Cara Menentukan Media Pembelajaran yang Tepat dalam Proses Pembelajaran


Pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual verbal.

Sedang menurut (Hamalik, 1994:6) dalam Azhar Arsyad Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar.

Untuk bisa menentukan media pembelajaran yang baik dan efektif maka guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pembelajaran. 

Untuk dapat menggunakan media pembelajaran harus diingat dua fungsi utama media pembelajaran, pertama media adalah sebagai alat bantu pembelajaran, dan fungsi kedua adalah sebagai media sumber belajar.
Media Pembelajaran

   Berdasarkan kedua fungsi di atas maka dalam menentukan media pembelajaran hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan didasarkan atas kriteria tertentu.

Secara umum, kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran diuraikan sebagai berikut:
  1. Tujuan
  2. Sasaran didik
  3. Karakteristik media yang bersangkutan
  4. Waktu
  5. Biaya
  6. Ketersediaan
  7. Konteks penggunaan
  8. Mutu Teknis
    Ada beberapa prinsip/kriteria penggunaan media yang perlu dipedomani oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu:
  1. Ketepatan dengan tujuan pembelajaran
  2. Dukungan terhadap isi bahan pembelajaran
  3. Kemudahan memperoleh media
  4. Keterampilan guru dalam menggunakan media
  5. Tersedianya waktu untuk menggunakannya
  6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami siswa
Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi, persiapan sebelum belajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan, latihan dan pengulangan, dan penerapan.

Ada beberapa kriteria yang patut diperhatikan dalam memilih media yaitu
  1. Sesuai dengan yang ingin dicapai.
  2. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi.
  3. Praktis, luwes, dan bertahan.
  4. Guru terampil menggunakannya.
  5. Pengelompokkan sasaran.
  6. Mutu teknis.

Media pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan mengajar di kelas, hal ini sesuai dengan alasan yang melatarbelakanginya, seperti alasan – alasan berikut:
  1. Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi belajar.
  2. Bahan pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik
  3. Metode pengajaran akan bervariasi.
  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.
  5. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, dimulai dari taraf berfikir konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berpikir yang kompleks. Dengan adanya media pengajaran hal-hal, yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.
Dan manfaat media dalam pembelajaran Secara umum adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. 

Dari segi teori belajar, berbagai kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam pemilihan dan penggunaan media adalah motivasi, perbedaan individual, tujuan pembelajaran, organisasi isi, persiapan sebelum belajar, emosi, partisipasi, umpan balik, penguatan, latihan dan pengulangan, dan penerapan

   Demikian uraian singkat mengenai media pembelajaran semoga dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat semua

Baca Juga Artikel yang Lain

Menjadi Guru Pembelajar Masa Kini
Penguatan Pendidikan Karakter
Implementasi pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran
Model Pembelajaran Saintifik
Langkah - Langkah Penerapan Model Pembelajaran








Langkah _ Langkah Penerapan Model Pembelajaran


Langkah – Langkah Penerapan Model Pembelajaran

Pada artikel saya yang lain sudah pernah dipaparkan model – model pembelajaran, dan pada kesempatan kali ini akan saya coba paparkan langkah langkah / sintak dari model pembelajaran, karena untuk menerapkan model pembelajaran dalam kegiatan belajar jelas tidak akan sama satu situasi dengan situasi yang lain. Kita semua sudah tahu bahwa latar belakang dan karakteristik peserta didik antara satu daerah atau sekolah dengan daerah yang lain tentu berbeda, sebagai contoh antara peserta didik di wilayah kota yang sudah cukup didukung segala fasilitas dan sarana belajar tentu berbeda cara ber fikir peserta didiknya dibanding dengan sekolah atau daerah di wilayah desa terpencil yang fasilitas dan sarananya serba terbatas. Akan tetapi secara psikis perkembangan peserta didik berada pada tingkat usia yang sama maka secara emosional memiliki keinginan dan perkembangan yang hampir sama. Oleh karenanya pendekatan model – model pembelajaran menjadi salah satu cara untuk dapat mengurai dan memberikan solusi belajar bagaimana peserta didik belajar.

Langkah– langkah pendekatan belajar yang akan diuraikan kali ini masih mencakup model pembelajaran model Discovery Learning, Project Based Learning, Problem Based Learning, Model Learning Cycle, dan Model Science Tecknology and Society (STS).

A. Model Pembelajaran Discovery Learning

Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam semua mata pelajaran baik ipa  maupun lainya. Pada Discovery Learning lebih menekankan jika ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui, masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. langkah – langkah ( sintak) pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru antara lain :

1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan pertanyaan dan timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

2) Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulation guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

3) Collection Data (pengumpulan data)

Pada saat peserta didik melakukan eksperimen atau eksplorasi, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Data dapat diperoleh melalui membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

4) Processing Data (pengolahan data)

Pada tahap ini kegiatan mengolah data dan informasi dapat dilakukan melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

5) Verification (pembuktian)

Pada tahap ini peserta didik memeriksa hasil pengolahan data untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan, dihubungkan dengan hasil data processing.

6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Pada tahap generalisasi/ menarik kesimpulan peserta didik menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.


Baca Juga Model - Model Pembelajaran

B. Model Project Based Learning

Model pembelajaran ini menekankan pada proses pembelajaran jangka panjang, terlibat  secara langsung dengan berbagai isu dan persoalan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran  Berbasis Proyek merupakan model pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam suatu kegiatan (proyek) yang menghasilkan suatu produk. Langkah – langkah (sintak) yang dapat dilaksanakan antara lain :

1) Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas..

2) Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project)

Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengacara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

3) Menyusun Jadwal (Create a Schedule)

Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek antara lain: (1) membuat timeline menyelesaikan proyek. 2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) peserta didik jika akan merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik melaksanakan proyek dan (5) peserta didik untuk membuat penjelasan pemilihan proyek

4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the     Project)

Monitoring dilakukan guru dengan menggunakan rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas. Guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik

5) Menguji Hasil (Assess the Outcome)

Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

6) Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)

Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

C. Model Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan  masalah,dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam  tim. Langkah - langkah (sintak) yang dapat dilakukan antara lain :

1) Orientasi peserta didik kepada masalah

Dalam langkah ini guru dituntut untuk menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan logistik yg dibutuhkan, serta Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat mengerti dalam pembelajaran yang akan dilakukan.

2) Mengorganisasikan peserta didik.

Pada langkah ke dua ini seorang guru harus membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Setelah peserta didik diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan peserta didik menetapkan subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua peserta didik aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

3) Membimbing penyelidikan individu dan kelompok.
Pada langkah ketiga ini guru harus mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Tujuannya adalah agar peserta didik mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Setelah peserta didik mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang mereka selidiki, selanjutnya mereka mulai membuat penjelasan dalam bentuk hipotesis, penjelasan, dan pemecahan dimensi.

4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Sedangkan pada langkah ke empat ini guru harus membantu peserta didik dalam Merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti membuat laporan, model dan berbagi tugas dengan teman.

5) Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Untuk angkah yang terakhir pada pelaksanaan model pendekatan ini guru melakukan kegiatan mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok mempresentasikan hasil kerja.

D. Model Siklus Belajar
Model siklus belajar 5E, yang terdiri lima fase, yaitu engagement, exploration, explain, expand, dan evaluate sebagai implementasi dari teori belajar konstruktivisme dan implementasi pembelajaran sains berbasis inkuiri.

Fase-fase Siklus Belajar 5E :

1) Fase Engagement

Pelibatan peserta didik dalam belajar. Pada fase ini guru berperan sentral. Kegiatan guru dalam fase ini menggali pengetahuan awal peserta didik (sebagai pra asesmen), mengajukan masalah, membantu peserta didik membuat hubungan dengan pelajaran yang telah dipelajarinya, dan menginformasikan objek, topik yang akan dipelajari atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk melibatkan peserta didik dalam pembelajaran.

2) Fase Eksplorasi

Fase penggalian informasi. Pada fase ini, siswa berperan sentral. Aktivitas mereka adalah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber belajar. Aktivitas siswa dapat berupa kegiatan membaca, melakukan eksperimen, mencatat data eksperimen, berdiskusi, atau kegiatan lainnya.

3) Fase Explanation (Eksplanasi atau Pemberian Penjelasan)

Pada fase eksplanasi, siswa diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan dari hasil eksplorasinya. Pada fase ini siswa menggunakan data yang telah dikumpulkan untuk memecahkan masalah dan melaporkan apa yang mereka lakukan. Pada fase ini juga siswa mencoba untuk mencari jawaban atas masalah yang diajukan.

4) Fase Elaborasi

Pada fase elaborasi, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperluas apa yang telah mereka pelajari pada fase eksplanasi. Pada tahap ini guru juga dapat mengajukan masalah baru agar peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan yang sudah diperolehnya.

5) Fase Evaluasi

Fase evaluasi bukanlah menjadi fase akhir dari model ini, karena evaluasi dilakukan sejak fase pertama sampai fase-fase berikutnya dalam model siklus belajar ini. Dalam fase ini guru dan peserta didik sama-sama mengevaluasi.

E. Model pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat (STS)

Model STS Carin (1997:74), meliputi empat tahap, yaitu tahap invitasi, tahap eksplorasi, penemuan, dan penciptaan, tahap pengajuan penjelasan dan solusi, serta tahap  pengambilan tindakan.

1) Tahap Invitasi
Guru mengecek pengetahuan awal peserta didik tentang materi yang akan dipelajari dan Guru menginformasikan topik pembelajaran yang akan dipelajari dan kegiatan-kegiatan belajar peserta didik.

2) Tahap Eksplorasi dan penemuan

Mengarahkan materi yang akan dipelajari berdasarkan jawaban jawaban peserta didik tentang materi, dan kegiatan mereka untuk mencari informasi lebih lanjut dalam diskusi kelompok, dan Guru melakukan penilaian proses.

