Format Laporan Penelitian Tindakan (PTK, PTS dan PTSW)

Pada posting kali ini saya akan mencoba mengulas tentang format laporan penelitian tindakan, walaupun saya yakin sudah banyak artikel atau postingan yang mengulas tentang hal ini. Namun paling tidak hal ini bisa melengkapi khasanah kajian tentang format laporan penelitian tindakan yang akan teman dan sahabat semua susun setelah selesai melakukan penelitian tindakan, entah itu penelitian tindakan sekolah (PTS) atau penelitian tindakan Kelas (PTK) dan lainnya.
Format Laporan PTK
Semua laporan penelitian tindakan adalah sama, baik penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian tindakan sekolah (PTS) maupun Penelitian tindakan sekolah se-wilayah (PTSW). Format laporannya terdiri dari lima bab yaitu

BAB I merupakan bagian awal dari laporan, namanya pendahuluan.

BAB II adalah hasil kajian teori yang mendukung terlaksananya penelitian, dan disebut kajian pustaka. Disebut kajian pustaka bukan kajian teori karena yang termuat di dalam bab ini, bukan hanya teori yang diambil dari buku – buku teori, melainkan dapat berasal dari media massa, internet dan lainnya.

BAB III adalah metodologi penelitian atau metode penelitian.

BAB IV berisi hasil penelitian, memuat segala hal yang di dapat oleh peneliti, seperti data dan analisis data, pembahasan serta ringkasan hasil

BAB V berisi kumpulan simpulan yang diperoleh dari rangkaian fokus setiap jawaban dari rumusan masalah. Disamping itu juga dicantumkan saran – saran yang relevan dan terkait langsung dari setiap simpulan. Ibarat sebuah tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Untuk memahami lebih jauh mengenai masing - masing BAB , baca terus penjelasan di bawah ini sampai selesai.

A. Laporan untuk BAB I sampai BAB III

BAB I

Latar belakang masalah dalam suatu laporan penelitian, memang ditulis paling dahulu. Secara mudah dijelaskan bahwa peneliti yang akan melakukan penelitian tentu didorong sesuatu yang mengganggu ketenangan hatinya.
Permasalahan dalam penelitian dibahas pada BAB I, yaitu latar belakang masalah.

Bagian kedua adalah rumusan masalah. Misalnya dalam penelitian tersebut ada empat hal yang dipertanyakan, ke empat permasalahan penelitian itu menyangkut 1) Keaktifan siswa, 2) Motivasi siswa, 3) suasana kelas dan 4) hasil belajar.

Bagian ketiga adalah tujuan penelitian, diibaratkan anggota tubuh antara rumusan masalah dan tujuan penelitian adalah mata kiri dan mata kanan maka harus simetris jangan juling. Artinya dalam penelitian tujuan penelitian tidak boleh menyimpang dari rumusan masalah.

Bagian keempat manfaat penelitian, ibarat anggota tubuh yang lain, diumpamakan sebagai hidung, ingat hidung adalah alat bernapas, yaitu tempat kita menggantungkan hidup. Sehingga manfaat penelitian menjadi bagian yang sangat penting dari suatu penelitian.

BAB II

Bab ini berfungsi mendukung penelitian seluruhnya sehingga harus banyak, kalau diibaratkan BAB II ini seperti daerah dibawah hidung sampai dengan dagu. Dalam Bab ini memuat Kajian pustaka dalam penelitian.

BAB III

Dalam bab ini berisi mengenai metode atau pendekatan yang digunakan dalam penelitian, jika diibaratkan bagian ini seperti leher, coba bayangkan jika tubuh kita tanpa leher, siapa yang menyangga kepala kita?

B. Laporan untuk BAB IV

Laporan dalam BAB IV merupakan bagian terbesar dibanding dengan bagian lainnya, dalam Bab in yang berjudul Laporan Penelitian adalah milik peneliti sepenuhnya, karena berisi hasil yang diperoleh dari kegiatan penelitiannya.

Biasanya orang yang membaca laporan penelitian, ingin tahu apa yang diperoleh peneliti dari pekerjaan penelitiannya.

