Cara Menyusun Kerangka Proposal PTK


Proposal PTK merupakan paparan rencana kegiatan yang dituangkan dalam bentuk naratif guna mengorganisasikan seluruh rangkaian kegiatan PTK

Sehingga Penyusunan proposal penting untuk dipelajari, karena kegiatan ini merupakan tahap pertama yang harus Anda lakukan sebelum melaksanakan PTK.

Dan pada kesempatan ini saya akan berbagi tentang cara menyusun kerangka proposal PTK yang benar. Namun sebelum kita kupas lebih jauh, kiranya Anda perlu memahami kembali salah satu komponen penting proposal adalah rumusan masalah yang selalu diawali dengan identifikasi masalah

A. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah

   Penelitian diawali dengan adanya masalah, apakah Anda selama menjadi guru pernah merasakan adanya masalah di kelas? Tentu pernah bukan? Masalah yang kita temukan dapat bersumber dari mana saja.

Berikut ini beberapa definisi tentang masalah.

  • Masalah pembelajaran/pendidikan adalah harapan tentang kondisi pembelajaran yang berkualitas dengan mutu pembelajaran yang ada saat ini. 
  • Masalah adalah situasi yang tidak memuaskan/ganjalan pikiran dan perasaan yang mendorong peneliti untuk mencari solusi. 

Untuk mengetahui adanya masalah dalam pembelajaran yang kita laksanakan dapat dilakukan dengan cara merenungkan kembali atau melakukan refleksi terhadap kegiatan atau proses pembelajaran yang selama ini telah Anda lakukan. Ketika Anda melakukan refleksi, Anda dapat mengajukan pertanyaan - pertanyaan kepada diri sendiri.

Contoh pertanyaan yang dapat diajukan kepada diri sendiri, misalnya sebagai berikut.

  1. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
  2. Apakah peserta didik cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran?
  3. Apakah kompetensi awal peseta didik untuk belajar suatu konsep cukup memadai?
  4. Apakah sarana/prasarana pembelajaran cukup memadai?
  5. Apakah hasil pembelajaran mencapai nilai KKM?
  6. Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran inovatif tertentu?

Selain melakukan refleksi dengan cara bertanya kepada diri sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, Anda dapat mengidentifikasi masalah dengan membuat studi kasus dari pembelajaran yang telah Anda laksanakan.

Yang dimaksud dengan studi kasus dalam konteks ini adalah alat bantu untuk mengidentifikasi masalah yang dapat kita gunakan dalam PTK.

Studi kasus adalah episode yang diingat, ditulis sebagai sebuah cerita, sebuah naratif pengalaman mengajar guru.

Hal yang ditulis harus sangat khusus, sangat bersifat lokal. Harus menyertakan unsur manusia: minat guru, aksi dan kesalahan, rasa frustrasi, dan kesenangan atau kekecewaan yang dirasakan pada akhir sesi". (William Louden, ”Case studies in teacher education” (1995) dalam BBM PTK Generik program BERMUTU, 2009.

Setelah membuat studi kasus, Anda dapat menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa yang sedang terjadi di kelas saya?
  2. Masalah-masalah apa yang ditimbulkan oleh keadaan tersebut?
  3. Apa pengaruh masalah tersebut bagi kelas saya?
  4. Apa yang terjadi jika masalah tersebut saya biarkan atau tidak segera dicarikan solusinya?

Pada awalnya, mengidentifikasi masalah adalah sulit, namun ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu kita dalam mengidentifikasi masalah PTK.

Hopkins (1993:63) mengemukakan beberapa pertanyaan untuk membantu memfokuskan permasalahan, yaitu:

  1. Apa yang sekarang sedang terjadi?
  2. Apakah yang sedang berlangsung itu mengandung permasalahan?
  3. Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya?
  4. Apakah yang ingin saya perbaiki?
  5. Adakah gagasan yang ingin saya cobakan di kelas saya?

Setelah teridentifikasi fokus masalah PTK, untuk membantu menentukan masalah yang akan dipilih, jawablah pertanyaan berikut:

  1. Apakah dengan fokus tersebut anda dapat memperbaikinya?
  2. Apakah orang lain juga merasakan hal yang kurang beres itu?
  3. Apakah anda merasa kebingungan dengan apa yang ditemukan?
  4. Apakah anda semakin terdorong untuk mencari solusi untuk permasalahan itu?

Rumusan masalah hendaknya juga memberikan informasi tentang what (apa yang dipermasalahkan; who (siapa yang terlibat sebagai objek masalah); where (dimana terjadinya masalah); when (kapan terjadinya masalah); dan how (bagaimana penyimpangan).

Berikut ini contoh masalah yang bersifat umum:

”Minat belajar siswa terhadap pelajaran IPA rendah”

Dari masalah yang bersifat umum di atas, dapat dispesifikkan sebagai berikut:

” Lebih dari 70% minat dan aktivitas siswa kelas XI SMA ABC Brebes pada tahun 2015 terhadap pelajaran Kimia rendah”.

Dari masalah di atas dapat ditelusuri hal-hal berikut:

  1. Apa yang menjadi masalah? (minat dan aktivitas siswa terhadap pelajaran Kimia)
  2. Siapa yang mengalami masalah? (siswa kelas XI)
  3. Di mana masalah itu terjadi? (di kelas XI SMA ABC Brebes)
  4. Kapan masalah itu terjadi? (tahun 2015)
  5. Berapa banyak siswa yang mengalami masalah? ( lebih dari 70%)

Setelah Anda dapat mengidentifikasi masalah. Masalah yang akan diteliti dipilah sesuai prioritas yang akan dicari solusinya.

