserta didik dalam proses pembelajaran secara aktif, kreatif, demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong
kreativitas dan dialogis;
3) pembentuk karakter, pola pikir dan kebebasan berpikir peserta didik sehingga dapat melaksanakan aktivitas intelektual yang
kreatif dan inovatif, berargumentasi, mempertanyakan, mengkaji, menemukan, dan memprediksi;
4) keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar yang dilakukan secara sungguh - sungguh dan mendalam untuk
mencapai pemahaman konsep, tidak terbatas pada materi yang diberikan oleh pendidik; dan
5) bertanggung jawab terhadap mutu perencanaan kegiatan pembelajaran untuk setiap mata pelajar yang diampunya agar siswa mampu:

a) meningkat rasa ingin tahunya;
b) mencapai keberhasilan belajarnya secara konsisten sesuai dengan tujuan pendidikan;
c) memahami perkembangan pengetahuan dengan kemampuan mencari sumber informasi;
d) mengolah informasi menjadi pengetahuan;
e) menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah;
f) mengkomunikasikan pengetahuan pada pihak lain; dan
g) mengembangkan belajar mandiri dan kelompok dengan proporsi yang wajar.

Tindak lanjut merupakan justifikasi, rekomendasi, dan eksekusi yang disampaikan oleh kepala satuan pendidikan tentang pendidik yang menjadi sasaran kepengawasannya.

Seperti diuraikan sebelumnya, ada tiga alternatif tindak lanjut yang diberikan terhadap pendidik. Ketiga tindak lanjut itu adalah:
  1. Penguatan dan penghargaan diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar;
  2. Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada guru yang belum memenuhi standar; dan
  3. Pendidik diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan/penataran lebih lanjut.
Pendidik perlu penguatan atas kompetensi yang dicapainya.

Penguatan adalah bentuk pembenaran, bentuk legalisasi, dan bentuk pengakuan atas kompetensi yang dicapainya.Pengakuan seperti ini diperlukan oleh pendidik, bukan hanya sebagai motivasi atas keberhasilannya, tetapi juga sebagai kepuasan individu dan kepuasan profesional atas kerja kerasnya.

Penguatan seperti ini jarang, bahkan hampir tidak diterima oleh pendidik.Penghargaan bagi pendidik yang telah memenuhi standar perlu diberikan. Hal itu akan membedakan antara guru yang berkompetensi standar dengan yang belum standar.

Bentuk penghargaan yang diberikan sesuai dengan kondisi pada satuan pendidikan bersangkutan atau ditentukan oleh kepala satuan pendidikan dan pengawas sekolah yang menjadi pengawasnya.

Teguran yang bersifat mendidik diberikan kepada pendidik yang belum memenuhi standar.

Teguran dapat dilakukan dengan cara lisan atau tertulis. Idealnya, untuk memenuhi persyaratan administratif, teguran sebaiknya disampaikan secara tertulis sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan didokumentasikan.

Jika teguran itu berhasil memotivasi guru, kegiatan tersebut akan bermakna positif baik bagi yang bersangkutan.Intinya, teguran yang bersifat mendidik adalah teguran yang diharapkan dapat menimbulkan perubahan positif.

Tindak lanjut yang terakhir adalah merekomendasikan agar pendidik diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau penataran. Rekomendasi itu bukan hanya bermakna bagi guru, tetapi juga bermakna bagi institusi tempat pendidik bertugas untuk meningkatkan kinerjanya.

Cara-cara melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi akademik sebagai berikut.
  1. Mengkaji rangkuman hasil penilaian.
  2. Apabila ternyata tujuan supervisi akademik dan standar-standar pembelajaran belum tercapai, maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap pendidik yang menjadi tujuan pembinaan.
  3. Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapai maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik pendidik untuk masa berikutnya.
  4. Membuat rencana aksi supervisi akademik berikutnya.
  5. Mengimplementasikan rencana aksi tersebut pada masa berikutnya.
Sedangkan untuk melaksanakan pembinaan bagi guru maka perlu diperhatikan lima langkah pembinaan kemampuan pendidik melalui supervisi akademik, yaitu:
  1. menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis,
  2. analisis kebutuhan,
  3. mengembangkan strategi dan media,
  4. menilai, dan
  5. revisi.
Kegiatan pembinaan dapat berupa pembinaan langsung dan tidak langsung.