Kalau diibaratkan sebuah tubuh, BAB IV ini adalah badan dan perut, dimana pada bagian ini terdapat empat bagian yang terdiri dari :

1. Data hasil penelitian yang terkait dengan rumusan masalah ke satu, berisi :

a) sajian data mentah tentang rumusan masalah ke satu,
b) Analisis data tentang rumusan masalah ke satu,
c) Pembahasan tentang rumusan masalah ke satu
d) Kesimpulan singkat tentang rumusan masalah kesatu

2. Data hasil penelitian yang terkait dengan rumusan masalah ke dua, berisi

a) sajian data mentah tentang rumusan masalah ke dua,
b) Analisis data tentang rumusan masalah ke dua,
c) Pembahasan tentang rumusan masalah ke dua
d) Kesimpulan singkat tentang rumusan masalah kedua

3. Data, hasil penelitian yang terkait dengan rumusan masalah ke tiga

a) sajian data mentah tentang rumusan masalah ketiga,
b) Analisis data tentang rumusan masalah ketiga,
c) Pembahasan tentang rumusan masalah ke tiga
d) Kesimpulan singkat tentang rumusan masalah ketiga

4. Data hasil penelitian yang terkait dengan rumusan masalah keempat

a) sajian data mentah tentang rumusan masalah ke empat,
b) Analisis data tentang rumusan masalah ke empat,
c) Pembahasan tentang rumusan masalah keempat
d) Kesimpulan singkat tentang rumusan masalah keempat

Secara singkat untuk BAB IV ini Berisi data tentang Hasil Penelitian untuk menjawab Rumusan Masalah yang tertera pada BAB I.

C. Laporan untuk BAB V

Bagian ini adalah merupakan bagian terakhir dari laporan penelitian tindakan, maksudnya bahwa dalam Bab V ini merupakan kesimpulan yang berisi tentang jawaban dari pertanyaan yang disebutkan dalam rumusan masalah.

Jadi kesimpulan yang tertera dalam Bab V ini harus sesuai dengan keempat rumusan masalah di atas.

Tegasnya nomor – nomor yang tertera dari kesimpulan ini ,merupakan jawaban dari nomor – nomor yang ada di rumusan masalah.

Kalau kita ibaratkan lagi dengan anggota tubuh maka Bab V ini merupakan kaki kanan dan kiri, keduanya harus simetris sama panjangnya.

Hal ini jika kesimpulan seumpama kaki kanan maka kaki kirinya adalah saran. Dan perlu diingat, bahwa dalam memberi saran harus sesuai dengan kesimpulan yang ada. Jangan seperti sepasang kaki pincang antara kanan dan kiri berbeda.

Misalnya, kalau kesimpulannya berisi tentang keaktifan siswa, maka sarannya juga harus tentang keaktifan. Jika keaktifannya sudah baik, peneliti tinggal menyarankan untuk dilanjutkan. Sebaliknya jika keaktifan siswanya belum baik, kini peneliti harus menyampaikan saran dari pemikirannya, bagaimana harus meningkatkan keaktifan itu.

Jadi dua hal yang harus diingat dalam Bab V ini :

1. Dalam proses penilaian laporan penelitian tindakan, penilai selalu menghubungkan Bab V ini dengan rumusan masalah.

2. Jangan melakukan kesalahan dengan membuat saran yang tidak ada hubungannya dengan kesimpulan. Seperti contoh yang salah ini dalam membuat saran di bawah ini

Misalnya : kesimpulannya, banyak guru yang belum dapat melaksanakan PTK, saran yang ditulis agar para guru banyak diberi penataran atau Bintek agar dapat membuat PTK. Jelas saran yang demikian keliru karena tidak sesuai dengan kesimpulan.
Demikian ulasan tentang Format laporan penelitian tindakan yang dapat saya tulis semoga semakin menambah wawasan dan referensi bagi Sahabat semuanya. Dan untuk ulasan yang lebih dalam mengenai Bab per bab akan saya sampaikan pada posting selanjutnya.

Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam Pembelajaran

Selain teori belajar behavioristik dan teori kognitif yang sudah dikenal sejak lama dalam proses pembelajaran, karena implementasinya yang sangat rinci dengan langkah –langkahnya, teori belajar humanistik juga penting untuk dipahami, karena teori ini bertujuan memanusiakan manusia.