Masalah dirumuskan dalam rumusan masalah. Ada beberapa petunjuk dalam merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut

  • Masalah hendaknya dirumuskan secara jelas, dalam arti tidak mempunyai makna ganda.
  • Masalah penelitian dapat dituangkan dalam kalimat tanya. 
  • Rumusan masalah umumnya menunjukkan hubungan antara dua atau lebih variabel. Variabel bebas berupa tindakan, variabel terikat berupa hasil tindakan tersebut. 
  • Rumusan masalah hendaknya dapat diuji secara empirik. Maksudnya, dengan rumusan masalah itu memungkinkan dikumpulkannya data untuk menjawab pertanyaan tersebut. 
  • Rumusan masalah menunjukkan secara jelas subjek dan/atau lokasi penelitian. 

Contoh rumusan masalah:
        Setelah anda ingat kembali tentang masalah dan rumusan masalah, berikutnya saya akan coba paparkan tentang Bagaimana Kerangka Proposal PTK yang benar.

Kerja penelitian dimulai dengan membuat rencana. Rencana penelitian umumnya disebut proposal atau usulan penelitian.

B. Sistematika Proposal PTK

Pada umumnya proposal PTK terdiri atas komponen-komponen berikut : judul, pendahuluan, kajian teori/kajian pustaka, metode.

a. Judul PTK

Judul dinyatakan dengan kalimat sederhana, namun tampak jelas maksud tindakan yang akan dilakukan dan dimana penelitian dilaksanakan, jika diperlukan cantumkan semester/tahun pelajaran.

Berikut contoh judul PTK:

  • Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas XII pada Mata Pelajaran Kimia Topik Sel Volta SMA .....
  • Upaya Meningkatkan Keterampilan Menginfer dan Menginterpretasikan Data Dalam Pelajaran Kimia Topik Sel Elektrolisis di kelas XII SMA ....

b. Bagian Pendahuluan

Bagian pendahuluan berisikan tentang penjelasan:

1) Latar belakang

    Dalam latar belakang dijelaskan kondisi objektif yang mengharuskan dilaksanakannya PTK. Kondisi ini merupakan hasil identifikasi guru terhadap masalah pembelajaran yang telah dilaksanakan. Masalah yang diteliti benar - benar masalah pembelajaran yang terjadi dan mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan ditinjau dari ketersediaan waktu, biaya, daya dukung lainnya yang dapat memperlancar penelitian tersebut.

Di samping itu, kemukakan kondisi yang ada dan kondisi pembelajaran yang seharusnya dilakukan sehingga jelas terdapat kesenjangan yang merupakan masalah yang menuntut untuk dicari solusinya melalui PTK.

Secara garis besar dikemukakan juga tindakan yang akan dilakukan pada subjek pelaku tindakan dan menjelaskan mengapa tindakan tersebut diberikan.

Pada bagian pendahuluan, boleh juga menyinggung teori yang melandasi diajukannya ide atau gagasan untuk mengatasi masalah.

2) Masalah dan Perumusan Masalah

    Masalah dapat diidentifikasi dari fakta-fakta yang dipaparkan dalam latar belakang dan dipilih untuk dicari solusi dengan PTK.

Setelah masalah ditentukan dibuat rumuskan masalahnya dalam bentuk rumusan penelitian tindakan kelas.

Dalam perumusan masalah dapat dijelaskan definisi asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian.

Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan yang akan dilakukan.

Contoh rumusan masalah :

Saya mengambil contoh rumusan masalah pada mapel kimia


3) Pemecahan Masalah

    Pada bagian ini uraikan alternatif tindakan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah. Pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti hendaknya sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas.

Cara pemecahan masalah ditentukan berdasarkan pada akar penyebab permasalahan dalam bentuk tindakan yang jelas dan terarah.

Untuk mencari akar penyebab timbulnya masalah dapat ditelaah dengan menjawab beberapa pertanyaan, misalnya:

-  Bagaimanakah suasana belajar siswa dalam pelajaran Kimia?

- Apakah metode/pendekatan/model pembelajaran yang digunakan guru menarik?

- Apakah pembahasan mata pelajaran Kimia menyentuh lingkungan siswa sehari-hari?

Dengan menjawab beberapa pertanyaan yang diduga menjadi akar masalah, anda dapat menentukan alternatif pemecahan masalah.

4) Tujuan penelitian

    Tujuan penelitian merupakan proses yang akan dilakukan atau kondisi yang diinginkan setelah dilaksanakannya PTK.

Tuliskan tujuan penelitian yang ingin dicapai secara singkat dan jelas dengan mengacu pada permasalahan penelitian dan dapat diukur tingkat pencapaian keberhasilannya.

Contoh tujuan penelitian dari penjabaran permasalahan:


5) Manfaat Hasil penelitian

    Pada bagian ini uraikan kontribusi hasil penelitian baik dari segi pengembangan teori (tapi tidak terlalu ambisius) dan praktik terhadap pengembangan kualitas pembelajaran sehingga tampak manfaatnya bagi guru dan siswa, maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya.

Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini.

c. Kajian Teori/Kajian Pustaka

    Pada bagian ini diuraikan kajian-kajian teori yang mendukung permasalahan yang dibahas dalam penelitian dan mendasari usulan proposal PTK.

Selain itu kemukakan juga temuan dan atau hasil/bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan yang dikemukakan.

Kajian pustaka juga digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan dgunakan dalam penelitian.

d. Metode Penelitian (Rencana dan Prosedur Penelitian)

    Pada bagian ini diuraikan secara jelas seting penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan subjek penelitian, waktu, lamanya tindakan, serta lokasi penelitian secara jelas .