3) Tahap Penjelasan dan solusi

Peserta didik melakukan presentasi melalui diskusi kelas tentang teori yang dipelajari, dengan menyajikan data dan menyampaikan solusi dan Guru memberikan klarifikasi dan penguatan serta meminta peserta didik merefleksikan materi yang telah dipelajari dengan mengkonfirmasi apakah semua pertanyaan pada tahap invitasi telah terjawab atau belum dan melakukan review materi yang telah dipelajari peserta didik

4) Tahap Pengambilan tindakan

Peserta didik merumuskan tindakan/saran/membuat poster

Demikian postingan kali ini, untuk perbaikan posting berikutnya silahkan tinggalkan komentar anda

Model Pembelajaran Saintifik

     Cara atau teknik yang digunakan oleh guru kepada siswa dalam menyajikan materi pembelajaran dalam sebuah proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang sudah dirancang dapat tercapai menjadi sangat penting dipahami dan dipraktekan dalam proses pembelajaran sehari – hari di sekolah sebagai suatu lembaga formal yang selama ini dipercaya sebagai salah satu sumber utama pembinaan dan pencetak sumber daya manusia.
Model Pembelajaran Saintifik

    Oleh karenanya sudah menjadi suatu keharusan bagi para pendidik untuk mengenal metode pembelajaran dan model pembelajaran yang sesuai dan tepat untuk dilaksanakan agar tujuan yang yang dimaksud dapat dicapai. Dan pada kesempatan kali ini akan saya coba paparkan beberapa metode model pembelajaran, tepatnya yang berkenaan dengan mata pelajaran IPA, akan tetapi ini tidak menutup kemungkinan diterapkan pada bidang studi selain IPA.
    Jika membahas tentang beberapa contoh dari model-model pembelajaran itu sendiri, ada beberapa model yang sudah tidak asing lagi dengan kita, namun beberapa diantaranya juga merupakan model yang tergolong baru dan relevan dengan penerapan kurikulum saat ini. Beberapa contoh metode pembelajaran yang sudah umum diketahui yaitu metode ceramah, diskusi, studi kasus, demonstrasi, dan lain sebagainya. Sedangkan beberapa model pembelajaran yang terbilang up to date antara lain adalah model Discovery Learning, Project Based Learning,

    Problem Based Learning, Model Learning Cycle, dan Model Science Technology and Society (STS), dan masih banyak lagi lainnya.
    Dari sekian banyak model-model pembelajaranhttp://taufikiminia.blogspot.co.id/2017/11/model-pembelajaran-saintifik.html yang sudah disebutkan di atas, tidak ada satupun yang bisa dianggap sebagai model pembelajaran terbaik. Hal itu dikarenakan setiap model pembelajaran yang diterapkan oleh seorang tenaga pendidik selalu saja disertai dengan kelebihan dan kekurangan.

Oleh karenanya Para tenaga pendidik dalam menerapkannya perlu memperhatikan sintaks (urutan kegiatan/tahapan pembelajaran), sistem sosial (situasi atau norma yang berlaku dalam model, prinsip reaksi (upaya guru dalam membimbing dan merespon siswa atau pola kegiatan bagaimana guru memperlakukan siswa), sistem pendukung (faktor- faktor yang harus diperhatikan, dimiliki guru dalam menggunakan model serta sarana prasarana yang diperlukan untuk melaksanakan model), dan dampak pembelajaran (langsung dan iringan).

    Berikut uraian tentang konsep model pembelajaran yang dapat diterapkan pada pembelajaran khususnya IPA dan pada pembelajaran pada umumnya :

1. Model Pembelajaran Discovery Learning

    Discovery mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan jika ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui, masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.

    Pembelajaran pada model Discovery Learning meliputi: Tahap Stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan), Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah), Data collection (pengumpulan data), Data processing (pengolahan data), Verification (pembuktian) dan Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

2. Model Pembelajaran Project Based Learning

    Project Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Proyek adalah model pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam suatu kegiatan (proyek) yang menghasilkan suatu produk. Keterlibatan siswa mulai dari merencanakan, membuat rancangan, melaksanakan, dan melaporkan hasil kegiatan berupa produk dan laporan pelaksanaanya. Model pembelajaran ini menekankan pada proses pembelajaran jangka panjang, terlibat secara langsung dengan berbagai isu dan persoalan kehidupan sehari-hari, belajar bagaimana memahami dan menyelesaikan persoalan nyata, bersifat interdisipliner, dan melibatkan siswa sebagai pelaku mulai dari merancang, melaksanakan dan melaporkan hasil kegiatan (student centered).

    Model pembelajaran ini bertujuan untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahami pembelajaran melalui investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif

3. Model Problem Based Learning (PBL)

     Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Model pembelajaran ini bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya.

A. Prinsip Proses Pembelajaran PBL

     Prinsip-prinsip PBL yang harus diperhatikan pada dalam penggunaannya meliputi
  • konsep dasar, 
  • pendefinisian masalah, 
  • pembelajaran mandiri, 
  • pertukaran pengetahuan dan penilaiannya. 
B. Kelebihan Problem Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Masalah)
  • Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan
  • Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan
  • PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.. 
4. Model Siklus Belajar

    Model siklus belajar awalnya dikembangkan oleh Karlplus dan Thier (1967). Model ini memiliki tiga fase, yaitu fase Eksplorasi (Exploration), fase Penelusuran (Invention), dan fase Penemuan (Discovery). Namun, belakangan oleh Lawson (1988) fase-fase tersebut dinamai fase Eksplorasi (Exploration), fase Pengenalan Istilah (Term introduction), dan fase Penerapan Konsep (Concept application). (Lawson,1995:153)

Berdasarkan jenisnya, siklus belajar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yaitu: descriptive, empirical-abductive, dan hypothetical-deductive. Perbedaan di antara ketiganya terletak pada derajat siswa dalam mencapai penggambaran alam atau dalam menghasilkan hipotesis dan mengujinya.
Baca Juga : Langkah - Langkah Penerapan Model Pembelajaran
    Selanjutnya, model 3E dikembangkan menjadi 5E. Model Siklus Belajar 5E dikemukakan oleh Bybee, terdiri atas 5 fase, yaitu: Engagement (pelibatan siswa), Exploration (eksplorasi/penggalian informasi), Explanation (penjelasan), Elaboration (penjelasan lebih lanjut), dan Evaluation (evaluasi), sebagai implementasi dari teori belajar konstruktivisme dan implementasi pembelajaran sains berbasis inkuiri.

