Lirik lagu marhabibisalam



Lirik Lagu Marhabibi salam versi gambus

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam

Ahlan ahlan ya habibi...
oh ... oh...

Fakulti habibi tafadhol huna
Tajilassujudi wa tah jassiqam
Fa qolla li inni akhofal idza
‘alainal hisan ‘alainaddawam

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam...


Fakulti ta’ala wala tahisinin
Waini asirrom wa antum khirom
Faqola romuni ba’atissabab
Walakin ‘alimta wa samtim dimam

Marhabibi salam wahuwa lai sa ya’lam
Kulti ya ahlan wa sahlan tib huna wan’am
Ahlan ahlan ya habibi kulti la ta’lam

Memahami Model pembelajaran Remedial Dan Pengayaan dalam Pembelajaran Tuntas

Menurut Carrol bahwa masalah belajar merupakan masalah waktu. Artinya siswa yang mempunyai kemampuan rendah akan memerlukan waktu relatif lebih lama dibanding dengan siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi.

Dalam konsep belajar tuntas, keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh hasil evaluasi yang sudah distandarisasi atau yang kita kenal dengan batas KKM (kemampuan kompetensi minimum)
Sehingga bagi siswa yang belum mencapai KKM berarti harus menjalani Pembelajaran Remedial, sedangkan Yang sudah KKM melakukan Pembelajaran Pengayaan.

Pada posting kali ini saya akan mengajak Anda semua Untuk Memahami tentang Model Pembelajaran Remedial dan Pengayaan dalam pembelajaran tuntas.
Langsung ke pointnya saja, okey ???

Pada konsep pembelajaran remedial :dikenal 3 model pembelajaran sedangkan pada pembelajaran Pengayaan ada dua model pembelajaran. Marilah kita simak bersama penjelasan berikut ini.

I. Tiga Model pembelajaran Remedial

Pembelajaran remedial adalah suatu proses pengulangan pembelajaran yang disebabkan karena siswa yang bersangkutan belum dapat mencapai batas minimal kompetensi yang diikuti dan disyaratkan dalam kelas reguler.

Dalam Model pembelajaran remedial dikenal tiga model pembelajaran sebagai berikut.

A. Model pembelajaran remedial di luar jam pelajaran sekolah(outside school hours)

Fokus model ini untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar pada satu atau beberapa materi subyek, dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pembelajaran dilaksanakan.

Ada tiga keuntungan dari pelaksanaan model ini antara lain :


  1. Siswa mendapat tambahan waktu untuk mempelajari kembali, diluar jam yang biasa diikuti di kelas.
  2. Siswa dibantu mengidentifikasi area materi yang sulit dan mendapatkan panduan untuk mengejar ketertinggalan dengan informasi tambahan agar lebih mudah memahaminya.
  3. Dalam kelompok kecil pada pembelajaran remedial ini siswa mendapatkan kesempatan interaksi lebih dengan guru, sehingga berkesempatan untuk mengajukan kesulitan – kesulitan belajar dan mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna


Namun dalam melaksanakan pembelajaran remedial ini juga harus memperhatikan tiga hal berikut agar hasilnya lebih efektif, yaitu:


  1. Siswa yang tadinya mengalami kesulitan belajar akan lebih siap untuk mengikuti pembelajaran pada kelas reguler
  2. Perlunya perhatian khusus dari orang tua siswa, agar membantu aktivitas siswa diluar jam sekolah ( seperti antar jemput sekolah dan lainnya)
  3. Kerjasama antar guru dengan guru lainnya, siswa dan orang tua.