Contoh: subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA ABC Brebes berjumlah 40 orang terdiri atas 20 orang siswa laki-laki dan 20 orang siswa perempuan dengan tingkat kemampuan siswa rata-rata. Penelitian akan dilakukan pada bulan Januari s. d April tahun 2017.

Prosedur atau rencana tindakan dituliskan secara rinci mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi serta evaluasi.

Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan yang dicapai setiap siklus sebelum pindah ke siklus berikutnya.

Jumlah siklus sebaiknya lebih dari satu. Untuk dapat membantu menyusun bagian ini, disarankan untuk menuliskan pokok-pokok rencana kegiatan dalam suatu tabel.

Contohnya sebagai berikut.

Pokok-pokok Rencana Kegiatan

                                                        Sumber: Suhardjono: (2006: 70-71)

     Di dalam bagian metode penelitian juga diuraikan prosedur pengumpulan data yang mencakup teknik pengumpulan data (apakah menggunakan teknik wawancara, tes, dokumen, observasi, dll), jangan lupa instrumen yang digunakan, serta cara mengolah data.

e. Jadwal penelitian

     Pada bagian ini dijelaskan rencana jadwal penelitian yang meliputi perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian.

Umumnya jadwal penelitian disajikan dalam bentuk gambar diagram atau tabel.


          Demikian contoh membuat proposal PTK yang dapat saya paparkan semoga dapat membantu Anda semua. Dan jika artikel ini bermanfaat silahkan share keteman, atau tuliskan komentar Anda.

Langkah-Langkah Perencanaan Pendidikan Pada Satuan Pendidikan.

langkah - langkah perencanaan pendidikan

Kedudukan perencanaan pendidikan dalam proses layanan pendidikan di setiap satuan pendidikan adalah sangat penting, karena dengan adanya perencanaan pendidikan yang baik dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan serta peluang yang dapat dicapai untuk mewujudkan tujuan.

Dan pada kesempatan kali ini akan di uraikan secara singkat tentang langkah - langkah perencanaan pendidikan di sekolah, sebagai gambaran dalam mengambil tindakan dan keputusan yang dianggap perlu.

Ada tujuh langkah yang harus dilaksanakan dalam perencanaan pendidikan pada satuan pendidikan diantaranya:

a. Forcashting.

Forcashting adalah membuat perkiraan dengan mengantisipasi ke depan yang didasarkan pada factor-faktor organisasi pendidikan baik yang bersifat kondisional maupun situasional. Ada tiga dimensi waktu yang dijadikan perkembangan yaitu lampau, kini dan yang akan datang.
Masa lampau dan masa kini dalam organisasi pendidikan, dengan segala factor kondisional dan situasional dapat dikaji terlebih dahulu sebelum hal-hal yang akan dilakukan tersebut dirumuskan. Dengan demikian apa yang ada pada masa lampau dan masa kini yang berhasil dapat di ulangi, dan yang gagal dapat digunakan sebagai pelajaran.

Gambaran perkembangan masa depan sekolah perlu diproyeksikan, agar tidak kehilangan arah ketika bermaksud untuk merumuskannya. Bagaimanakah kualitas sekolah yang diinginkan di masa depan juga dapat digambarkan dalam for casting ini.

b. Objektif.

Objektif adalah perumusan tujuan. Berdasarkan perkiraan dengan antisipasi kedepan tersebut barulah di identifikasi tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Penggolongan tujuan tersebut bermacam-macam sesuai dengan sudut kepentingan, lingkup, cakupan, dan tingkat lembaga pendidikan.

Jika dalam skala nasional penggolongan tersebut adalah tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.Di dalam dunia pendidikan sendiri urutan tujuan adalah tujuan nasional, tujuan pembangunan nasional, tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan umum pengajaran, tujuan khusus pengajaran.

Tujuan ini senantiasa harus dirumuskan, agar segala kegiatan yang akan dilakukan tersebut betul-betul mengarah pada tujuan yang sama.Jika langkah objektif ini diimplementasikan untuk kondisi sekolah maka setiap sekolah haruslah merumuskan tujuan institusionalnya masing-masing sesuai dengan cirri khas masing-masing sekolah.

c. Policy.

Policy adalah perumusan kebijaksanaan. Kegiatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi kegiatan-kegiatan seperti

  • Tujuan Nasional : Periksa UUD 1945
  • Tujuan pembangunan Nasional :Periksa RENSTRA Pembangunan Nasional terbaru
  • Tujuan Pendidikan Nasional periksa Undang – undang SISDIKNAS no. 20 tahun 2003, PP no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan yang diperbarui dan PERMENDIKNAS terbaru seperti no 20, 21,22, 23 dan 24 tahun 2016
  • Tujuan Institusional Sekolah periksa PERDA dan PP terbaru dan Serap Aspirasi masyarakat, periksa GBPP sekolah.
  • Tujuan Umum Kegiatan Belajar periksa silabus Sekolah dan kompetensi pedagogik untuk mengetahui karakteristik tiap anak.

Serta tinjau semua landasan peraturan yang berlaku dan relevan dalam penyelenggaraan pendidikan

d. Programming.

Programming atau pemrograman adalah seleksi atas kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan pada langkah policy. Seperti misalnya mengapa kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan? Apakah kegiatan tersebut mungkin untuk dilaksanakan berdasarkan factor kondisional dan situasional organisasi atau lembaga pendidikan?

e. Procedure.

Prosedur adalah merumuskan langkah-langkah, yang berarti bahwa kegiatan-kegiatan yang telah diseleksi dalam langkah programming tersebut diurutkan mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu serta program yang mana sebagai program alternatif. Dengan kata lain pilihlah kegiatan yang menjadi unggulan dan kegiatan-kegiatan mana yang tidak menjadi unggulan.

f. Schedule.