Dan pada posting kali ini saya akan coba mengulas tentang Teori Belajar Humanistik yang selama ini jarang sekali kita terapkan secara langsung dalam pembelajaran.

Teori Belajar Humanistik

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang penerapanya dalam pembelajaran, terlebih dahulu kita pahami pandangan tokoh – tokoh aliran humanistik dan pengertian teori humanistik itu sendiri.

A. Pendapat tokoh – tokoh aliran humanistik

Empat Pandangan/pendapat dari tokoh penganut aliran humanistik yang terkenal yaitu :

1. Pandangan Kolb terhadap belajar

Seorang ahli psikologi dari jerman sebagai penganut aliran humanistik mempunyai pandangan terhadap belajar, dan membaginya menjadi empat tahap, yaitu :

a. Tahap pengalaman Konkret

Dalam tahap ini, merupakan tahap paling awal dalam peristiwa belajar, dimana dalam tahap ini seseorang dapat mengalami suatu peristiwa atau kejadian sebagaimana adanya.

Artinya dalam tahap ini seseorang dapat melihat dan merasakan serta menceritakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang dialaminya.
Namun dalam tahap ini seseorang belum memiliki kesadaran tentang hakikat dari peristiwa belajar tersebut. Ia hanya dapat merasakan kejadian tersebut apa adanya, dan belum dapat memahami serta menjelaskan bagaimana peristiwa ini terjadi.

Sehingga ia belum dapat memahami mengapa peristiwa tersebut harus terjadi seperti itu.
Kemampuan seperti inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap paling awal dalam proses belajar.

b. Tahap pengamatan aktif dan reflektif

Tahap kedua dalam peristiwa belajar adalah bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya.

Dalam tahap ini mulai ada upaya untuk mencari jawaban dan memikirkan kejadian tersebut,melalui refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya, dengan mengembangkan pertanyaan – pertanyaan bagaimana hal tersebut bisa terjadi, dan mengapa hal itu mesti terjadi.

Pemahamannya terhadap peristiwa yang dialaminya semakin berkembang.
Kemampuan inilah yang terjadi dan dimiliki seseorang pada tahap kedua dalam proses belajar.

c. Tahap konseptualisasi

Tahap ketiga dalam peristiwa belajar adalah seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi.
Dalam tahap ini seseorang akan mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya/ dari peristiwa yang dialaminya.

Tahap berpikir induktif mulai banyak dilakukan untuk merumuskan suatu aturan umum atau generalisasi dari berbagai contoh peristiwa yang dialaminya.

Walaupun kejadian – kejadian yang diamati tampak berbeda – beda, namun memiliki komponen – komponen yang sama yang dapat dijadikan dasar aturan bersama.

d. Tahap eksperimentasi aktif

Pada Tahap terakhir ini seseorang yang belajar sudah mampu mengaplikasikan konsep – konsep , teori atau aturan ke dalam situasi nyata. Artinya tahap berpikir deduktif sudah banyak digunakan untuk mempraktekkan dan menguji teori – teori serta konsep – konsep di lapangan. Ia tidak lagi mempertanyakan asal usul teori atau rumus rumus tersebut, tetapi kemampuan untuk menggunakan teori atau rumus tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, yang belum pernah di jumpai sebelumnya.

Tahapan – tahapan belajar di atas dilukiskan oleh Kolb sebagai suatu siklus yang berkesinambungan dan berlangsung diluar kesadaran orang yang belajar.

Secara teoritis tahapan – tahapan belajar tersebut memang dipisahkan, tetapi dalam kenyataannya proses peralihan dari satu tahap ke tahap belajar lainya sering kali terjadi begitu saja sulit ditentukan kapan terjadinya.

2. Pandangan Honey dan Mumford terhadap belajar

Tokoh teori humanistik lain yang diilhami oleh pandangan Kolb adalah Honey dan Mumford. Dua tokoh ini mempunyai pandangan terhadap belajar berdasarkan kelompok atau penggolongan.