Berikut ini beberapa pedoman yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran remedial outside school hours :


  1. Penekanan kepada para remediasi agar membantu siswa membangun dasar yang kokoh tentang materi yang sulit dan kemampuan belajar mandiri dengan bimbingan guru.
  2. Guru hendaknya mengkaji intisari kurikulum yang menekankan tentang ketuntasan belajar siswa dan merencanakan materi tambahan yang sesuai agar benar benar memantapkan pengetahuan dasar siswa , sehingga siap untuk mempelajari materi berikutnya.
  3. Guru mempersiapkan metode yang benar – benar tepat dan efektif, sehingga siswa merasa lebih mudah dalam memahami dan menelaah materi pelajaran. ( misal dengan bantuan LKS, membahas soal, atau mencatat hal – hal yang penting)
  4. Mengelompokkan siswa yang setingkat dalam kesulitan belajar dan topik yang sama.
  5. Durasi pembelajaran setidaknya sama dengan jam pelajaran biasa, dengan jumlah pertemuan di sesuaikan kebutuhan.


B. Model pembelajaran remedial pengambilan secara tertentu (withdrawal)

Model remedial ini berarti memisahkan siswa dari kelas biasa kedalam kelas khusus remedial.
Hal ini dilakukan agar pengetahuan dasar yang diperlukan lebih mapan sebagai pondasi untuk mempelajari materi berikutnya.
Model ini tidak digunakan untuk semua materi pelajaran, tetapi hanya pada topik – topik tertentu yang dianggap esensial saja.

Keuntungan dari model remedial ini antara lain :


  1. Guru lebih memahami kebutuhan siswa secara individu, kesulitan masing masing siswa dalam belajar, dan performa siswa di dalam kelas, karena jumlahnya relatif lebih sedikit.
  2. Guru lebih mudah memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa dalam memahami materi yang sulit
  3. Siswa dapat belajar lebih intensif karena interaksi dengan guru lebih meningkat.


Kelemahan dari model remedial ini yaitu

Timbulnya segregasi bagi siswa yang yang mengikuti remedial terlalu lama (misalnya siswa tersebut mendapat julukan tertentu dari teman – temannya ) dan siswa tersebut kehilangan kesempatan berinteraksi dengan rekan sekelasnya (ordinary class)
Untuk menerapkan model remedial withdrawal ini perlu memperhatikan beberapa pedoman berikut ini :


  1. Sekolah harus menjadwalkan secara khusus mata pelajaran dan daftar siswa yang akan dipisahkan ( harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa).
  2. Jumlah siswa dalam satu kelompok belajar sebaiknya jangan lebih dari 15 siswa.
  3. Sekolah harus menentukan prioritas materi atau topik yang akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, terutama topik prasyarat untuk pelajaran berikutnya.
  4. Untuk memudahkan dalam memberikan fondasi pengetahuan kunci , sebaiknya dibuat kelompok siswa yang memiliki peringkat perkembangan intelektual yang sama.


C. Model pembelajaran remedial Tim (Co-teaching)

Model remedial ini dilakukan oleh tim pengajar, yang terdiri dari dua orang atau lebih.

Tugas tim pengajar ini bekerja sama dalam menyiapkan materi pembelajaran dan penilaian hasil belajar yang mengacu pada peningkatan pembelajaran efektif.

Kelebihan dari model remedial ini antara lain :


  1. Membangun kebersamaan dalam kelompok yang menciptakan suasana kondusif bagi lingkungan pendidikan secara keseluruhan di sekolah
  2. Efektifitas pembelajaran dapat lebih ditingkatkan, karena dapat terjadi kerja sama antar guru dalam meningkatkan profesionalitas dan saling bertukar kelebihan dan kekurangan materi.
  3. Lebih luwes dan leluasa dalam pelaksanaan pembelajaran bagi guru, karena guru bisa mengatur persiapan dan pelaksanaannya di antara anggota tim.
  4. Membantu meningkatkan interaksi antar siswa dengan guru, karena siswa dapat memilih guru yang dirasa cocok.


Dalam melaksanakan remedial model ini perlu memperhatikan beberapa hal berikut :


  1. Setiap anggota tim harus memiliki pemahaman yang sama tentang motivasi dan model pembelajaran remedial ini.
  2. Dukungan dari sekolah, baik secara administrasi dan sumber daya untuk keberhasilan program ini.
  3. Koordinasi yang baik antar anggota tim dalam menjalankan peran, tugas dan sumberdaya yang ada.