Schedule adalah penjadwalan setiap kegiatan-kegiatan yang sudah diprioritaskan tersebut. Jadwal ini perlu dibuat agar kegiatan-kegiatan yang sudah diurutkan pelaksanaannya menjadi konkrit kapan dilaksanakan dan siapa saja bertanggung jawab serta siapa yang terlibat didalamnya.

g. Budgeting.

Budgeting adalah pembiayaan. Dalam aktivitas ini ada dua kegiatan yang dilaksanakan ialah: alokasi anggaran dan penentuan sumber anggaran.

Alokasi anggaran dibuat berdasarkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan di susun serealistis mungkin. Setelah anggaran dialokasikan, sumber-sumber anggaran juga perlu ditetapkan.

Sumber-sumber anggaran sekolah negeri berasal dari anggaran rutin/komite, dana penunjang pendidikan (, bantuan operasional sekolah (BOS), aspirasi dewan dan lain-lain. Sedangkan untuk sekolah swasta berasal dari uang operasional sekolah, BP3, subsidi pemerintah, donatur yayasan dan sebagainya.



Demikian gambaran singkat tentang langkah – langkah perencanaan pendidikan di sekolah, semoga dapat menjadikan inspirasi bagi semuanya. Dan bila artikel ini bermanfaat share ke teman dan berkenan tinggalkan komentar  

Perencanaan Pendidikan dan Ruang Lingkupnya Menurut Pendapat ahli

Ruang Lingkup Perencanaan Pendidikan

Bagaimana seharusnya organisasi-organisasi pendidikan diatur sehingga menunjang tercapainya tujuan yang diinginka?

Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu adanya suatu perencanaan/planing yang benar

Secara sederhana Perencanaan berorientasi pada masa depan dan meliputi analisis yang menyeluruh (komperhensif) tentang masa kini, dan juga kekuatan – kekuatan sejarah yang membentuk perkembangannya.

Perecanaan pendidikan harus berorientasi terhadap program siswa yang terstruktur dengan kondisi yang relevan dengan lingkungan sekitarnya. Perencanaan pendidikan dipandang perlu untuk melibatkan berbagai tingkatan (steakholders) yang ada di masyarakat.

Pada kesempatan kali ini akan di paparkan Pendapat Ahli Ttentang pengertian dan Ruang Lingkup perencanaan pendidikan.

Pengertian Perencanaan Pendidikan

1. Good (1959:191) :”perencanaan pendidikan adalah suatu proses untuk menetapkan tujuan , menyediakan fasilitas serta lingkungan tertentu, mengidentasi prasarat yang telah ditetapkan, serta menetapkan cara yang efektif serta efisie dalam membentuk manusia memiliki kompetensi sosial dan individual secara maksimal.

2. Albert Waterston (1975) :”Perencanaan pendiikan murupakan suatu bentuk investasi pendidikan yang dapat dijalankan dan segala kegiatan pembangunan yang didasarkan kepada pertmbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.

3. Coomb (1982) :” Perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakatnya.

4. Endang Sunarya (2000:1) :” Perencanaan pendidikan merupakan suatu proses perumusan kebijakan dan instrument sekaligus teknik penentuan prioritas serta merupakan bagian integral pembangunan nasional suatu negara juga penghubung antara harapan orang tua, masyarakat, peserta didik dan negara dalam upaya mencapai tujuan maupun fungsi pendidikan.

5. DEPDIKNAS (2006) :” Perencanaan pendidikan merupakan suatu proses penyusunan gambaran kegiatan pendidikan dimasa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

6. Engkos Koswara dan Aan Komariah (2010) :” Perencanaan pendidikan adalah proses menetapkan keputusan yang berkaitan dengan tujuan – tujuan yang akan dicapai, sumber – sumber yang akan diberdayakan, dan dan metode yang dipilih secara tepat untuk melaksanakan tindakan selama kurun waktu tertentu agar penyelenggaraan sistem pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan bermutu.

Lihat Juga Cara Bongkar Website

Ruang lingkup perencanaan pendidikan

Ruang lingkup perencanaan pendidikan mempunyai jangkauan yang cukup luas, dan dapat ditinjau dari berbagai aspek, antara lain:

a. Ditinjau dari aspek spasialnya, yaitu perencanaan pendidikan yang memiliki karakter yang terkait dengan ruang, tempat atau batasan wilayah.

Perencanaan ini dapat terbagi menjadi:

(1) Perencanaan pendidikan nasional, yaitu mencakup seluruh proses usaha layanan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, yang diatur dalam sistem pendidikan nasional (sispenas) melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional;

(2) Perencanaan pendidikan regional, yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat dan diberlakukan dalam wilayah regional tertentu, misalnya perencanaan pengembangan layanan pendidikan tingkat Propinsi dan Kabupaten/ Kota;

(3) Perencanaan pendidikan kelembagaan, yaitu perencanaan pendidikan yang mencakup satu institusi atau lembaga pendidikan tertentu,


b. Dintinjau dari aspek sifat dan karakteristik modelnya, dapat dibagi menjadi:

(1) Perencanaan pendidikan terpadu (integrated educational planning), dalam hal ini perencanaan pendidikan ada keterpaduan atau keterkaitan secara sistemik dengan perencanaan pembangunan bidang ekonomi, politik, hukum dan sebagainya;

(2) Perencanaan pendidikan komprehensif (comprehension educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun secara sistematik, rasional, objektif yang menyangkut keseluruhan konsep penting dalam layanan pendidikan

(3) Perencanaan pendidikan strategik (strategic educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang mengandung pokok-pokok perencanaan untuk menjawab persoalan atau opini, atau isu mutakhir yang dihadapi oleh dunia pendidikan,


c. Ditinjau dari aspek waktunya. Perencanaan pendidikan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