1. Pembinaan langsung

Pembinaan ini dilakukan terhadap hal-hal yang sifatnya khusus, yang perlu perbaikan dengan segera dari hasil analisis supervisi.

2. Pembinaan tidak langsung

Pembinaan ini dilakukan terhadap hal-hal yang sifatnya umum yang perlu perbaikan dan perhatian setelah memperoleh hasil analisis supervisi.

Beberapa cara yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam membina pendidik untuk meningkatkan proses pembelajaran, seperti hal berikut.
  1. Menggunakan secara efektif petunjuk bagi pendidik dan bahan pembantu pendidik lainnya.
  2. Menggunakan buku teks secara efektif.
  3. Menggunakan praktek pembelajaran yang efektif yang dapat mereka pelajari selama pelatihan profesional/inservice training.
  4. Mengembangkan teknik pembelajaran yang telah mereka miliki.
  5. Menggunakan metodologi yang luwes (fleksibel).
  6. Merespon kebutuhan dan kemampuan individual siswa.
  7. Menggunakan lingkungan sekitar sebagai alat bantu pembelajaran.
  8. Mengelompokkan siswa secara lebih efektif.
  9.  Mengevaluasi siswa dengan lebih akurat/teliti/seksama.
  10.  Bekerja sama dengan pendidik lain agar lebih berhasil.
  11.  Mengikutsertakan masyarakat dalam mengelola kelas
  12.  Meraih moral dan motivasi mereka sendiri.
  13.  Memperkenalkan teknik pembelajaran modern untuk inovasi dan kreatifitas layanan pembelajaran.
  14. Membantu membuktikan siswa dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis, menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan.
  15. Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif.

Demikian penjelasan tentang instrumen perencanaan supervisi akademik dan tidak lanjutnya. Jika artikel ini bermanfaat silahkan tinggalkan komentar atau share ke teman anda semua.

Terima kasih

Downloads Instrumen Supervisi Akademik DI SINI


Teknik Supervisi Akademik Yang Terbaru Kurikulum 2013

Pada implementasi kurikulum 2013 terdapat hal-hal baru diseputar kegiatan pembelajaran yang dimulai dari perencanaan, proses, dan penilaian, sehingga keterlaksanaan implementasi Kurikulum 2013 sebenarnya sudah dapat dideteksi oleh seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.

Untuk mendukung peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mengimplementasikan kurikulum 2013 di sekolah, dibutuhkan Kepala Sekolah yang memahami kurikulum sehingga diharapkan dapat membimbing, menjadi contoh, dan menggerakkan pendidik dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut.

Salah satu bentuk kontrol dan penjaminan mutu pembelajaran adalah pengawasan proses sebagaimana diamanatkan dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016.

Dalam satuan pendidikan bentuk pengawasan proses dalam penjaminan mutu pembelajaran adalah supervisi akademik yang berkelanjutan sebagai salah satu implementasi kurikulum , dalam hal ini kurikulum 2013.

Tujuan kegiatan supervisi akademik oleh Supervisor (Kepala sekolah) adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran.

Tujuan lain sebagaimana pendapat Sergiovanni (1987), kegaiatan supervisi akademik bertujuan untuk (a) Pengembangan Profesionalisme; (b) Pengawasan Kualitas; (c) Penumbuhan Motivasi.

Yang dapat digambarkan sebagai trilogi supervisi berikut ini.


Selain itu, kegiatan supervisi pembelajaran harus membantu guru agar mampu melakukan proses pembelajaran yang berkualitas dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan mandiri.

Sasaran supervisi akademik adalah guru sebagai pelaksana proses pembelajaran, yang di dalamnya mencakup materi pokok dalam proses pembelajaran, pengenalan buku ajar, penyusunan RPP, pemilihan strategi/model/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas.

Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan/SKL, sasaran supervisi pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi.

Harus Kita ingat bersama, bahwa dalam konteks Kurikulum 2013, supervisi akademik adalah upaya untuk menciptakan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Fungsi Supervisi Akademik secara singkat sebagai sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.

Sedangkan Manfaat Supervisi akademik antara lain sebagai berikut.
  1. Guru yang disupervisi akan mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam membuat perencanaan pembelajaran.
  2. Guru yang bersangkutan dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas.
  3. Guru yang bersangkutan akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya dalam merencanakan dan mengembangkan instrumen penilaian pembelajaran.
  4. Sebagai bahan refleksi guru untuk menambah dan meningkatkan wawasan serta pengetahuan
Dalam pelaksanaan supervisi akademik supervisor ( kepala sekolah) harus memperhatikan Prinsip-prinsip sebagai berikut.
  1. Praktis, artinya mudah dikerjakan sesuai kondisi sekolah.
  2. Sistematis, artinya dikembangan sesuai perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.
  3. Objektif, artinya masukan sesuai aspek-aspek instrumen.
  4. Realistis, artinya berdasarkan kenyataan sebenarnya.
  5. Antisipatif, artinya mampu menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan terjadi.
  6. Konstruktif, artinya mengembangkan kreativitas dan inovasi pendidik dalam mengembangkan proses pembelajaran.
  7. Kooperatif, artinya ada kerja sama yang baik antara supervisor dan pendidikdalam mengembangkan pembelajaran.
  8. Kekeluargaan, artinya mempertimbangkan saling asah, asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran.
  9. Demokratis, artinya supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.
  10. Aktif, artinya pendidik dan supervisor harus aktif berpartisipasi.
  11. Humanis, artinya mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka, jujur, ajeg, sabar, antusias, dan penuh humor
  12. Berkesinambungan (supervisi akademik dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh Kepala sekolah).
  13. Terpadu, artinya menyatu dengan dengan program pendidikan.
  14. Komprehensif, artinya memenuhi ketiga tujuan supervisi akademik.
Tahapan / siklus yang digunakan dalam melakukan kegiatan supervisi akademik mengikuti alur kegiatan pelakasanaan pada pengawasan proses, sebagaimana Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses.

Alur siklusnya meliputi, pemantauan, supervisi, pelaporan dan tindak lanjut, dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1. Pemantauan

Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan melalui antara lain, diskusi kelompok terfokus, pengamatan,pencatatan, perekaman, wawancara, dan dokumentasi.

2. Supervisi

Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran yang dilakukan melalui antara lain, pemberian contoh, diskusi, konsultasi, atau pelatihan pelaporan.

3. Hasil kegiatan pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses pembelajaran disusun dalam bentuk
laporan untuk kepentingan tindaklanjut pengembangan keprofesionalan pendidik secara berkelanjutan.

4. Tindak Lanjut

Tindak lanjut hasil pengawasan dilakukan dalam bentuk:

a. penguatan dan penghargaan kepada guru yang menunjukkan kinerja yang memenuhi atau
    melampaui standar; dan
b. pemberian kesempatan kepada guru untuk mengikuti program pengembangan keprofesionalan
    berkelanjutan

Menurut Sahertian (dalam Bahan Ajar Supervisi Akademik) pendekatan yang digunakan dalam melaksanakan supervisi akademik, ada 3, yaitu sebagai berikut.

1. Pendekatan Langsung (Direktif)

Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan.

2. Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)

Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan, memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah

3. Pendekatan Kolaboratif

Pendekata koplaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Perilaku supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi

Metode Supervisi akademik yang biasa digunakan adalah metode langsung dan metode tak langsung, secara matrik dapat digambarkan sebagai berikut

Teknik supervisi akademik terdiri atas dua macam, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok

1. Teknik Supervisi Individual

Teknik supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru, teknik supervisi individual terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antar kelas dan menilai diri sendiri.