Pedoman untuk melaksanakan model remedial co-teaching antara lain :

Persiapan :

Dalam tahap persiapan berikut ini hal – hal yang dapat dilakukan :


  1. Guru bersama –sama siswa menyusun rencana pembelajaran, mulai dari tujuan , topik, dan aktifitas fisik yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran.
  2. Mendiskusikan strategi pembelajaran antara siswa dengan guru. dan mengadaptasi kurikulum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan individu siswa
  3. Menyiapkan media dan LKS untuk memahami topik tersebut.


Presentasi Pelajaran

Dalam tahap ini guru dapat mengadopsi pembelajaran dengan cara yang luwes dengan ciri topik, tujuan dan materi pembelajaran. Berikut ini beberapa tindakan yang biasanya dilakukan:


  1. Guru mempresentasikan materi bersama –sama atau secara berurutan bergantian dan dapat melakukan elaborasi atau eksplanasi tambahan tentang materi sehingga lebih jelas.
  2. Guru mendorong siswa yang lemah dengan kelompok kecil ataupun bimbingan secara individu.
  3. Mengobservasi dan mencatat kinerja siswa , sehingga dapat terus diarahkan kepada sikap dan perilaku belajar yang baik.
  4. Mengembangkan keterampilan dan kebiasaan belajar mandiri di antara siswa. (cara memperoleh informasi, dan mengolah informasi tersebut)
  5. Mempertahankan agar kelas tetap tertib dan mengkondisikan suasana belajar yang saling membantu.


Evaluasi dan Review

Dalam tahap ini dapat dilakukan antara lain:


  1. Mengevaluasi anggota TIM dalam bekerjasama, dan peranannya.
  2. Merevisi materi pelajaran dan memperbaiki strategi pembelajaran dalam memenuhi kebutuhan siswa.
  3. Mengevaluasi kinerja siswa dan kemajuan belajarnya.


Berikut ini gambaran secara umum tentang korelasi Pembelajaran remedial dan pembelajaran reguler :


II. Dua Model Pembelajaran Pengayaan

Pembelajaran pengayaan adalah suatu upaya lebih bagi siswa yang memiliki kemampuan belajar lebih cepat dan memiliki kecerdasan luar biasa.
Dalam artian memberikan pemahaman yang lebih dalam dari pada sekedar standar kompetensi dalam kurikulum.

Secara filosofi pembelajaran pengayaan adalah cara untuk melihat pengetahuan /informasi yang dipelajarinya sedalam pemahaman yang diinginkan dalam pembelajaran.

Hal ini dilaksanakan tetap pada suatu keyakinan bahwa belajar merupakan suatu proses yang harus terjadi (on going process) dan belajar sebagai suatu yang menyenangkan (fun) sekaligus menantang (challenging).

Menurut Challahan (2003) pendidikan untuk siswa yang unggul (belajar sangat cepat) merupakan area pendidikan yang luar biasa yang karakteristik siswanya mempunyai kecakapan yang sangat tinggi.

Pembelajaran yang diberikan kepada siswa yang berkarakteristik seperti di atas perlu memperoleh perhatian khusus agar dapat meningkatkan pemahamannya, tanpa menimbulkan sikap kontra produktif.

Oleh karena itu, pembelajaran pengayaan bisa menggunakan dua model sebagai berikut :

1. Pembelajaran pengayaan model mentoring dan tutoring

Pembelajaran pengayaan model ini, menempatkan siswa yang mempunyai kemampuan belajar sangat cepat dengan siswa yang mempunyai kecepatan belajar seperti pada umumnya.

Metode ini disebut inclusion, dimana siswa yang mempunyai kecakapan unggul bertindak sebagai TUTOR atau mentor rekan sejawatnya yang relatif lambat dalam pembelajaran.

