Model Pembelajaran Saintifik

     Cara atau teknik yang digunakan oleh guru kepada siswa dalam menyajikan materi pembelajaran dalam sebuah proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang sudah dirancang dapat tercapai menjadi sangat penting dipahami dan dipraktekan dalam proses pembelajaran sehari – hari di sekolah sebagai suatu lembaga formal yang selama ini dipercaya sebagai salah satu sumber utama pembinaan dan pencetak sumber daya manusia.
Model Pembelajaran Saintifik

    Oleh karenanya sudah menjadi suatu keharusan bagi para pendidik untuk mengenal metode pembelajaran dan model pembelajaran yang sesuai dan tepat untuk dilaksanakan agar tujuan yang yang dimaksud dapat dicapai. Dan pada kesempatan kali ini akan saya coba paparkan beberapa metode model pembelajaran, tepatnya yang berkenaan dengan mata pelajaran IPA, akan tetapi ini tidak menutup kemungkinan diterapkan pada bidang studi selain IPA.
    Jika membahas tentang beberapa contoh dari model-model pembelajaran itu sendiri, ada beberapa model yang sudah tidak asing lagi dengan kita, namun beberapa diantaranya juga merupakan model yang tergolong baru dan relevan dengan penerapan kurikulum saat ini. Beberapa contoh metode pembelajaran yang sudah umum diketahui yaitu metode ceramah, diskusi, studi kasus, demonstrasi, dan lain sebagainya. Sedangkan beberapa model pembelajaran yang terbilang up to date antara lain adalah model Discovery Learning, Project Based Learning,

    Problem Based Learning, Model Learning Cycle, dan Model Science Technology and Society (STS), dan masih banyak lagi lainnya.
    Dari sekian banyak model-model pembelajaranhttp://taufikiminia.blogspot.co.id/2017/11/model-pembelajaran-saintifik.html yang sudah disebutkan di atas, tidak ada satupun yang bisa dianggap sebagai model pembelajaran terbaik. Hal itu dikarenakan setiap model pembelajaran yang diterapkan oleh seorang tenaga pendidik selalu saja disertai dengan kelebihan dan kekurangan.

Oleh karenanya Para tenaga pendidik dalam menerapkannya perlu memperhatikan sintaks (urutan kegiatan/tahapan pembelajaran), sistem sosial (situasi atau norma yang berlaku dalam model, prinsip reaksi (upaya guru dalam membimbing dan merespon siswa atau pola kegiatan bagaimana guru memperlakukan siswa), sistem pendukung (faktor- faktor yang harus diperhatikan, dimiliki guru dalam menggunakan model serta sarana prasarana yang diperlukan untuk melaksanakan model), dan dampak pembelajaran (langsung dan iringan).

    Berikut uraian tentang konsep model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran khususnya IPA dan pada pembelajaran pada umumnya :

1. Model Pembelajaran Discovery Learning

    Discovery mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan jika ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui, masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.

    Pembelajaran pada model Discovery Learning meliputi: Tahap Stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan), Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah), Data collection (pengumpulan data), Data processing (pengolahan data), Verification (pembuktian) dan Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

2. Model Pembelajaran Project Based Learning

    Project Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Proyek adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam suatu kegiatan (proyek) yang menghasilkan suatu produk. Keterlibatan siswa mulai dari merencanakan, membuat rancangan, melaksanakan, dan melaporkan hasil kegiatan berupa produk dan laporan pelaksanaanya. Model pembelajaran ini menekankan pada proses pembelajaran jangka panjang, terlibat secara langsung dengan berbagai isu dan persoalan kehidupan sehari-hari, belajar bagaimana memahami dan menyelesaikan persoalan nyata, bersifat interdisipliner, dan melibatkan siswa sebagai pelaku mulai dari merancang, melaksanakan dan melaporkan hasil kegiatan (student centered).

    Model pembelajaran ini bertujuan untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahami pembelajaran melalui investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif

3. Model Problem Based Learning (PBL)

     Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Model pembelajaran ini bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya.