(1) Perencanaan pendidikan jangka panjang (long term educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun ke atas, isi perencanaan jangka panjang ini belum ditampilkan sasaran yang bersifat kuantitatif;

(2) Perencanaan pendidikan jangka menengah (medium term educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dalam jangka waktu antara 3 - 8 tahun (perencanaan untuk empat atau lima tahun atau satu periode kepemimpinan). Perencanaan jangka menengah merupakan penjabaran lebih kongkrit dari perencanaan jangka panjang, yang sudah merumuskan sasaran atau tujuan yang secara kuantitatif yang akan dicapai;

(3) Perencanaan pendidikan jangka pendek (short term educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dalam jangka waktu maksimal 1 tahun. Perencanaan ini sering disebut perencanaan operasional tahunan (annual operational planning), yang memuat langkah-langkah strategis dan operasional sehari-hari, yang merupakan penjabaran lebih rinci dan aplikatif dari perencanaan jangka memengah.


d. Ditinjau dari aspek tingkatan teknis perencanaan. Perencanaan ini dibedakan menjadi:

(1) Perencanaan pendidikan makro, yaitu perencanaan pendidikan yang bersifat nasional atau sering disebut dengan perencanaan pendidikan nasional, yang berlaku di seluruh negara kesatuan RI dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. disebut juga dengan ‘sistem pendidikan nasional’ (Sisdiknas);

(2) Perencanaan pendidikan mikro, yaitu perencanaan pendidikan yang disusun dan disesuaikan dengan kondisi otonomi daerah masing-masing. Dalam perencanaan pendidikan mikro, secara teknis perlu memperhatikan: (a) ketentuan/ standar; (b) kondisi geografis dan demografis; dan (c) infrastruktur yang ada di daerah, sedangkan secara non teknis perlu memperhatikan: (a) aspirasi dan peran serta masyarakat terhadap pendidikan; (b) kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik dan kamanan daerah;

(3) Perencanaan pendidikan sektoral, yaitu kumpulan program atau kegiatan pendidikan yang menekankan pada sektor tertentu, namun tetap ada keterkaitan dengan sektor lainnya;

(4) Perencanaan pendidikan kawasan, yaitu perencanaan pendidikan yang memperhatikan kawasan lingkungan tertentu sebagai pusat kegiatan pendidikan, misalnya perencanaan pendidikan kawasan pesisir, kawasan pinggiran kota;

(5) Perencanaan pendidikan proyek, yaitu perencanaan operasional yang menyangkut implementasi kebijakan untuk mencapai tujuan, misalnya perencanaan proyek unit sekolah baru SMK.


e. Ditinjau dari aspek jenis perencanaan. Perencanaan pendidikan ini dibedakan menjadi:

(1) Perencanaan pendidikan dari atas ke bawah (top down educational planning), perencanaan ini sering disebut juga perencanaan pendidikan makro atau perencanaan pendidikan nasional;

(2) Perencanaan pendidikan dari bawah ke atas (bottom up educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat oleh tenaga perencana dari tingkat bawah kemudian disampaikan ke pusat, misalnya perencanaan yang dibuat oleh guru, kepala sekolah, Dinas Pendidikan kemudian disampaikan ke Kementrian Pendidikan Nasional;

(3) Perencanaan pendidikan menyerong dan menyamping (diagonal educational planning), perencanaan ini sering disebut perencanaan sektoral, yaitu perencanaan yang melibatkan kerjasama antar departemen atau lembaga, misalnya, lembaga Kementrian Pendidikan Nasional dengan Bappeda Propinsi;

(4) Perencanaan pendidikan mendatar (horizontal educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat dengan menjalin kerjasama antar lembaga atau departemen yang sederajat, misalnya perencanaan pendidikan antara kementrian pendidikan dan kementrian agama dan kementrian sosial;

(5) Perencanaan pendidikan menggelinding (rolling educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang dalam bentuk perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang;

(6) Perencanaan pendidikan gabungan atas ke bawah dan bawah ke atas (top down and bottom up educational planning), yaitu perencanaan pendidikan yang mengintegrasikan atau mengakomodasi kepentingan pusat dan daerah (lokal) (Oliver, Paul, ed. 1996; Usman, H. 2008).

Demikian pendapat para ahli tentang pengertian dan Ruang lingkup rencana pendidikan, yang dapat kami paparkan semoga bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan komentar untuk perbaikan.



Anak Cerdas Karena Tidur yang Cukup, Benarkah?

Tidur Berkualitas

Secara universal tidur merupakan cara manusia beristirahat dan memulihkan stamina. Ibarat suatu mesin , agar dapat memiliki performa seperti semula maka perlu di refress kembali, demikian pula tenaga manusia perlu diisi ulang. Salah satu cara yang diperlukan melalui tidur ini.

Namun ternyata tidak hanya itu. Kualitas tidur yang baik berperan penting dalam mencerdaskan otak tidak terkecuali dengan otak anak.

Apa benar harus tidur cukup agar anak cerdas?
Penelitian yang dilansir di London pada 1998 mengungkapkan bahwa anak yang banyak tidur, perkembangan otaknya akan optimal. Pasalnya, aktivitas tidur merupakan salah satu stimulus bagi proses tumbuh kembang otak, tidak mengherankan jika aktivitas tidur pengaruhi kecerdasan anak. Hal ini bisa dimengerti karena 75 persen hormon pertumbuhan diproduksi saat anak tidur.

Dilansir dari Hallo Sehat, tidur memang tak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan anak. Tidur cukup saja tidak otomatis membuat anak langsung sepintar Einstein. Namun durasi tidur anak yang cukup membuat fisik dan mentalnya menjadi lebih siap menghadapi tantangan keesokan hari. Kondisi inilah yang berpengaruh terhadap kecerdasan anak.