Menurut dua tokoh ini orang yang belajar dapat digolongkan menjadi empat golongan/ kelompok berdasarkan karakteristik yang berbeda – beda :

a. Kelompok aktivis.

Orang – orang yang termasuk ke dalam kelompok aktivis adalah mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi langsung dalam berbagai kegiatan, dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman baru.

Orang – orang tipe ini mempunyai karakter mudah diajak dialog, memiliki pemikiran terbuka, menghargai pendapat orang lain, dan mudah percaya pada orang lain.

Namun kekurangan dari orang tipe ini dalam melakukan suatu tindakan sering kali kurang mempertimbangkan secara matang, dan lebih banyak di dorong oleh kesenangannya untuk melibatkan diri.

Dalam kegiatan belajar, orang tipe ini senang pada hal –hal yang sifatnya penemuan – penemuan baru, seperti pemikiran baru, pengalaman baru, dan hal baru lainnya.

Metode yang cocok untuk kelompok ini adalah Problem solving, brainstorming. Namun mereka akan cepat bosan dengan kegiatan – kegiatan yang implementasinya membutuhkan waktu yang lama.

b. Kelompok Reflektor

Mereka yang termasuk kelompok ini mempunyai kecenderungan yang berlawanan dengan orang – orang kelompok aktivis. Dalam melakukan suatu tindakan, orang – orang kelompok reflektor sangat berhati – hati dan penuh pertimbangan.

Pertimbangan – pertimbangan baik-buruk dan untung ruginya selalu diperhitungkan dengan cermat dalam mengambil keputusan.
Orang – orang kelompok ini tidak mudah dipengaruhi, sehingga mereka cenderung bersifat konservatif.

c. Kelompok Teoritis.

Orang – orang kelompok teoritis ini memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berfikir rasional dengan menggunakan penalarannya.

Segala sesuatunya sering dikembalikan kepada teori dan konsep – konsep atau hukum – hukum. Mereka tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif.

Dalam melakukan atau memutuskan sesuatu, kelompok teoritis penuh dengan pertimbangan, sangat skeptis dan tidak menyukai hal – hal yang bersifat spekulatif.

Mereka tampak lebih tegas dan mempunyai pendirian yang kuat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
d. Kelompok Pragmatis

Berbeda dengan kelompok sebelumnya, kelompok tipe ini memiliki sifat – sifat yang praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori – teori, konsep, dalil, dan sebagainya.

Bagi mereka yang penting adalah aspek – aspek praktis, sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan.
Sesuatu hanya bermanfaat jika dapat dipraktekkan. Teori, konsep, dalil, memang penting, tetapi jika semua itu tidak dapat dipraktekkan maka teori, dalail dan sebagainya tidak ada gunanya.

Bagi kelompok ini sesuatu adalah baik dan berguna jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Keempat kelompok tersebut diatas menurut Honey dan Mumford ada dalam setiap rombongan belajar, sehingga penerapan pendekatan dan metode yang variatif dan sesuai sangat dianjurkan dalam pembelajaran.

3. Pandangan Habermas terhadap belajar

Menurut tokoh humanis ini, belajar baru dapat terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Lingkungan belajar yang dimaksud disini adalah lingkungan alam dan lingkungan sosial, sebab keduanya tidak dapat dipisahkan.
Dengan pandangannya yang demikian, habermas membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu :

a. Belajar Teknik (technical Learning).

Belajar teknis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar.

Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik. Oleh karena itu, ilmu – ilmu alam (sains) sangat dipentingkan dalam belajar teknis.

b. Belajar Praktik Practical learning)

Belajar praktis adalah belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang – orang di sekelilingnya dengan baik.

Kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antara sesama manusia.
Untuk itu bidang – bidang ilmu yang berhubungan dengan sosiologi, komunikasi, psikologi, antropologi, dan semacamnya sangat diperlukan.

Namun demikian mereka percaya bahwa pemahaman dan keterampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Oleh karena itu interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak dari relevansinya dengan kepentingan manusia.

Interaksi Sosial

c. Belajar Emansipatoris (Emancipatory learning)

Belajar emansipatoris menekankan upaya agar seseorang mempunyai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya.