A. Prinsip Proses Pembelajaran PBL

     Prinsip-prinsip PBL yang harus diperhatikan pada dalam penggunaannya meliputi
  • konsep dasar, 
  • pendefinisian masalah, 
  • pembelajaran mandiri, 
  • pertukaran pengetahuan dan penilaiannya. 
B. Kelebihan Problem Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Masalah)
  • Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
  • Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan
  • PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.. 
4. Model Siklus Belajar

    Model siklus belajar awalnya dikembangkan oleh Karlplus dan Thier (1967). Model ini memiliki tiga fase, yaitu fase Eksplorasi (Exploration), fase Penelusuran (Invention), dan fase Penemuan (Discovery). Namun, belakangan oleh Lawson (1988) fase-fase tersebut dinamai fase Eksplorasi (Exploration), fase Pengenalan Istilah (Term introduction), dan fase Penerapan Konsep (Concept application). (Lawson,1995:153)

Berdasarkan jenisnya, siklus belajar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu: descriptive, empirical-abductive, dan hypothetical-deductive. Perbedaan di antara ketiganya terletak pada derajat siswa dalam mencapai penggambaran alam atau dalam menghasilkan hipotesis dan mengujinya.
Baca Juga : Langkah - Langkah Penerapan Model Pembelajaran
    Selanjutnya, model 3E dikembangkan menjadi 5E. Model Siklus Belajar 5E dikemukakan oleh Bybee, terdiri atas 5 fase, yaitu: Engagement (pelibatan siswa), Exploration (eksplorasi/penggalian informasi), Explanation (penjelasan), Elaboration (penjelasan lebih lanjut), dan Evaluation (evaluasi), sebagai implementasi dari teori belajar konstruktivisme dan implementasi pembelajaran sains berbasis inkuiri.

   Sebagaimana dalam suatu siklus manapun, tidak ada akhir dari sebuah proses. Setelah fase elaborasi, maka fase engagement akan dimulai. Evaluasi bukanlah sebagai tahap akhir, kegiatan ini berlangsung pada empat tahap/fase belajar lainnya.

5. Model pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat
    
Model pembelajaran STM atau STS ( sains teknologi sosial ) berorientasi pada konstruktivisme. Model STS yang diajukan oleh Horsley, et.al, (1990:59), Carin (1997:74), dan Yager (1992:15) meliputi empat tahap, yaitu tahap invitasi, tahap eksplorasi, penemuan, dan penciptaan, tahap pengajuan penjelasan dan solusi, serta tahap pengambilan tindakan.

Demikian Model Pembelajaran Saintifik yang dapat kami share semoga bermanfaat. kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar

Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Pada Peserta Didik

Guru mempunyai kewajiban untuk selalu memperbaharui dan meningkatkan kompetensinya melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai esensi pembelajar seumur hidup. 

Penguasaan guru atas konsep dan implementasi dari kompetensi Pedagogik tentang Karakteristik Peserta Didik dan Pengembangan Potensi Peserta Didik membekali guru untuk menghantarkan peserta didik asuhannya secara percaya diri memperoleh pencapaian terbaik mereka sesuai dengan karakteristiknya. Dengan demikian, potensi yang dimiliki seluruh peserta didik dapat mewujud dalam bentuk prestasi yang beragam secara optimal. 

Mengingat peserta didik adalah subjek yang akan dibelajarkan, maka guru perlu termotivasi, bekerja keras, dan kreatif untuk mengenal karakteristik dan potensi peserta didik serta cara mengembangkannya.
Setelah memahami kedua kompetensi diatas maka implementasi Pendidikan Karakter yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam Pembelajaran adalah :

1. Dalam pembelajaran guru harus memperhatikan tahap dan tugas-tugas perkembangan serta keragaman karakteristik individu diantaranya yaitu:

  • Menyusun RPP yang sesuai dengan tahap dan tuigas perkembangan peserta didik pada masa remaja;
  • Guru perlu merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keragaman karakteristik peserta didik, dan menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif agar setiap individu dapat belajar secara optimal;
  • Adanya  perbedaan dalam kecepatan perkembangan, maka dalam pembelajaran perlu adanya pendekatan individualitas disamping kelompok;
  • Guru memberi motivasi kepada setiap peserta didik agar melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada masa remaja.

Pendidikan Karakter

2. Perkembangan Kemampuan Intelektual

Berikut ini adalah hal yang dapat dilakukan guru. setelah memahami pekembangan kemampuan intelektual

  • Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman dalam kemampuan Intelektual, kecerdasan majemuk, kemampuan kognitif, dan kreativitas agar tercapai prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya, termasuk pertimbangkan pemikir operasional konkret yang mungkin masih ada di kelas Anda.
  • Rancang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas.
  • Ciptakan iklim belajar-mengajar yang kondusif untuk memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik secara optimal.
  • Berikan layanan individual disamping kelompok kepada peserta didik yang sangat cerdas atau yang lambat belajar.