2. Teknik Supervisi Kelompok

Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditunjukkan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan- kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu, kemudian diberi layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhannya. Secara lengkapnya, teknik supervisi akademik bisa dilihat pada Gambar 


Baca Juga Instrumen Perencanaan dan Pelaksanaan Supervisi Akademik
Secara skematik keterkaitan antara pendekatan, metode dan teknik ditunjukkan oleh Gambar

Sebagai indikator keberhasilan kegiatan supervisi akademik perlu diperhatikan rambu-rambu berikut.
1) Kemampuan guru meningkat, khususnya dalam kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan
    mengevaluasi pembelajaran.
2) Kualitas pembelajaran menjadi lebih baik, khususnya berkenaan dengan kemampuan guru
    mengajar. (Pembelajaran yang berkualitas diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
    yang tinggi)
3) Terjalin hubungan yang kolegial antara supervisor dan guru dalam memecahkan permasalahan-
    permasalahan pembelajaran yang dihadapi guru di lapangan.

Agar kegiatan supervisi menjadi bernilai dan berarti, maka penyiapan dan pemilihan instrumen yang baik dan representatif sesuai kebutuhan harus menjadi perhatian bagi supervisor (kepala sekolah).

Baca Juga Instrumen perencanaan dan pelaksanaan Kegiatan Supervisi Akademik Terbaru

Adapun tahapan mensiapkan instrumen supervisi, dikelompokkan menjadi berikut ini.

1) Persiapan pendidik untuk mengajar terdiri dari:
a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b. Program Tahunan.
c. Program Semesteran.
d. Pelaksanaan proses pembelajaran.
e. Penilaian hasil pembelajaran.

2) Instrumen supervisi kegiatan belajar mengajar
a. Lembar observasi (RPP, Pembelajaran, Penilaian hasil pembelajaran)
b. Suplemen observasi (ketrampilan mengajar, karakteristik mata pelajaran, pendekatan klinis, dan
    sebagainya).

Demikian uraian teknik supervisi akademik yang dapat saya sampaikan , semoga bermanfaat, dan bila berkenan tinggalkan komentar atau share ke teman lainya

Terima kasih

Paradigma Pembelajaran Pada Kurikulum 2013 Revisi 2017





Dalam implementasinya, Kurikulum 2013 terus mengalami perubahan dari tahun ketahun, hal ini tidak lain adalah sebagai upaya penyempurnaan pelaksanaan dan penerapannya untuk mencapai hasil pendidikan yang optimal dan bervisi global.

Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter setiap siswa sebagai hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga dan masyarakat.

Sebagaimana Pengertian pembelajaran berdasarkan Permendikbud No. 103 Tahun 2014 .Pembelajaran adalah proses interaksi antar siswa, antara siswa dengan tenaga guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar .
Proses tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam membangun bertumbuhnya sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia.

Dengan demikian sekolah bekerjasama dengan keluarga dan masyarakat dalam rangka membangun karakter bangsa.

Dari pemahaman di atas maka paradigma pembelajaran pada kurikulum 2013 memahami bahwa Keluarga merupakan tempat pertama bersemainya bibit sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Oleh karena itu, peran keluarga tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sekolah dalam membangun karakter bangsa.

Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan siswa yang dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

Sedangkan masyarakat merupakan salah satu tempat berlangsungya pendidikan yang beragam yang perlu diselaraskan antara satu dengan yang lain, misalnya media massa, bisnis industri, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga keagamaan.

Pertanyaan selanjutnya adalah Bagaimana Implementasinya pada Satuan Pendidikan atau Sekolah?

Kurikulum 2013 menekankan kepada pembelajaran langsung (direct teaching) dan tidak langsung (indirect teaching).

Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan siswa melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP.

Implementasinya, Kegitan pembelajaran di sekolah dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Secara singkat dapat di uraikan sebagai berikut :
  • Kegiatan intrakurikuler dilaksanakan melalui mata pelajaran,
  • Kegiatan kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang terkait langsung dengan mata pelajaran, misalnya tugas individu, tugas kelompok, dan pekerjaan rumah berbentuk proyek atau bentuk lainnya.
  • Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum.
Dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.

Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect).

Pembelajaran tidak langsung, berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap yang terkandung dalam KI-1 dan KI-2.

Kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial pada mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti dan mata pelajaran PPKn, dicapai melalui pembelajaran langsung (direct teaching) dan tidak langsung (indirect teaching)

Sementara untuk mata pelajaran lainya, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu melalui keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah, dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa.

Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter siswa lebih lanjut.
Hal ini dapat digambarkan melalui Pendekatan saintifik dalam proses Pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar sebagai berikut :



Pengalaman Belajar

Deskripsi Kegiatan yang Dilakukan

Bentuk Hasil Belajar


Mengamati
(observing)

Mengamati
dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan
sebagainya) dengan atau tanpa alat.

Perhatian
pada waktu mengamati suatu objek/ membaca suatu tulisan/mendengar suatu
penjelasan, catatan yang dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on
task) yang digunakan untuk mengamati

Menanya
(questioning)

Membuat
dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang
belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai
klarifikasi.

Kemampuan
mengajukan pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dari kompleks ke yang
lebih kompleks antara lain berbentuk hipotetik.

Mengumpulkan
informasi / mencoba (experimenting)

Mengeksplorasi,
mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan
eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara
sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan

Jumlah
dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan informasi, validitas
informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang digunakan untuk
mengumpulkan data.

Menalar/Mengasosiasi
(associating)

Mengolah
informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat
kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait
dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.

Mengembangkan
interpretasi,
argumentasi
dan kesimpulan mengenai keterkaitan informasi dari dua fakta(konsep),
interpretasi argumentasi dan kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua
interpretasi, struktur
baru,
argumentasi dan kesimpulan dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari
berbagai jenis sumber.

Mengomunikasikan
(communicating)

Menyajikan
laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis;
dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan

Menyajikan
hasil
kajian
(dari mengamati
sampai
menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan
lain-lain.


Bagian Lain yang utama dan tidak boleh terlupakan adalah peserta didik itu sendiri.

Siswa adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan.

Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Agar benar- benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka siswa perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.

Pengalaman belajar inilah nantinya akan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat dan sebaliknya siswa dapat memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.

Siswa membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta menerapkannya dalam berbagai situasi kehidupan baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Oleh karena itu, pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan potensi siswa agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Singkatnya, keterjalinan, keterpaduan, dan konsistensi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat harus diupayakan dan diperjuangkan secara terus menerus sebagai tripusat pendidikan sekaligus menjadi sumber belajar yang saling menunjang.

Sehingga dalam implementasinya pembelajaran di sekolah perlu memperhatikan prinsip – prinsip berikut ini :
  1. Siswa difasilitasi untuk mencari tahu dan belajar dari berbagai sumber belajar.
  2. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah, berbasis kompetensi, berbasis keterampilan aplikatif, dan terpadu.
  3. Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi.
  4. Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills.
  5. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat.
  6. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan(ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tutwurihandayani);
  7. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
  8. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
  9. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
  10. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
Pelabuhan terakhir sebagai output dari karakteristik yang diharapkan adalah tercermin dari tiga ranah yang dikembangkan, mencakup Gradasi sikap, Pengetahuan dan Keterampilan, sebagaimana yang digambarkan dalam gradasi berikut ini
  1. Sikap, Gradasinya : Menerima , menjalankan, Menghargai, Menghayati ,dan Mengamalkan
  2. Pengetahuan, Gradasinya : Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, mengevaluasi, dan Mencipta
  3. Keterampilan Gradasinya : Mengamati , Menanya , Mencoba , Menalar, menyaji dan Mencipta.
Demikian gambaran tentang Paradigma yang sekarang berkembang dalam pembelajaran sebagaimana yang diharapkan dalam Kurikulum 2013. Jika artikel ini bermanfaat silahkan share ke teman atau tinggalkan komentar anda.

Terima kasih

#Kurikulum 2013,#Paradigma Pembelajaran