Ketika energi berkurang dan tubuh mulai letih, si kecil yang seolah tidak pernah capek bermain sering kali menjadi rewel, bukan?

Kondisi itu juga menyebabkan anak tak lagi bisa berkonsentrasi menjalani aktivitasnya. Inilah saatnya si kecil perlu tidur. Apabila tidurnya cukup, anak akan segar kembali dan dapat bermain sambil belajar saat bereksplorasi.

Sama halnya dengan anak yang bersekolah dari pagi hingga siang hari. Sepulang sekolah, dalam keadaan letih, dia pasti akan sulit berkonsentrasi ketika diminta mengulang pelajaran. Apabila dipaksakan, mungkin hasilnya nihil. Lebih baik berikan kesempatan kepada anak untuk beristirahat agar energinya kembali.

Tidur nyenyak melepas hormon pertumbuhan. Hormon pertumbuhan inilah yang bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan. Selain itu, hormon pertumbuhan juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbarui seluruh sel dalam tubuh, dari sel kulit, sel darah, sampai sel saraf otak.
Tidur dan proses konsolidasi memori ,dengan fisik yang bugar dan didukung oleh sel-sel baru yang lebih sehat, maka tak heran anak akan lebih semangat dalam melakukan sesuatu. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja otak dan melancarkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak.

Dengan demikian, sel-sel saraf semakin berkemungkinan memiliki pengetahuan yang permanen sifatnya. Tidur nyenyak akan memicu pelepasan hormon pertumbuhan.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasi oleh jurnal Frontiers in Human Neuroscience, kurang tidur dapat mengubah struktur selubung myelin. Selubung myelin adalah salah satu struktur penting pada sel saraf yang memengaruhi hantaran sel saraf. Selain itu, saat tidur juga terjadi proses konsolidasi memori. Ini berarti memori-memori baru akan tertanam dengan lebih baik ketika anak mendapatkan cukup tidur.

Untuk itu, bisa disimpulkan bahwa tidur yang cukup sangat penting agar anak cerdas dan kemampuan otaknya tetap optimal. Jadi, jangan usik pulasnya tidur si kecil jika ingin anak tumbuh cerdas, karena tidur malam yang cukup bisa pengaruhi kecerdasan si kecil.

Anak-anak membutuhkan durasi tidur yang cukup untuk membantu perkembangan fisik dan mentalnya yang sangat cepat.

Durasi tidur yang dibutuhkan agar anak cerdas akan berbeda-beda sesuai dengan usianya. Namun umumnya bayi usia 0-3 bulan membutuhkan 14-17 jam tidur malam, sementara bayi usia 4-11 bulan perlu 15 jam waktu tidur. Anak-anak usia 1-2 tahun membutuhkan durasi tidur sebanyak 11-14 jam dalam sehari. Saat usia anak menginjak 3 tahun, durasi tidur anak makin berkurang. Anak usia 3-5 tahun membutuhkan tidur selama 10-13 jam dalam sehari. Durasi tidur yang anak butuhkan saat usianya 6-13 tahun adalah selama 9-11 jam setiap hari.

Demikian Post artikel kali ini, semoga bermanfa'at, dan silahkan tinggalkan komentar untuk perbaikan mendatang



Sumber : Compas, Agustus 2018

Lima Makanan Yang Dapat Membantu Menjaga Daya Tahan Tubuh Terhadap Penyakit

makanan sehat

Menjelang pergantian musim seperti sekarang ini, sebagaimana orang sering menyebutnya dengan musim pancaroba. Banyak sekali orang di sekitar kita, bahkan mungkin salah satu teman atau saudara kita terserang flu, batuk , demam, dan pusing.

Sehingga akan mengganggu aktifitas kita sehari – hari seperti harus ke kantor, ke sekolah ataupun aktifitas di luar ruang lainnya.

Berikut ini lima makanan yang dapat membantu menjaga daya tahan tubuh yang mudah dikonsumsi dan mudah peroleh di sekitar kita, sehingga kita terhindar dari serangan penyakit tersebut diatas :

1. Lemon

Lemon kaya akan senyawa yang disebut bio-flavonoid, yang membunuh radikal bebas penyebab kanker. Lemon juga mengandung vitamin C yang bisa memenuhi setengah dari kebutuhan harian. Mengonsumsi jus lemon atau lemon dengan teh hangat adalah strategi mudah untuk melindungi tubuh dari flu atau infeksi lainnya.

2. Apel

Menurut sebuah penelitian di tahun 2015, orang yang makan apel setiap hari lebih jarang sakit, lebih sedikit muncuk gejala asma. Dan karena kaya akan serat, apel juga dapat membantu mengurangi peradangan yang menjadi infeksi.

3. Bawang putih

Mungkin aromanya menyengat, tapi ternyata bawang putih bermanfaat untuk mencegah infeksi. Para ilmuwan mengatakan bahwa mengonsumsi bawang putih dapat menangkal masuk angin, serta mengurangi risiko kanker perut, kolon, dan esofagus.

4. Grapefruit

Buah jeruk besar yang kulitnya oranye dan buahnya berwarna merah ini mengandung lebih dari 60 persen kandungan vitamin C harian. Buah ini dapat membantu tubuh menyerap nutrisi penting seperti zat besi. Jika teratur mengonsumsi makanan ini mungkin bisa mengurangi gejala pilek.

5. Jahe

Jahe sangat direkomendasikan untuk mengobati mual. Antioksidan di dalamnya berfungsi sebagai anti-peradangan. Kajian terbaru dari 60 penelitian menemukan bahwa jahe yang mengandung beta-karoten dan capsaicin ini mungkin memiliki efek menguntungkan, yaitu mencegah penyakit seperti obesitas, penyakit jantung, dan diabetes.