Di samping itu, tutor atau mentor sejawat (siswa,yang luar biasa) dapat membangunkembali konsep yang telah dipelajari dalam pembelajaran biasa, di dalam struktur kognitifnya.

Disisi lain tutor sebaya ini berarti membantu daya tahan (retensi) penguasaan siswa terhadap pengetahuan tersebut.
Kelemahan model ini bila dilakukan berulang ulang dalam kurun waktu yang lama dapat menimbulkan rasa superioritas bagi siswa yang mempunyai kecakapan lebih.

Model pengayaan ini dapat digambarkan ke dalam bagan berikut ini :


2. Pembelajaran pengayaan model proyek, merupakan proyek khusus .

Model pengayaan yang kedua ini termasuk kedalam model pengayaan horizontal. Model ini berupa pemberian tugas khusus atau proyek, proyek yang diberikan harus sebagai tindak lanjut dari pengetahuan yang telah dipelajarinya.

Contoh model ini dapat berupa penelitian sederhana, seperti penelitian literatur (dari berbagai buku), penelitian empiris (melakukan observasi langsung dengan eksperimen atau fenomena sebenarnya), atau mencari data dari berbagai narasumber.

Masalah atau kasus sebagai fokus penelitian dapat diajukan oleh siswa, guru atau kesepakatan keduanya.

Alokasi waktu yang digunakan dapat bervariasi, dapat dilakukan pada pada alokasi waktu kegiatan pembelajaran reguler, diluar jam pembelajaran atau pada kegiatan ekstrakurikuler.

Hasil kegiatan ini berupa laporan sederhana dan lengkap serta sebaiknya dipresentasikan didepan siswa yang lainnya.

Model pengayaan ini dapat digambarkan sebagai berikut


Saya Kira sampai disini dulu uraian tentang Model pembelajaran Remedial dan Pengayaan dalam pembelajaran tuntas, yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf bila ada kekurangan.untuk kritik dan saran silahkan tuliskan pada komentar, dan bila dianggap artikel ini bermanfaat jangan lupa share ke teman Anda semua.
Terima Kasih.

Baca Juga ;

Memahami Penilaian oleh Pendidik pada Kurikulum 2013 yang diPerbaharui

Kegiatan penilaian menjadi suatu keniscayaan bagi setiap kegiatan apapun, baik di lingkungan formal maupun nonformal. Tidak terkecuali bagi sebuah satuan pendidikan dan lebih khusus lagi bagi seorang pendidik / guru.

Secara universal penilaian adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan setiap akhir suatu kegiatan untuk mengukur sejauh mana kegiatan tersebut mencapai hasil yang diharapkan.

Berkenaan dengan hal tersebut jika kita kaitkan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah maka kegiatan penilaian ini mengalami perkembangan cakupanya seiring dengan diberlakukannya kurikulum tiap satuan pendidikan.

Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 sekarang ini, maka kegiatan penilaian terus mengalami penyempurnaan dalam pelaksanaannya. Sehingga menjadi keharusan bagi setiap pendidik untuk selalu meng up date agar menjadi tidak usang dan tertinggal.

Dan pada posting kali ini saya ingin mengajak bersama kepada para pendidik untuk memahami penilaian oleh pendidik pada kurikulum 2013 yang diperbaharui.

Baiklah, mari simak saja penjelasan berikut di bawah ini semoga semakin menjadikan Saudara semua semakin faham.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik pada Satuan Pendidikan berfungsi untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilaksanakan untuk memenuhi fungsi formatif dan sumatif dalam penilaian, dan bertujuan untuk:

1. mengetahui tingkat penguasaan kompetensi.
2. menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi.
3. menetapkan program perbaikan atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi. dan
4. memperbaiki proses pembelajaran.

A. Penilaian Sikap

penilaian sikap ditujukan untuk mengetahui capaian dan membina perilaku serta budi pekerti peserta didik sesuai butir-butir sikap dalam Kompetensi Dasar (KD) pada Kompetensi Inti Sikap Spiritual (KI-1) dan Kompetensi Inti Sikap Sosial (KI-2).