   Sebagaimana dalam suatu siklus manapun, tidak ada akhir dari sebuah proses. Setelah fase elaborasi, maka fase engagement akan dimulai. Evaluasi bukanlah sebagai tahap akhir, kegiatan ini berlangsung pada empat tahap/fase belajar lainnya.

5. Model pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat
    
Model pembelajaran STM atau STS ( sains teknologi sosial ) berorientasi pada konstruktivisme. Model STS yang diajukan oleh Horsley, et.al, (1990:59), Carin (1997:74), dan Yager (1992:15) meliputi empat tahap, yaitu tahap invitasi, tahap eksplorasi, penemuan, dan penciptaan, tahap pengajuan penjelasan dan solusi, serta tahap pengambilan tindakan.

Demikian Model Pembelajaran Saintifik yang dapat kami share semoga bermanfaat. kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar

Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Pada Peserta Didik

Guru mempunyai kewajiban untuk selalu memperbaharui dan meningkatkan kompetensinya melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai esensi pembelajar seumur hidup. 

Penguasaan guru atas konsep dan implementasi dari kompetensi Pedagogik tentang Karakteristik Peserta Didik dan Pengembangan Potensi Peserta Didik membekali guru untuk menghantarkan peserta didik asuhannya secara percaya diri memperoleh pencapaian terbaik mereka sesuai dengan karakteristiknya. Dengan demikian, potensi yang dimiliki seluruh peserta didik dapat mewujud dalam bentuk prestasi yang beragam secara optimal. 

Mengingat peserta didik adalah subjek yang akan dibelajarkan, maka guru perlu termotivasi, bekerja keras, dan kreatif untuk mengenal karakteristik dan potensi peserta didik serta cara mengembangkannya.
Setelah memahami kedua kompetensi diatas maka implementasi Pendidikan Karakter yang dapat dilakukan oleh pendidik dalam Pembelajaran adalah :

1. Dalam pembelajaran guru harus memperhatikan tahap dan tugas-tugas perkembangan serta keragaman karakteristik individu diantaranya yaitu:

  • Menyusun RPP yang sesuai dengan tahap dan tuigas perkembangan peserta didik pada masa remaja;
  • Guru perlu merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keragaman karakteristik peserta didik, dan menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif agar setiap individu dapat belajar secara optimal;
  • Adanya  perbedaan dalam kecepatan perkembangan, maka dalam pembelajaran perlu adanya pendekatan individualitas disamping kelompok;
  • Guru memberi motivasi kepada setiap peserta didik agar melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada masa remaja.

Pendidikan Karakter

2. Perkembangan Kemampuan Intelektual

Berikut ini adalah hal yang dapat dilakukan guru. setelah memahami pekembangan kemampuan intelektual

  • Rancang pembelajaran yang sesuai dengan keragaman dalam kemampuan Intelektual, kecerdasan majemuk, kemampuan kognitif, dan kreativitas agar tercapai prestasi terbaiknya sesuai dengan potensinya, termasuk pertimbangkan pemikir operasional konkret yang mungkin masih ada di kelas Anda.
  • Rancang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas.
  • Ciptakan iklim belajar-mengajar yang kondusif untuk memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik secara optimal.
  • Berikan layanan individual disamping kelompok kepada peserta didik yang sangat cerdas atau yang lambat belajar.

3. Perkembangan Fisik dan Kesehatan
Normalitas jasmaniah, keterlambatan, atau terlalu cepatnya dalam mencapai kematangan dalam pertumbuhan fisik serta kesehatan dapat menimbulkan permasalahan terhadap sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya dan pada kegiatan belajar khususnya.

Berikut ini hal yang dapat dilakukan guru setelah memahami perkembangan fisik dan kesehatan peserta didik.

  • Miliki data kondisi fisik dan kesehatan setiap peserta didik, dan memperhatikan kesehatan peserta didik pada awal pembelajaran.
  • Beri perhatian khusus kepada peserta didik yang mengalami gangguan panca indera
  • Miliki pemahaman yang empatik kepada peserta didik yang memiliki penyakit kronis/bawaan dan tubuh kurang normal seperti cacat fisik.
  • Kerja sama dengan guru BK, wali kelas, dan orangtua, serta dengan tenaga ahli (dokter dan psikolog) jika diperlukan penanganan khusus.
  • Bimbing peserta didik untuk mensyukuri keadaan fisiknya dan bagaimana memelihara kesehatan serta menggunakan tubuhnya secara efektif.

Baca Juga Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik

4. Perkembangan Kecerdasan Emosi dan Perkembangan Sosial

Implementasi dalam Pembelajaran setelah guru memahami perkembangan kecerdasan, dapat melakukan hal – hal berikut ini.