Demikian share tips kesehatan kali ini semoga bermanfa'at, kalau berkenan tinggalkan komentar



Sumber detik.com periode agustus 2018

Tahapan - Tahapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Yang Perlu Diketahui

Setelah pada posting sebelumnya saya sampaikan model pelaksanaan PTK. untuk posting kali ini akan saya share kan tentang tahapan pelaksanaan PTK, dimana tahapan pelaksaan PTK terdiri atas empat tahap pokok yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan (observasi), dan (4) refleksi.

Dari ke empat tahapan tersebut dapat dijabarkan menjadi lima tahapan sebagai berikut :
  • Refleksi Awal 
Refleksi awal dilakukan oleh peneliti berkolaborasi dengan partisipan (teman sejawat atau dari praktisi lain) untuk mencari informasi tentang kondisi awal dari permasalahan yang akan dicari solusinya.
tahapan penelitian

Refleksi awal dapat dilakukan dengan cara menelaah kekuatan atau kelemahan dari suatu proses pembelajaran yang telah dilakukan baik dari aspek diri sendiri, siswa, sarana belajar atau sumber/lingkungan belajar.

Dari temuan-temuan awal, difokuskan pada identifikasi masalah yang nyata, jelas dan mendesak untuk dicari solusinya

Sebagai contoh, misalnya Anda telah mengajarkan kegiatan bagaimana peserta didik melakukan perancangan dalam melakukan penyepuhan untuk menerapkan konsep elektrolisis.

Setelah pembelajaran dilaksanakan ternyata, siswa sulit melakukan kegiatan perancangan suatu proyek tersebut.

Dalam hal ini, Anda dapat menelusuri beberapa penyebab kesulitan siswa dalam melakukan perancangan alat, melakukan pengkajian terhadap alur pembelajaran yang sudah dilakukan, sarana yang diperlukan, alokasi waktu, atau pengetahuan dan keterampilan prasyarat yang diperlukan siswa.
  • Perencanaan Tindakan (planning) 
Dalam tahap ini, Anda sebagai peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan. Apabila Anda telah yakin terhadap kebenaran rumusan masalah, maka selanjutnya adalah menyusun rencana tindakan yang meliputi:
  • Penetapan bukti atau indikator untuk mengukur tingkat ketercapaian pemecahan masalah sebagai akibat dilakukannya tindakan;
  • Penetapan skenario tindakan-tindakan yang diharapkan dapat menghasilkan dampak ke arah perbaikkan program;
  • Perencanaan metode dan alat untuk mengamati dan merekam/mendokumentasikan semua data tentang pelaksanaan tindakan;
  • Perencanaan metode dan teknik pengolahan data sesuai dengan sifat dan kepentingan penelitian.


  • Pelaksanaan Tindakan 
Tahap ini merupakan implementasi atau penerapan isi rencana, yaitu melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan langkah-langkah tindakan yang telah direncanakan pada tahap perancangan. Dalam waktu yang sama Anda dan rekan kolaborasi Anda melakukan pengamatan dan interpretasi terhadap jalannya pelaksanaan tindakan itu.
  • Observasi 
Observasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, dan seberapa jauh proses yang terjadi dapat diharapkan menuju sasaran yang diharapkan. Sebenarnya observasi atau pengamatan tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan. Jadi observasi dan pelaksanaan dilakukan dalam waktu bersamaan.
  • Refleksi dan evaluasi 
Refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi, dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan.

Evaluasi dilakukan dengan menggunakan suatu kriteria, misalnya kriteria efektivitas pengajaran yang mempunyai indikator penggunaan waktu, biaya, tenaga, dan pencapaian hasil. Evaluasi dapat dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif.

Pada tahapan refleksi dilakukan analisis data yang diperoleh dari dampak pelaksanaan tindakan dan hambatan yang muncul dan didiskusikan rencana berikutnya untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang.

Setelah melakukan observasi, refleksi, dan evaluasi biasanya muncul permasalahan baru atau pemikiran baru, sehingga Anda merasa perlu melakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang.

Dari tahapan – tahapan yang ada akan membuahkan suatu kerangka berfikir yang di gambarkan mendekati sebuah siklus tindakan, sebagai contoh misalkan kita menggunakan model model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), dengan tujuan meningkatkan minat dan prestasi belajar, contoh tahapannya sebagi berikut :

tahapan PTK


Demikian langkah-langkah kegiatan PTK dalam satu siklus terus berulang, sehingga membentuk siklus kedua, ketiga, dan seterusnya.

Sampai disini dulu share mengenai tahapan –tahapan PTK, kalau anda berkenan silahkan komentar untuk menuju proses yang lebih baik atau yang lainnya

Model - Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Menurut Pakar

Sebagaimana kita semua pahami bahwa Pelaksanaan Penelitian tindakan kelas adalah suatu pekerjaan yang menuntut ketelitian dalam pelaksanaanya. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya membutuhkan teknik yang tepat dan akurat agar tujuan yang kita harapkan dapat terlampaui, sehingga dalam penerapannya kita membutuhkan model atau bentuk yang paling mendekati/ sesuai dengan tujuan yang akan kita capai tersebut.

Dan pada posting kali ini akan saya paparkan beberapa model Penelitian tindakan kelas yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan dan bisa kita jadikan acuan saat kita mau melakukan penelitian tindakan kelas. Namun sebelum kita lihat lebih jauh tentang model PTK tersebut, mari kita lihat terlebih dahulu model PTK secara universal.