Teknik Penilaian Sikap

Penilaian sikap dilakukan oleh guru mata pelajaran, guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas, melalui observasi yang dicatat dalam jurnal. Teknik penilaian sikap dijelaskan pada skema berikut.


B. Penilaian Pengetahuan

Penilaian pengetahuan, selain untuk mengetahui apakah peserta didik telah mencapai ketuntasan belajar, juga untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan peserta didik dalam proses pembelajaran (diagnostic). Oleh karena itu, pemberian umpan balik (feedback) kepada peserta didik oleh pendidik

Teknik Penilaian Pengetahuan

Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Namun tidak menutup kemungkinan digunakan teknik lain yang sesuai, misalnya portofolio dan observasi. Skema penilaian pengetahuan dapat dilihat pada gambar berikut


C. Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan adalah penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik terhadap kompetensi dasar pada KI-4. Penilaian keterampilan menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah dikuasai peserta didik dapat digunakan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sesungguhnya (real life).

Teknik Penilaian Keterampilan

Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian praktik/kinerja, proyek, dan portofolio. Teknik penilaian lain dapat digunakan sesuai dengan karakteristik KD pada KI-4 pada mata pelajaran yang akan diukur. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Skema penilaian keterampilan dapat dilihat pada gambar berikut.


D. Mekanisme pelaksanaan penilaian

Silahkan simak dan pahami mekanisme berikut


• Utama : Wali kelas, Guru BK, Guru MAPEL
• Ditunjang oleh Peserta Didik berupa: penilaian diri dan antar peserta didik
• Guru mapel melaksanakan penilaian di dalam kelas
• Guru BK dan Wali kelas melaksanakan penilaian diluar jam pelajaran
• Penilaian oleh peserta didik Dilakukan sekurang – kurangnya 1 kali dalam satu semester
Contoh indikator sikap spiritual secara umum:
1) berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.
2) menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut.
3) memberi salam pada saat awal dan akhir kegiatan.
4) bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa.
5) mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri.
6) bersyukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu.
7) berserah diri (tawakal) kepada Tuhan setelah berikhtiar atau melakukan usaha.
8) menjaga lingkungan hidup di sekitar satuan pendidikan.
9) memelihara hubungan baik dengan sesama umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
10) bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai bangsa Indonesia.
11) menghormati orang lain yang menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianut.

Contoh indikator sikap sosial secara umum:

  1. Jujur, yaitu perilaku dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  2. Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  3. Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan.
  5. Gotong royong, yaitu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dengan saling berbagi tugas dan tolong-menolong secara ikhlas.
  6. Santun atau sopan, yaitu sikap baik dalam pergaulan, baik dalam berbahasa maupun bertingkah laku. Norma kesantunan bersifat relatif, artinya yang dianggap baik/santun pada tempat dan waktu tertentu bisa berbeda pada tempat dan waktu yang lain.
  7. Percaya diri, yaitu suatu keyakinan atas kemampuan sendiri untuk melakukan kegiatan atau tindakan.


Contoh kata kerja operasional yang dapat digunakan aspek pengetahuan:

  1. mengingat: menyebutkan, memberi label, mencocokkan, memberi nama, memberi contoh, meniru, dan memasangkan.
  2. memahami: menggolongkan, menggambarkan, membuat ulasan, menjelaskan, mengekspresikan, mengidentifikasi, menunjukkan, menemukan, membuat laporan, mengemukakan, membuat tinjauan, memilih, dan menceritakan.
  3. menerapkan: mendemonstrasikan, memperagakan, menuliskan penjelasan, membuatkan penafsiran, mengoperasikan, mempraktikkan, merancang persiapan, menyusun jadwal, membuat sketsa, menyelesaikan masalah, dan menggunakan.tindakan.
  4. menganalisis: menilai, menghitung, mengelompokkan, menentukan, membandingkan, membedakan, membuat diagram, menginventarisasi, memeriksa, dan menguji.
  5. mengevaluasi: membuat penilaian, menyusun argumentasi atau alasan, menjelaskan apa alasan memilih, membuat perbandingan, menjelaskan alasan pembelaan, memperkirakan, dan memprediksi. dan
  6. mencipta (create): mengumpulkan, menyusun, merancang, merumuskan, mengelola, mengatur, merencanakan, mempersiapkan, mengusulkan, dan mengulas.