  • Prioritaskan identifikasi peserta didik yang diduga memiliki kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah.
  • Pahami keragaman dalam kecerdasan emosi dan keterampilan sosial peserta didik, serta bersikap bijak menghadapi mereka yang memiliki kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang rendah.
  • Sebagai model sosial tampilkan perilaku yang mencerminkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial yang tinggi serta Ikhlas dalam mengajar.
  • Ciptakan iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan kecerdasan emosi dan sosial, yaitu iklim yang demokratis, nyaman, tidak tegang, diselingi humor, dan suasana gembira.
  • Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek kecerdasan emosi dan keterampilan sosial.melalui disiplin, bimbingan dan pembiasaan yang disertai penguatan, serta pembelajaran berbasis kelompok disamping klasikal.
  • Bimbing peserta didik untuk mengekspresikan emosi yang bisa diterima secara sosial.
  • Bekerja sama dengan guru BK, wali kelas dan orang tua untuk membantu peserta didik mengembangkan kecerdasan emosi dan keterampilan sosial.

Implementasi dalam Pembelajaran setelah guru memahami perkembangan kecerdasan sosial dapat mengambil langkah – langkah berikut ini.

  • Jadilah social model dengan menampilkan sikap dan perilaku yang mencerminkan kepribadian dan moral yang baik, serta cerdas secara spiritual,
  • Bersikaplah menerima semua peserta didik, terutama peserta didik dengan perilaku moral dan kecerdasan spiritual yang masih rendah serta ciptakanlah iklim belajar yang kondusif bagi perkembangan pribadi peserta didik agar tercapai perkembangan yang optimal.
  • Rancang pembelajaran dengan memasukan aspek moral atau karakter dan spiritual yang terintegrasi dalam pembelajaran.
  • Kembangkan perilaku moral dan spiritual melalui, pembiasaan dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik.
  • Biasakan berdoa sebelum dan sesudah belajar dan dorong peserta didik untuk rajin beribadah serta libatkan dalam kegiatan keagamaan dan sosial.
  • Buat suatu proyek/tugas kelompok/kelas yang dapat meningkatkan sikap altruisme (sikap membantu orang lain dengan ikhlas).
  • Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan guru agama serta orangtua untuk membantu meningkatkan perilaku moral dan kecerdasan spiritual.

5. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual

Sikap dan kebiasaan merupakan suatu factor yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam bidang akademik dan keberhasilan hidup di masa depan, oleh karenanya sebagai pendidik perlu mengambil langkah – langkah yang dapat menggiring peserta didik menanamkan sikap dan kebiasaan dalam pembelajaran dan kehidupannya sehari – hari.

Berkaitan dengan hal tersebut guru dapat melakukan tindakan seperti berikut ini :

  • Jadi model/teladan dengan memiliki sikap positif terhadap pekerjaan seperti disiplin, rajin, semangat, senang membaca buku, dsb.
  • Rancanglah pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan mudah dipahami.
  • Ciptakan iklim belajar yang kondusif yang memudahkan siswa untuk mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
  • Berikan informasi manfaat materi yang akan diajarkan dalam kehidupan sehari-hari, studi lanjut, dan pekerjaan terbangun sikap positif terhadap mata pelajaran.
  • Tingkatkan sikap dan kebiasaan belajar dengan pembiasaan dan disiplin yang disertai konsekuensi yang mendidik.
  • Bersikap menerima dan bijak terutama kepada peserta didik yang sikap dan kebiasaan belajarnya negatif.
  • Kerjasama dengan wali kelas, guru BK dan orangtua peserta didik untuk meningkatkan sikap dan kebiasaan belajar peserta didik.

6. Perkembangan Sikap dan Kebiasaan Belajar

Implementasi dalam Pembelajaran yang dapat dilakukan setelah guru memahami ciri-ciri peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang baik, mengidentifikasi sikap dan kebiasaan belajar peserta didik, dan selanjutnya menentukan pembelajaran yang memfasilitasi pengembangannya dengan mengambil langkah – langkah berikut ini.

  • Sebelum pembelajaran tentukanlah bekal ajar awal atau kemampuan awal peserta didik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor.
  • Tidak setiap aspek kemampuan peserta didik pada awal pembelajaran sama pentingnya. Akan tetapi menentukan aspek mana yang penting sebagai titik awal dalam interaksi guru dengan peserta didik selama proses belajar itu berlangsung, tergantung pada tujuan pembelajaran.
  • Jika kemampuan yang menjadi prasyarat untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru harus memberikan beberapa pertanyaan secara lisan kepada kelas atau memberikan tes awal berupa tes tulis singkat.
  • Jadikan keragaman bekal ajar awal menjadi dasar pertimbangan perencanaan dan pengelolaan pembelajaran, baik dalam memilih bahan, prosedur, metode, teknik dan media pembelajaran sesuai dengan bekal ajar awal peserta didik.
  • Ketika akan mengajar perlu dikenali minat dan motivasi belajar, serta sikap belajar peserta didik

7. Identifikasi Kemampuan Awal dan Kesulitan Belajar

Implementasi dalam Pembelajaran setelah dapat memahami konsep kemampuan awal dan kesulitan belajar; cara mengidentifikasinya, serta faktor kesulitan belajar; dan kemudian  menggunakan hasilnya untuk memfasilitasi pembelajaran yang lebih baik dengan melakukan langkah – langkah seperti berikut ini.