Secara umum Terdapat empat tahapan penting untuk setiap Pelaksanaan PTK yaitu : 1). perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan (observasi), dan (4) refleksi.
Dari keempat tahapan tersebut dapat digambarkan seperti bagan berikut:


Bila kita perhatikan bagan diatas maka, tampak bahwa penelitian Tindakan kelas merupakan proses perbaikan secara terus menerus dari suatu tindakan yang masih mengandung kelemahan sebagaimana hasil refleksi menuju ke arah yang semakin baik.

Lihat Juga : Panduan Mengelola Website Sekolah

Sedangkan model penelitian tindakan menurut para ahli (Model Kurt Lewin; dan John Elliot) seperti pada urain singkat berikut:


Model PTK menurut Kurt Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis mencakup langkah-langkah menemukan gagasan awal yang dilanjutkan dengan menemukan fakta-fakta (recoinnaissance) yang selanjutnya fakta tersebut dianalisis untuk menentukan masalah dan prioritas untuk dicari pemecahanya. Langkah selanjutnya adalah menetapkan rencana umum berupa kerangka pemecahan masalah untuk ditindaklanjuti dalam tindakan pemecahan masalah. Setiap tindakan terus menerus dimonitoring kemudian dievaluasi atas tindakan yang dilakukan untuk merencanakan implementasi tindakan berikutnya. Gambaran bagan desain PTK menurut Lewin sebagai berikut.


2. Model menurut John Elliot

Desain PTK menurut Elliot dapat Anda lihat seperti bagan berikut

Jika kita amati bagan siklus di atas, maka Model Elliot tampak lebih rinci jika dibandingkan dengan model Kurt Lewin yang telah dikemukakan sebelumnya, karena di dalam setiap siklus dimungkinkan terdiri dari beberapa tindakan, yaitu antara tiga sampai lima tindakan. Sementara itu setiap tindakan kemungkinan terdiri atas beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan pembelajaran.

Inilah sedikit tentang model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat. Dan jika berkenan tinggalkan komentar

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai Model PTK baca juga Tahapan pelaksanaan PTK

TIPS Mengatasi Kulit Berminyak Dan Komedo Pada Pria

tips kesehatan

"Di awal umur 20 tahun, umumnya kulit pria sudah mengalami perubahan hormon, sehingga kelenjar minyak akan berlebih dan komedo muncul. Nah diusia ini sebaiknya pria sudah rutin minimal pake pelembab dan tabir surya," jelas dokter Eddy ditemui usai mengisi acara Oriflame di kawasan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (12/9).

Menurut Dokter Kulit, dr. Eddy Karta, Sp.KK, secara umum kulit pria akan berubah setelah fase akil balik, karena hormon testosteron akan meningkat. Akibatnya produksi kelenjar minyak jadi berlebihan sehingga timbul komedo dan jerawat. Oleh sebab itu, perawatan di fase tersebut harus segera dimulai.
Masih menurut dia, tak hanya perempuan, kaum Adam juga perlu merawat kulit wajahnya. Sebab, paparan sinar UV, debu dan polusi akan menyebabkan kulit mudah berminyak dan timbul komedo. Jika tak rutin dibersihkan, bukannya tak mungkin kulit akan menjadi kusam hingga timbul iritasi.

Lihat juga Panduan Merawat Kesehatan Rambut

Untuk itu, dr. Eddy menyarankan agar pria melakukan tiga tahapan penting ini dalam merawat kulit wajah untuk tetap sehat dan bersih. Apa saja?

1. Pilih Produk Antioksidan dan Black Charcoal

Secara anatomi, menurut Eddy kulit pria cenderung lebih tebal dan lamban terjadi penuaan dibanding perempuan. Namun elastisitas kulit ini perlahan akan menurun apabila sedari awal tak dilakukan perawatan yang intensif.

Untuk produk perawatan yang efektif, pihaknya menyarankan agar memilih produk skin care atau pelembab yang mengandung sifat antioksidan tinggi. Pasalnya kandungan bahan tersebut mampu menghidrasi kulit hingga ke sel bagian dalam.

"Selain itu pake produk dengan bahan black charcoal (arang) yang khusus dirancang untuk pria. Sebab arang itu sifatnya absorbent, jadi mudah menyerap minyak dan kotoran," imbuhnya.

2. Pilih Pencuci Muka yang Tepat

Sama seperti perempuan, pria perlu mengenali jenis kulitnya. Menurutnya kelenjar minyak tidak hanya dialami oleh jenis kulit berminyak, namun bisa terjadi karena faktor dehidrasi, udara kering dan paparan AC.

"Pria sering salah menganggap kulit berminyak lalu pakai produk anti minyak yang notabene agak keras sehingga justru makin iritasi, kering dan jerawat. Pada pria intinya mengenali seberapa perlu ia mencuci muka," tegasnya.

Lebih lanjut Eddy mengatakan, untuk kulit pria yang sering terpapar polusi dan debu dihimbau untuk menghindari produk dengan bulir yang kasar. Sebaliknya ia menyarankan untuk memilih jenis foam, gel atau lotion yang dirancang tanpa menimbulkan minyak di permukaan kulit.

"Idealnya cuci muka minimal dua kali, pagi dan malam. Prinsipnya menggunakan cleansing bersifat oil. Apalagi kalo sering kena polusi dan debu," tambahnya.

3. Perbanyak Makan Sayur dan Buah

Selain perawatan dari luar dengan produk skin care, pihaknya juga menekankan pentingnya konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah-buahan.Pasalnya bahan makanan itu dapat menutrisi hingga ke jaringan kulit. Sebaliknya untuk masalah kulit jerawat dan iritasi, justru disarankan untuk menghindari makanan manis dan susu

Sumber Jawa Pos, September 2018