Berikut ini skema pengolahan nilai sikap untuk satuan pendidikan.
Simak baik – baik skema pengolahan nilai sikap di bawah ini.


Contoh pengolahan nilai pengetahuan mata pelajaran Matematika kelas X semester I.










Keterangan:

  1. Penilaian harian dilakukan oleh pendidik dengan cakupan meliputi seluruh indikator dari satu kompetensi dasar
  2. Penilaian akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan penilaian meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut
  3. KD 3.1 dilakukan tagihan penilaian sebanyak 3 kali, maka nilai pengetahuan pada KD 3.1
  4. Deskripsi berisi kompetensi yang sangat baik dikuasai oleh peserta didik dan/atau kompetensi yang masih perlu ditingkatkan. Pada nilai diatas yang dikuasai peserta didik adalah KD 3.4 dan yang perlu ditingkatkan pada KD 3.2.

Contoh deskripsi: “Memiliki kemampuan mendeskripsikan operasi aritmatika pada fungsi, namun perlu peningkatan pemahaman masalah kontekstual menggunakan konsep sistem persamaan linear tiga variabel”

Nilai Keterampilan

Nilai keterampilan diperoleh dari hasil penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik, proyek, produk, portofolio, dan bentuk lain sesuai karakteristik KD mata pelajaran. Hasil penilaian pada setiap KD pada KI-4 adalah nilai optimal jika penilaian dilakukan dengan teknik yang sama dan objek KD yang sama. Penilaian KD yang sama yang dilakukan dengan proyek dan produk atau praktik dan produk, maka hasil akhir penilaian KD tersebut dirata-ratakan. Untuk memperoleh nilai akhir keterampilan pada setiap mata pelajaran adalah rerata dari semua nilai KD pada KI-4 dalam satu semester. Selanjutnya, penulisan capaian keterampilan pada rapor menggunakan angka pada skala 0 – 100 dan predikat serta dilengkapi deskripsi singkat capaian kompetensi.

Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

Konsekuensi dari pembelajaran tuntas adalah tuntas atau belum tuntas. Bagi peserta didik yang belum mencapai KKM maka dilakukan tindakan remedial dan bagi peserta didik yang sudah mencapai atau melampaui ketuntasan belajar dilakukan pengayaan. Pembelajaran remedial dan pengayaan dilaksanakan untuk kompetensi pengetahuan dan keterampilan, sedangkan sikap tidak ada remedial atau pengayaan namun menumbuh kembangkan sikap, perilaku, dan pembinaan karakter setiap peserta didik harus terus dilakukan.

Baca Juga : Memahami Model Pembelajaran Remidial dan Pengayaan

KKM dan Nilai Raport

Hasil penilaian oleh pendidik meliputi pencapaian kompetensi peserta didik pada sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara terpisah karena karakternya berbeda.
Laporan hasil penilaian sikap berupa deskripsi yang menggambarkan sikap yang menonjol dalam satu semester. Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan dilaporkan dalam bentuk bilangan bulat (skala 0 – 100) dan predikat serta dilengkapi dengan deskripsi singkat yang menggambarkan capaian kompetensi yang menonjol dalam satu semester.
Bentuk dan model rapor untuk Sistem Paket dan Sistem Kredit Semester (SKS) pada prinsipnya sama. Contoh format laporan hasil belajar (rapor) terlampir. Predikat pada pengetahuan dan keterampilan dinyatakan dengan angka bulat dengan skala 0- 100, ditentukan berdasarkan interval predikat yang disusun dan ditetapkan oleh satuan pendidikan.
Penetapan tabel interval predikat untuk KKM yang berbeda dibuat tabel interval
predikat seperti contoh pada tabel berikut:












  • Nilai KKM merupakan nilai minimal untuk predikat Cukup. Berkaitan hal tersebut diharapkan satuan pendidikan dapat menentukan KKM yang sama untuk semua mata pelajaran.
  • Satuan pendidikan dapat menetapkan KKM berdasarkan SKL dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan sumber daya pendidikan di satuan pendidikan.
  • Keputusan kenaikan kelas bagi peserta didik dilakukan berdasarkan hasil rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan kebijakan satuan pendidikan, seperti minimal kehadiran, tata tertib, dan peraturan lainnya yang berlaku di satuan pendidikan tersebut.


Hal – Hal Penting Tentang Penilaian K 13

I. Acuan penilaian :


  • Acuan Kriteria menggunakan

1. Modus untuk sikap,
2. Rerata untuk pengetahuan, dan
3. Capaian optimum untuk keterampilan.


  • Modus untuk ketuntasan kompetensi sikap ditetapkan dengan predikat Baik.
  • Skor rerata untuk ketuntasan kompetensi pengetahuan ditetapkan paling kecil sesuai KKM masing – masing satuan pendidikan yang diambil saat penyusunan KTSP
  • Capaian optimum untuk ketuntasan kompetensi keterampilan ditetapkan paling kecil sesuai KKM masing – masing satuan pendidikan yang termuat dalam KTSP


II. SKALA PENILAIAN


  • Skala penilaian untuk kompetensi sikap menggunakan rentang predikat Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K).
  • Skala penilaian untuk kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan menggunakan rentang angka dan huruf D - A dengan contoh rincian sbb:













III. DESKRIPSI

• Contoh DESKRIPSI KOMPETENSI PENGETAHUAN

Mempunyai capaian kompetensi secara umum TUNTAS dengan predikat baik. sangat baik dalam penguasaan materi Menganalisis perkembangan model atom. baik dalam penguasaan materi Memahami hakikat ilmu kimia, metode ilmiah dan keselamatan kerja di laboratorium serta peran kimia dalam kehidupan, Menganalisis struktur atom berdasarkan teori atom Bohr dan teori mekanika kuantum. dan Menganalisis kepolaran senyawa.. (SB)

• Contoh DESKRIPSI KOMPETENSI KETERAMPILAN

Ananda ALIPIA AZHARA mempunyai capaian kompetensi secara umum TUNTAS dengan predikat baik. mempunyai kemampuan baik dalam penerapan materi Menyajikan hasil pengamatan tentang hakikat ilmu kimia, metode ilmiah dan keselamatan kerja dalam mempelajari kimia serta peran kimia dalam kehidupan dan Menyajikan hasil analisis hubungan konfigurasi elektron dan diagram orbital untuk menentukan letak unsur dalam tabel periodik dan sifat-sifat periodik unsur. . (SB).

• Contoh DESKRIPSI KOMPETENSI SIKAP DALAM MAPEL

- Tingkatkan sholat berjama'ah, kejujuran dalam mengerjakan soal dan kepedulian terhadap teman-teman (SB)
- Tingkatkan sholat berjama'ah, kedisiplinan, tanggung jawab, pro-aktif, responsif, kejujuran dalam mengerjakan soal sebagai perwujudan insan beragama (B)

Catatan :
Skap tidak boleh Cukup, minimal Baik
Downloads Materi ini Di sini
atau link AirHovkey Subscriber
Downloads Blanko Penilaian Kurikulum 2013 terbaru


Saya kira sampai disini dulu penjelasan mengenai bagaimana memahami penilaian oleh pendidik pada kurikulum 2013 yang direvisi kembali pada 2017 kemarin, semoga dapat bermanfaat.
Kalau ada masukkan silahkan tulis saja pada kolom komentar, dan jika penjelasan ini dirasa penting silahkan share ke teman yang lain.
Terima kasih.