  • Pahami gejala-gejala anak yang memiliki kesulitan belajar.
  • Identifikasi kesulitan belajar dan bantulah peserta didik mengatasi kesulitan belajarnya.
  • Berikan layanan pembelajaran remedial/membuat rujukan
  • Bantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk mengoptimalkan prestasi belajarnya, dan meningkatkan kepercayaan dirinya, minat, serta sikap positif terhadap pelajaran.
  • Bekerja sama dengan wali kelas, guru BK dan orangtua.
  • Rancanglah pembelajaran yang sesuai dengan keragaman peserta didik untuk mencegah terjadinya kesulitan belajar

 Demikian Semoga Bermanfaat, jika berkenan tinggalkan komentar anda

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK


Guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif efektif, dan menyenangkan. 

Sehingga mengajar harus dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajar pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar.

Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi di kelas adalah siswa.

Dengan demikian hakikat mengajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa.

Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses daripada hasil).



     Langkah awal untuk mewujudkan proses belajar yang demikian sebagai guru yang profesional adalah menguasai kompetensi pedagogik yang berupa penguatan pendidikan karakter peserta didik dalam berbagai aspek, potensi peserta didik, bekal ajar awal, kesulitan belajar, pembelajaran untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi optimal, dan pembelajaran untuk mengaktualisasi potensi peserta didik.

Perkembangan peserta didik sebagaimana kita tahu bahwa peserta didik berasal dari latar belakang yang berbeda dan dipengaruhi oleh tiga faktor berikut yaitu faktor pembawaan, faktor lingkungan dan kematangan. 

Untuk itu pendidik harus memahami Tujuh perkembangan yang menyangkut Penguatan Pendidikan Karakter peserta didik tersebut di bawah ini

A. Perkembangan Peserta Didik

Menyangkut perkembangan peserta didik pada sekolah menengah harus dipahami tiga hal berikut :

  1. Peserta didik adalah individu yang unik yang memiliki potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi. Karena itu dalam proses dan kegiatan belajar peserta didik tidak bisa dilepaskan dari karakteristik individunya. 
  2. Remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan peserta didik, dan merupakan masa transisi (dari masa kanak-kanak ke masa dewasa) yang diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat. Menurut Erickson (Santrock, 2012:87) masa remaja merupakan masa berkembangnya identitas diri (self-identity). 
  3. Pemahaman tahap dan tugas perkembangan dapat digunakan oleh pendidik dalam menentukan apa yang harus diberikan kepada peserta didik pada masa-masa tertentu, dan bagaimana caranya mengajar atau menyajikan pengalaman belajar kepada peserta didik pada masa-masa tertentu tersebut. 

B. Perkembangan Kemampuan Intelektual

Untuk menentukan pembelajaran yang memfasilitasi perkembangan kemampuan intelektual dan kreativitas peserta didik. Perlu dipahami hal – hal berikut :

  1. Intelegensi atau kemampuan intelektual adalah kemampuan mental umum yang mendasari kemampuannya untuk mengatasi kerumitan kognitif. 
  2. Tahap perkembangan berpikir pada masa remaja menurut Piaget (Santrock, 2012:56) berada pada tahap berpikir operasional formal, remaja bernalar lebih abstrak, idealis dan lebih logis. Tipe pemikiran logis ini disebut juga penalaran deduktif hipotetik 
  3. Anak usia SMA berada pada fase formal operasional, namun banyak peserta didik kemampuan berpikir abstraknya masih terbatas. Sedangkan kemampuan intelektual mengalami perkembangan yang paling pesat.
  4. Teori kecerdasan majemuk dari Howard Gardner yaitu kecerdasan linguistik, matematik-logis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, 
  5. Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru, berbeda, dan unik yang timbul dari pemikiran divergen. 

C. Perkembangan Fisik dan Kesehatan

Pemahaman pendidik terhadap kondisi fisik peserta didik sangat penting, karena dalam kegiatan belajar tidak hanya melibatkan proses mental saja, akan tetapi melibatkan kegiatan fisik.

Menurut Makmun (2009:95) normalitas dari konstitusi, struktur, dan kondisi jasmaniah seorang anak akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya yang dapat berpengaruh pada sikap dan perilaku peserta didik pada umumnya, dan khususnya pada kegiatan belajar.

Untuk itu perlu diperhatikan hal berikut ini.

Perkembangan fisik berpengaruh kepada perkembangan kepribadian, khususnya yang berkaitan dengan masalah citra diri (body–image) konsep diri (self-concept), harga diri (self-esteem).
Pada masa remaja terjadi proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang disebut sebagai masa pubertas. Pubertas merupakan awal yang penting yang menandai masa remaja. Pada masa pubertas terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan perubahan proporsi tubuh yang mencolok.
Ciri-ciri perkembangan tubuh remaja yaitu, perubahan ukuran tubuh, proporsi tubuh yang kurang proporsional, ciri-ciri kelamin primer dan sekunder.

Pengaruh perubahan fisik terhadap sikap dan perilaku peserta didik diantaranya ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonisme sosial, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, terlalu sederhana.
Untuk dapat menerapkannya dalam pembelajaran silahkan baca juga Implementasi Penguatan pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

D. Kecerdasan emosi dan Perkembangan Aspek Sosial

Perkembangan emosi pada masa remaja awal bersifat sensitif dan reaktif (kritis) emosi cenderung memuncak dan kurang stabil, emosinya sering bersifat negatif dan temperamental. Selain itu munculnya perasaan baru seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.

Kecerdasan emosi memiliki lima wilayah, yaitu (1) mengenali emosi diri; (2) mengelola emosi diri; (3) memotivasi diri sendiri; (4) mengenali emosi orang lain; (5) membina hubungan.