3. Perkembangan Fisik dan Kesehatan
Normalitas jasmaniah, keterlambatan, atau terlalu cepatnya dalam mencapai kematangan dalam pertumbuhan fisik serta kesehatan dapat menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya dan pada kegiatan belajar khususnya.

Berikut ini hal yang dapat dilakukan guru setelah memahami perkembangan fisik dan kesehatan peserta didik.

  • Miliki data kondisi fisik dan kesehatan setiap peserta didik, dan memperhatikan kesehatan peserta didik pada awal pembelajaran.
  • Beri perhatian khusus kepada peserta didik yang mengalami gangguan panca indera
  • Miliki pemahaman yang empatik kepada peserta didik yang memiliki penyakit kronis/bawaan dan tubuh kurang normal seperti cacat fisik.
  • Kerja sama dengan guru BK, wali kelas, dan orangtua, serta dengan tenaga ahli (dokter dan psikolog) jika diperlukan penanganan khusus.
  • Bimbing peserta didik untuk mensyukuri keadaan fisiknya dan bagaimana memelihara kesehatan serta menggunakan tubuhnya secara efektif.

Baca Juga Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik

4. Perkembangan Kecerdasan Emosi dan Perkembangan Sosial

Implementasi dalam Pembelajaran setelah guru memahami perkembangan kecerdasan, dapat melakukan hal – hal berikut ini.


  • Prioritaskan identifikasi peserta didik yang diduga memiliki kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah.
  • Pahami keragaman dalam kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik, serta bersikap bijak menghadapi mereka yang memiliki kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah.
  • Sebagai model sosial tampilkan perilaku yang mencerminkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang tinggi serta Ikhlas dalam mengajar.
  • Ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan kecerdasan emosi dan sosial, yaitu iklim yang demokratis, nyaman, tidak tegang, diselingi humor, dan suasana gembira.
  • Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek kecerdasan emosi dan keterampilan sosial.melalui disiplin, bimbingan dan pembiasaan yang disertai penguatan, serta pembelajaran berbasis kelompok disamping klasikal.
  • Bimbing peserta didik untuk mengekspresikan emosi yang bisa diterima secara sosial.
  • Bekerja sama dengan guru BK, wali kelas dan orang tua untuk membantu peserta didik mengembangkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial.

Implementasi dalam Pembelajaran setelah guru memahami perkembangan kecerdasan sosial dapat mengambil langkah – langkah berikut ini.

  • Jadilah social model dengan menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kepribadian dan moral yang baik, serta cerdas secara spiritual,
  • Bersikaplah menerima semua peserta didik, terutama peserta didik dengan perilaku moral dan kecerdasan spiritual yang masih rendah serta ciptakanlah iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan pribadi peserta didik agar tercapai perkembangan yang optimal.
  • Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek moral atau karakter dan spiritual yang terintegrasi dalam pembelajaran.
  • Kembangkan perilaku moral dan spiritual melalui, pembiasaan dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik.
  • Biasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar dan dorong peserta didik untuk rajin beribadah serta libatkan dalam kegiatan keagamaan dan sosial.
  • Buat suatu proyek/tugas kelompok/kelas yang dapat meningkatkan sikap altruisme (sikap membantu orang lain dengan ikhlas).
  • Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan guru agama serta orangtua untuk membantu meningkatkan perilaku moral dan kecerdasan spiritual.

5. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual

Sikap dan kebiasaan merupakan suatu factor yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam bidang akademik dan keberhasilan hidup di masa depan, oleh karenanya sebagai pendidik perlu mengambil langkah – langkah yang dapat menggiring peserta didik menanamkan sikap dan kebiasaan dalam pembelajaran dan kehidupannya sehari – hari.

Berkaitan dengan hal tersebut guru dapat melakukan tindakan seperti berikut ini :

  • Jadi model/teladan dengan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan seperti disiplin, rajin, semangat, senang membaca buku, dsb.
  • Rancanglah pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan mudah dipahami.
  • Ciptakan iklim belajar yang kondusif yang memudahkan siswa untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
  • Berikan informasi manfaat materi yang akan diajarkan dalam kehidupan sehari-hari, studi lanjut, dan pekerjaan terbangun sikap positif terhadap mata pelajaran.
  • Tingkatkan sikap dan kebiasaan belajar dengan pembiasaan dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik.
  • Bersikap menerima dan bijak terutama kepada peserta didik yang sikap dan kebiasaan belajarnya negatif.
  • Kerjasama dengan wali kelas, guru BK dan orangtua peserta didik untuk meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar peserta didik.

6. Perkembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar

Implementasi dalam Pembelajaran yang dapat dilakukan setelah guru memahami ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang baik, mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik, dan selanjutnya menentukan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangannya dengan mengambil langkah – langkah berikut ini.

  • Sebelum pembelajaran tentukanlah bekal ajar awal atau kemampuan awal peserta didik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
  • Tidak setiap aspek kemampuan peserta didik pada awal pembelajaran sama pentingnya. Akan tetapi menentukan aspek mana yang penting sebagai titik awal dalam interaksi guru dengan peserta didik selama proses belajar itu berlangsung, tergantung pada tujuan pembelajaran.
  • Jika kemampuan yang menjadi prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru harus memberikan beberapa pertanyaan secara lisan kepada kelas atau memberikan tes awal berupa tes tulis singkat.
  • Jadikan keragaman bekal ajar awal menjadi dasar pertimbangan perencanaan dan pengelolaan pembelajaran, baik dalam memilih bahan, prosedur, metode, teknik dan media pembelajaran sesuai dengan bekal ajar awal peserta didik.
  • Ketika akan mengajar perlu dikenali minat dan motivasi belajar, serta sikap belajar peserta didik

7. Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar

Implementasi dalam Pembelajaran setelah dapat memahami konsep kemampuan awal dan kesulitan belajar; cara mengidentifikasinya, serta faktor kesulitan belajar; dan kemudian  menggunakan hasilnya untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik dengan melakukan langkah – langkah seperti berikut ini.

  • Pahami gejala-gejala anak yang memiliki kesulitan belajar.
  • Identifikasi kesulitan belajar dan bantulah peserta didik mengatasi kesulitan belajarnya.
  • Berikan layanan pembelajaran remedial/membuat rujukan
  • Bantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk mengoptimalkan prestasi belajarnya, dan meningkatkan kepercayaan dirinya, minat, serta sikap positif terhadap pelajaran.
  • Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan orangtua.
  • Rancanglah pembelajaran yang sesuai dengan keragaman peserta didik untuk mencegah terjadinya kesulitan belajar

 Demikian Semoga Bermanfaat, jika berkenan tinggalkan komentar anda

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK


Guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif efektif, dan menyenangkan. 

Sehingga mengajar harus dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajar pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar.

Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi di kelas adalah siswa.

Dengan demikian hakikat mengajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa.

Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses daripada hasil).



     Langkah awal untuk mewujudkan proses belajar yang demikian sebagai guru yang profesional adalah menguasai kompetensi pedagogik yang berupa penguatan pendidikan karakter peserta didik dalam berbagai aspek, potensi peserta didik, bekal ajar awal, kesulitan belajar, pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi optimal, dan pembelajaran untuk mengaktualisasi potensi peserta didik.

Perkembangan peserta didik sebagaimana kita tahu bahwa peserta didik berasal dari latar belakang yang berbeda dan dipengaruhi oleh tiga faktor berikut yaitu faktor pembawaan, faktor lingkungan dan kematangan. 

Untuk itu pendidik harus memahami Tujuh perkembangan yang menyangkut Penguatan Pendidikan Karakter peserta didik tersebut di bawah ini

A. Perkembangan Peserta Didik

Menyangkut perkembangan peserta didik pada sekolah menengah harus dipahami tiga hal berikut :

  1. Peserta didik adalah individu yang unik yang memiliki potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi. Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar peserta didik tidak bisa dilepaskan dari karakteristik individunya. 
  2. Remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa kanak-kanak ke masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Menurut Erickson (Santrock, 2012:87) masa remaja merupakan masa berkembangnya identitas diri (self-identity). 
  3. Pemahaman tahap dan tugas perkembangan dapat digunakan oleh pendidik dalam menentukan apa yang harus diberikan kepada peserta didik pada masa-masa tertentu, dan bagaimana caranya mengajar atau menyajikan pengalaman belajar kepada peserta didik pada masa-masa tertentu tersebut. 

B. Perkembangan Kemampuan Intelektual

Untuk menentukan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan intelektual dan kreativitas peserta didik. Perlu dipahami hal – hal berikut :

  1. Intelegensi atau kemampuan intelektual adalah kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif. 
  2. Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget (Santrock, 2012:56) berada pada tahap berpikir operasional formal, remaja bernalar lebih abstrak, idealis dan lebih logis. Tipe pemikiran logis ini disebut juga penalaran deduktif hipotetik 
  3. Anak usia SMA berada pada fase formal operasional, namun banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas. Sedangkan kemampuan intelektual mengalami perkembangan yang paling pesat.
  4. Teori kecerdasan majemuk dari Howard Gardner yaitu kecerdasan linguistik, matematik-logis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, 
  5. Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik yang timbul dari pemikiran divergen. 