Pada masa remaja berkembang social cognition yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, dan konformitas. Perubahan perilaku sosial yang paling menonjol pada masa remaja adalah hubungan dengan lawan jenis, dan senang mengikuti berbagai aktivitas sosial.

Penerimaan sosial oleh teman sebaya sangat penting karena berkaitan dengan harga diri, karena itu remaja harus mampu mengendalikan emosi dan memiliki keterampilan sosial.

Empat status hubungan sosial teman sebaya yaitu anak popular, anak yang diabaikan, anak yang ditolak, dan anak kontroversial.

E. Perkembangan Moral dan Kecerdasan Spiritual

Tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg adalah, (1) prakonvensional; (2) konvensional; (3) pasca konvensional.
Remaja umumnya berada pada tingkat perkembangan ketiga, yaitu moralitas pascakonvensional, pada tahap ini terjadi internalisasi moral dan tidak didasarkan pada standar-standar moral orang lain.

Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral pada masa anak – anak dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku umum, dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi menjadi pedoman untuk berperilaku baik. melalui proses internalisasi.

Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah dirinya dalam mengenal TuhanNya, sebagai hambaNya untuk beribadah kepadaNya

Karakteristik perilaku perilaku moral remaja awal adalah bersikap kritis, skeptis, dan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan tipe idolanya.

Gambaran umum perilaku religius pada masa remaja awal yaitu mulai mempertanyakan secara kritis dan skeptis mengenai keberadaan dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan YME.




F. Sikap Dan kebiasaan Belajar

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan hasil belajar melalui operant conditioning dan proses kognitif, sehingga sikap dan kebiasaan belajar yang kurang efektif dapat diubah atau dimodifikasi melalui proses belajar yang baru.

Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sikap dan kebiasaan belajar tidak hanya berdampak pada prestasi belajar, tapi juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter.

Peserta didik yang memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif akan menunjukkan perilaku dalam kegiatan belajar secara efektif dan efisien





G. Identifikasi kemampuan awal dan kesulitan Belajar

Sebelum memasuki dan memulai kegiatan belajar-mengajar guru harus mengetahui bekal awal peserta didik.

Hal ini akan memberikan bantuan kepada guru dalam merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan awal peserta didik. Aspek-aspek bekal awal ajar peserta didik meliputi fungsi kognitif, fungsi afektif, psikomotor.

Untuk mengidentifikasi jenis dan ruang lingkup pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai peserta didik dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan mengenai materi yang terdahulu (apersepsi) dan pretest sebelum mereka memulai dengan kegiatan belajar-mengajar.

Peserta didik diduga mengalami kesulitan belajar apabila tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu berdasarkan indikator atau ukuran kapasitas (taraf intelegensi) atau kemampuan dalam program pelajaran atau tingkat perkembangan. Kualifikasi hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

Langkah-langkah dalam mengidentifikasi kesulitan belajar, yaitu
(1) menandai dan menemukan kesulitan belajar, untuk mengetahui siapa siapa yang mengalami kesulitan belajar; (2) melokalisasi letak kesulitan untuk mengetahui di manakah kelemahan-kelemahan itu terjadi; (3) mengidentifikasi faktor penyebab kesulitan belajar untuk mengetahui mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi.

Semoga artikel sederhana yang mengulas penguatan pendidikan karakter peserta didik ini dapat bermanfaat dan dapat sebagai tambahan pengetahuan, dan bagi yang mau berkomentar atau memberikan masukan silahkan, kami akan senang

Menjadi Guru Pembelajar Masa Kini

Menjadi Guru Pembelajar Masa Kini

Peran Guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai salah satu kunci keberhasilan belajar peserta didik. Guru Profesional adalah guru yang kompeten membangun proses  pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter Prima. Salah satu kunci untuk dapat mewujudkan hal tersebut adalah Guru tersebut mau belajar dan terus belajar Prefesional dan Pedagogik.
Salah satu upaya pemerintah Pemerintah Melalui Kementrian Pendidikan Nasional adalah menyelenggarakan Pengembangan Profesi Berkelanjutan (PKB), agar upaya tersebut dapat dengan mudah di ukur, maka dipetakan menjadi sepuluh kelompok kompetensi.Upaya tersebut diatas tentunya akan menjadi kurang bermakna apabila selaku guru yang menjadi sasaran utama kurang dapat menindak lanjuti dengan sikap dan usaha yang kurang sungguh -sungguh. dan bagi anda yang ingin dirindukan siswanya dalam pemebelajaran bisa simak dua tips berikut 


Penelitian Ethna Reid menyimpulkan bahwa untuk menjadi guru yang baik ternyata yang paling utama adalah menanamkan 2 kebiasaan.
1.    Perbanyak memuji siswa, hindari mematahkan semangat belajar siswa dengan gerutuan dan
2.    memvariasikan metode mengajar antara metode menerangkan dan metode bertanya,  segera perbaiki kesalahan murid jika ada.
Metode ini dapat berhasil di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, bagi guru yang ingin murid-muridnya mampu lebih baik dalam menguasai pelajaran, persering menggunakan metode ini. 
Bagi orang tua yang ingin anak-anaknya dapat belajar dengan baik di sekolah, carilah sekolah dengan guru yang memiliki 2 kebiasaan tersebut.
Guru-guru dengan 2 kebiasaan ini mampu mengalahkan statistik dan membuat muridnya senang belajar di sekolah. Di rumah, orang tua juga dapat menggunakan 2 kebiasaan tersebut untuk mendidik anak. Dengan 2 kebiasaan sederhana ini, setiap anak akan kembali kepada fitrahnya, manusia yang cerdas.