C. Perkembangan Fisik dan Kesehatan

Pemahaman pendidik terhadap kondisi fisik peserta didik sangat penting, karena dalam kegiatan belajar tidak hanya melibatkan proses mental saja, akan tetapi melibatkan kegiatan fisik.

Menurut Makmun (2009:95) normalitas dari konstitusi, struktur, dan kondisi jasmaniah seorang anak akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya yang dapat berpengaruh pada sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar.

Untuk itu perlu diperhatikan hal berikut ini.

Perkembangan fisik berpengaruh kepada perkembangan kepribadian, khususnya yang berkaitan dengan masalah citra diri (body–image) konsep diri (self-concept), harga diri (self-esteem).
Pada masa remaja terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas merupakan awal yang penting yang menandai masa remaja. Pada masa pubertas terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok.
Ciri-ciri perkembangan tubuh remaja yaitu, perubahan ukuran tubuh, proporsi tubuh yang kurang proporsional, ciri-ciri kelamin primer dan sekunder.

Pengaruh perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku peserta didik diantaranya ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, terlalu sederhana.
Untuk dapat menerapkannya dalam pembelajaran silahkan baca juga Implementasi Penguatan pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

D. Kecerdasan emosi dan Perkembangan Aspek Sosial

Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif (kritis) emosi cenderung memuncak dan kurang stabil, emosinya sering bersifat negatif dan temperamental. Selain itu munculnya perasaan baru seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.

Kecerdasan emosi memiliki lima wilayah, yaitu (1) mengenali emosi diri; (2) mengelola emosi diri; (3) memotivasi diri sendiri; (4) mengenali emosi orang lain; (5) membina hubungan.

Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, dan konformitas. Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah hubungan dengan lawan jenis, dan senang mengikuti berbagai aktivitas sosial.

Penerimaan sosial oleh teman sebaya sangat penting karena berkaitan dengan harga diri, karena itu remaja harus mampu mengendalikan emosi dan memiliki keterampilan sosial.

Empat status hubungan sosial teman sebaya yaitu anak popular, anak yang diabaikan, anak yang ditolak, dan anak kontroversial.

E. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual

Tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg adalah, (1) prakonvensional; (2) konvensional; (3) pasca konvensional.
Remaja umumnya berada pada tingkat perkembangan ketiga, yaitu moralitas pascakonvensional, pada tahap ini terjadi internalisasi moral dan tidak didasarkan pada standar-standar moral orang lain.

Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral pada masa anak – anak dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum, dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi pedoman untuk berperilaku baik. melalui proses internalisasi.

Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah dirinya dalam mengenal TuhanNya, sebagai hambaNya untuk beribadah kepadaNya

Karakteristik perilaku perilaku moral remaja awal adalah bersikap kritis, skeptis, dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

Gambaran umum perilaku religius pada masa remaja awal yaitu mulai mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai keberadaan dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan YME.




F. Sikap Dan kebiasaan Belajar

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan hasil belajar melalui operant conditioning dan proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang kurang efektif dapat diubah atau dimodifikasi melalui proses belajar yang baru.

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sikap dan kebiasaan belajar tidak hanya berdampak pada prestasi belajar, tapi juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter.

Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien





G. Identifikasi kemampuan awal dan kesulitan Belajar

Sebelum memasuki dan memulai kegiatan belajar-mengajar guru harus mengetahui bekal awal peserta didik.

Hal ini akan memberikan bantuan kepada guru dalam merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan awal peserta didik. Aspek-aspek bekal awal ajar peserta didik meliputi fungsi kognitif, fungsi afektif, psikomotor.

Untuk mengidentifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan mengenai materi yang terdahulu (apersepsi) dan pretest sebelum mereka memulai dengan kegiatan belajar-mengajar.

Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Langkah-langkah dalam mengidentifikasi kesulitan belajar, yaitu
(1) menandai dan menemukan kesulitan belajar, untuk mengetahui siapa siapa yang mengalami kesulitan belajar; (2) melokalisasi letak kesulitan untuk mengetahui di manakah kelemahan-kelemahan itu terjadi; (3) mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan belajar untuk mengetahui mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi.

Semoga artikel sederhana yang mengulas penguatan pendidikan karakter peserta didik ini dapat bermanfaat dan dapat sebagai tambahan pengetahuan, dan bagi yang mau berkomentar atau memberikan masukan silahkan, kami akan senang