Sumber: Patterson, Kerry. Influencer: The Power to Change Anything


semoga dapat menjadi inspirasi rekan semua

Pengertian Dan Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Pengertian PTK

Bentuk kegiatan inkuiri dalam kegiatan pembelajran yang mulai populer sejak berlakunya kurikulum 2013 adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Mengapa kegiatan ini menjadi populer??

Karena Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan salah satu bagian yang menunjang jenjang jabatan fungsional guru, sebagai kegiatan keprofesian berkelanjutan. sehingga sejak diberlakukanya peraturan bersama MENDIKNAS dan Kepala BKN NOMOR : 03/V/PB/2010 dan NOMOR : 14 TAHUN 2010 kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menjadi komponen yang harus bisa dilaksanakan. Oleh Pendidik di semua jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah

Rekan blogger sekalian. Pada kesempatan kali ini akan saya share mengenai Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Dan Karaktristiknya. Walaupun hal ini jelas sudah banyak yang mengupasnya, namun tidak ada salahnya sebagai suatu khasanah keilmuan kita ulas kembali bukan???

1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Di tinjau dari suku katanya Penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga suku kata, yang pertama Penelitian; menurut suharsimi arikunto (2006:2) penelitian adalah suatu kegiatan dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi penelitinya.
Jadi penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang suatu masalah berdasar atas fakta, konsep, generalisasi, dan teori yang memungkinkan manusia dapat memahami fenomena dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

yang ke dua Tindakan; tindakan adalah kegiatan yang disengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Jadi dalam PTK, tindakan berbentuk rangkaian siklus kegiatan yang diperuntukan bagi siswa.
dan yang ke tiga adalah kelas., pengertian kelas secara luas adalah sekelompok siswa yang sedang belajar. Atau sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama melakukan kegiatan belajar mengajar yang sama dari guru yang sama pula (Suharsimi dkk 2006:3).

Jadi apabila merujuk dari ketiga suku kata di atas dapat disimpulkanbahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan pembelajaran yang berupa tindakan, dan sengaja dimunculkan serta terjadi dalam sebuah kelas bersama. Atau menurut pendapat Hopkin (1993: 1), mengemukakan bahwa, penelitian tindakan kelas adalah tindakan yang diambil guru untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan di dalam praktik, atau mempunyai makna sebagai evaluasi dan implementasi keseluruhan prioritas sekolah.

Dengan demikian sebenarnya penelitian tindakan itu secara alamiah telah dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Namun demikian, hal itu tidak secara otomatis dapat dikatakan penelitian tindakan, sebab ciri utama penelitian tindakan terletak pada perencanaan yang matang.

2. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Setiap penelitian memiliki karakter tertentu yang membedakannya dari penelitian lainnya. Secara mudah , dapat diidentifikasi beberapa karakteristik Penelitian Tindakan Kelas, di bawah ini terdapat sepuluh karakteristik PTK yaitu sebagai berikut.

a) Masalah yang diangkat untuk dipecahkan melalui PTK harus berasal dari persoalan praktik  
    pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Permasalahan penelitian hendaknya bersifat 
    konstektual dan spesifik.

b) Tujuan utama PTK adalah untuk meningkatkan/memperbaiki praktik-praktik pembelajaran secara 
     langsung daripada menghasilkan pengetahuan.

c) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berlingkup mikro, dilakukan dalam lingkup kecil, bisa satu kelas 
    atau beberapa kelas di suatu sekolah tertentu, sehingga tidak terlalu menghiraukan kerepresen  
    tatifan sampel. Istilah sampel dan pupulasi tidak diperlukan dalam PTK ini, karena hasil PTK 
    tidak untuk digeneralisasikan.

d) Hasil temuan PTK adalah pemahaman mendalam mengenai kehidupan kelas.

e) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bersifat praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual 
    didalam dunia kerja atau dunia pendidikan.

f) Pada PTK, peneliti sebagai guru tetap melaksanakan tugasnya sehari-hari mengajar di kelas dan 
   guru sebagai peneliti dapat melakukan perubahan-perubahan atau pemecahan masalah untuk 
   perbaikan atau peningkatan pembelajaran.

g) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) termasuk jenis penelitian terapan yang melibatkan peneliti secara aktif mulai dari pembuatan rancangan penelitian, rencana tindakan, sampai pada penerapannya dengan modifikasi intervensi yang sesuai dengan perkembangan kelas.

h) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bersifat fleksibel dan adaptif, membolehkan peneliti mengadakan perubahan-perubahan selama dalam masa penelitian dan mengorbankan kontrol demi kepentingan pelaksanaan on the spot experimentation dan inovasi.

i) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dilaksanakan secara kolaboratif, yaitu kerja sama antara teman sejawat, atau kepala sekolah, dan pakar pendidikan, untuk berbagi kepakaran dan atas pemahaman terhadap kelebihan masing-masing. PTK dapat juga dilakukan secara individual (oleh seorang peneliti), dan atau dalam bentuk tim.

j) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dengan langkah-langkah berupa siklus yang sistematis, dengan urutan dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Demikian Pengertian Dan Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dapat saya postingkan semoga bermanfaat dan jika berkenan silahkan tinggalakan komentar sobat sekalian