Dengan demikian maka dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang benar untuk mendukung terjadinya transformasi kultural tersebut.
Untuk itu, ilmu – ilmu yang berhubungan dengan budaya dan bahasa sangat dibutuhkan.

Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural inilah menurut Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi.

Menilik pandangan Habermas di atas maka dalam sebuah proses belajar perlu menyentuh aspek teknis, aspek praktis dan aspek emansipatoris.

4. Pandangan Bloom dan Krathwohl.

Tokoh lain yang termasuk tokoh penganut aliran humanis adalah Bloom dan Krathwohl. Menurut mereka menekankan perhatian pada apa yang mesti dikuasai oleh individu adalah sebagai tujuan belajar setelah melalui proses belajar.

Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam tiga kawasan yang dikenal dengan Taksonomi Bloom.
Melalui taksonomi Bloom inilah telah berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar pendidikan dalam mengembangkan teori teori maupun praktek pembelajaran.

Pada tataran praktis, taksonomi Bloom ini telah membantu para pendidik dan guru untuk merumuskan tujuan – tujuan belajar yang akan dicapai, dengan rumusan yang mudah dipahami.

Berpijak pada taksonomi Bloom ini pulalah para praktisi pendidikan dapat merancang program – program pembelajarannya.

Setidaknya di Indonesia, taksonomi Bloom ini telah banyak dikenal dan populer di lingkungan pendidik

Secara singkat ketiga kawasan dalam taksonomi bloom adalah seperti berikut ini :

a. Domain Kognitif, terdiri atas 6 tingkatan, yaitu:

1) Pengetahuan (mengingat, menghafal)
2) Pemahaman (menginterpretasikan)
3) Aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)
4) Analisis (menjabarkan suatu konsep)
5) Sintesis ( menggabungkan beberapa bagian konsep menjadi satu konsep utuh)
6) Evaluasi ((membandingkan nilai – nilai , ide, metode, dsb)

b. Domain Psikomotor, terdiri dari 5 tingkatan, yaitu :

1) Peniruan (menirukan gerak)
2) Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3) Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
4) Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
5) Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)

c. Domain Afektif.

Terdiri dari 5 tingkatan, yaitu:

1) Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
2) Merespon (aktif berpartisipasi)
3) Penghargaan ( menerima nilai nilai, setia kepada nilai – nilai tertentu)
4) Pengorganisasian ( menghubung –hubungkan nilai yang dipercayainya)
5) Pengamalan (menjadikan nilai – nilai sebagai bagian dari pola hidupnya)

B. Pengertian belajar menurut teori humanistik

Dari pendapat para ahli yang beraliran teori humanistik di atas maka, menurut teori humanistik proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati kajian filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar.

Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses itu sendiri.
Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep – konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita – citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.

Dengan kata lain pemahaman terhadap belajar yang diidealkan menjadikan teori humanistik dapat memanfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.

Hal ini menjadikan teori ini bersifat sangat eklektik.

Apa yang dimaksud dengan eklektik ?

Untuk memahami ini, kita lihat teori belajar yang lain yang selama ini melakukan penelitiannya dari sudut pandang masing – masing ahli dan menganggap bahwa keterangannya tentang bagaimana manusia itu belajar adalah sebagai keterangan yang paling memadai. Maka akan terdapat berbagai teori tentang belajar sesuai pandangan masing – masing.

Dari penalaran di atas ternyata bahwa perbedaan antar pandangan satu dengan yang lain itu karena perbedaan sudut pandang semata, walaupun pandangan yang berbeda –beda itu hanyalah keterangan mengenai hal yang sama/satu, dipandang dari sudut pandang yang berlainan.

Dengan demikian teori Humanistik adalah teori belajar dengan pandangan yang eklektik, yaitu dengan cara memanfaatkan atau merangkum berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia, hal ini bukan saja mungkin untuk dilakukan tetapi justru harus dilakukan.
C. Penerapan Teori Belajar Humanistik dalam kegiatan pembelajaran.

Teori humanistik sering dikritik karena dianggap sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Bahkan dianggap sukar menerjemahkannya ke dalam langkah – langkah yang lebih konkret dan praktis.

Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan manusia, maka teori ini mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainya tujuan tersebut.

Untuk itu semua komponen pendidikan harus diarahkan pada terbentuknya manusia ideal, yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Dalam hal ini sangat perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasi dirinya, pemahaman terhadap dirinya serta realisasi diri.

Tidak kalah pentingnya pengalaman emosional dan karakteristik khusus individu dalam belajar perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan pembelajaran. Karena seseorang akan dapat belajar dengan baik jika mempunyai pengertian tentang dirinya sendiri dan dapat membuat pilihan – pilihan secara bebas ke arah mana dia akan berkembang.

Jadi teori humanistik mampu menjelaskan bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.

Meskipun teori humanistik ini masih dianggap sukar diterjemahkan kedalam langkah – langkah pembelajaran yang praktis dan operasional namun teori ini sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya.

Sisi lain sumbangan teori ini dapat membantu para pendidik dalam memahami hakikat kejiwaan manusia .
Menurut teori ini agar pembelajaran lebih bermakna bagi siswa, diperlukan inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa itu sendiri.. maka siswa akan mengalami belajar eksperimental.

Dalam prakteknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.

Menurut pendapat suciati dan Prasetyo Irawan (2001) alternatif langkah – langkah pembelajaran dengan pendekatan humanistik adalah sebagai berikut:

1. Menentukan tujuan – tujuan pembelajaran.
2. Menentukan materi pelajaran
3. Mengidentifikasi kemampuan awal siswa
4. Mengidentifikasi topik – topik pembelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar.
5. Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran.
6. Membimbing siswa belajar secara aktif
7. Membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya
8. Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajar belajarnya
9. Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep - konsep baru ke situasi nyata.
10. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

Demikian ini tentang teori humanistik yang dapat saya uraikan semoga bermanfaat.

Pembelajaran Konstruktivisme dan Kontekstual

Pembelajaran Konstruktivisme dan Kontekstual
Dalam posting sebelumnya saya sudah membahas tentang reorientasi belajar dan pembelajaran di era milenial yang dalam postingan tersebut membahas tentang cara pandang baru tentang pembelajaran yang selaras dengan teori kognitif konstruktivisme yang menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu, dan demokrasi pembelajaran, kemandirian yang pada gilirannya mencapai kesuksesan dan keberhasilan belajar.

Pada posting kali ini saya akan mencoba mengulas tentang Pembelajaran Konstruktivisme dan Kontekstual yang relevan dengan belajar dan pembelajaran kekinian di era berlakunya kurikulum 2013 atau generasi millenial, yang mendorong terwujudnya pembelajaran demokratis.

Baiklah kita langsung saja pada pembahasan yang pertama tentang Pembelajaran konstruktivisme.

A. Pembelajaran Konstruktivisme
Dalam teori psikologi konstruktivisme merupakan pengetahuan yang menyatakan bahwa manusia membangun dan memakai pengetahuan dari pengalamannya sendiri.
Pembelajaran Konstuktivisme

Bila hal diatas dikaitkan dengan pembelajaran, maka esensi pembelajaran konstruktivisme menunjukkan proses, dimana peserta didik secara individu menemukan dan mentransfer informasi yang kompleks apabila menghendaki informasi itu dikuasainya atau menjadi miliknya.

Dalam hal ini pembelajaran konstruktivistik memiliki pandangan bahwa peserta didik secara terus –menerus memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan aturan – aturan lama dan merevisi aturan – aturan tersebut bila tidak sesuai lagi.

Agar pembelajaran konstruktivisme dapat berjalan dan kegiatan belajar juga dapat mendorong peserta didik terlibat aktif, maka tiga keadaan berikut ini harus diusahakan dengan baik :
  • Suasana lingkungan belajar harus demokratis
  • Kegiatan pembelajaran berjalan secara interaktif dan berpusat pada peserta didik
  • Pendidik mendorong peserta didik agar belajar mandiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajar tersebut. 
Supaya Lebih jelas, simak asumsi dalam pembelajaran konstruktivistik berikut ini berkaitan dengan komponen pendukung dan kondisi serta pengertiannya:

1. Mengenai Peserta didik

Dalam pembelajaran konstruktivisme asumsi terhadap peserta didik sebagai berikut:
  • Peserta didik adalah individu yang bersifat unik, oleh karenanya mereka memiliki latar belakang dan kebutuhan yang unik pula
  • Konstruktivisme sosial akan mendorong peserta didik menghadirkan versi kebenarannya sendiri, hal ini karena dipengaruhi oleh latar belakang, kebudayaan atau pandangan tentang dunianya sendiri.
  • Peserta didik perlu didorong untuk memiliki tanggung jawab belajarnya sendiri.
  • Motivasi belajar peserta didik tergantung pada keyakinan peserta didik terhadap potensi belajarnya.
2. Mengenai Pendidik

Pandangan konstruktivisme untuk pendidik adalah :
  • Pendidik harus menyesuaikan diri terhadap perannya sebagai fasilitator dan bukan sebagai pendidik.
  • Bertugas sebagai fasilitator yaitu membantu peserta didik memperoleh pemahaman tentang isi pembelajaran
  • Karena pendidik sebagai fasilitator, maka peserta didik yang berperan aktif dalam pembelajaran.
3. Mengenai Proses Belajar

Teori konstruktivisme memandang proses belajar sebagai
  • Belajar merupakan proses aktif di mana peserta didik belajar menemukan prinsip, konsep, dan fakta untuk dirinya sendiri.
  • Terciptanya interaksi yang dinamis antara tugas belajar, pendidik dan peserta didik.
4. Mengenai kolaborasi Peserta didik

Pembelajaran konstruktivisme ditandai dengan
  • Peserta didik dengan perbedaan keterampilan dan latar belakang hendaknya berkolaborasi dalam melaksanakan tugas dan diskusi dalam rangka memperoleh pemahaman tentang kebenaran.
  • Konteks merupakan pusat belajar. Pengetahuan yang tidak sesuai konteks tidak memberikan keterampilan kepada peserta didik untuk menerapkan pemahamannya pada tugas – tugas yang bersifat autentik.
5. Mengenai Asesmen

Dalam pembelajaran konstruktivisme proses asesmen merupakan hal penting dengan berasumsi :
  • Pendidik hendaknya memandang asesmen sebagai proses interaktif dan kontinyu untuk mengukur prestasi belajar dan kualitas pengalaman belajar. Harapannya balikan yang dibuat memiliki melalui proses asesmen itu digunakan sebagai dasar pengembangan kegiatan berikutnya.
  • Holt dan Willard _Holt menekankan konsep asesmen dinamik, yaitu cara menilai peserta didik yang berbeda dari penilaian konvensional. Belajar interaktif diperluas dengan proses asesmen.
6. Mengenai Pemilihan, cakupan, dan urutan materi pelajaran
  • Pengetahuan dipandang sebagai keseluruhan yang terpadu.
  • Agar Peserta didik benar – benar terlibat dalam proses pembelajaran, maka tugas dan lingkungan belajarnya hendaknya merefleksikan kompleksitas lingkungan, sehingga peserta didik mampu memfungsikan diri sampai akhir kegiatan belajar.
  • Semakin terstruktur lingkungan belajar, peserta didik semakin tidak mampu membangun makna berdasarkan pemahaman konseptualnya.
Fasilitator/pendidik hendaknya menstrukturkan pengalaman belajar cukup untuk memastikan bahwa peserta didik memperoleh bimbingan yang jelas sehingga mampu mencapai tujuan belajar.

Pendekatan pembelajaran konstruktivistik menekankan pembelajaran dari atas ke bawah (top–down instruction). Artinya peserta didik memulai dari memecahkan masalah yang kompleks kemudian menemukan keterampilan dasar yang diperlukan.

Untuk mendapatkan gambaran lebih jauh tentang pembelajaran konstruktivistik ini, lihat tiga model atau pendekatan pembelajaran berikut yang memakai prinsip konstruktivisme.

1. Diskaveri (Discovery Learning)

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Jerome Brunner. Dalam pembelajaran ini, kegiatan pembelajaran harus mampu mendorong peserta didik untuk mempelajari apa yang telah dimiliki.

Artinya proses ini mampu membuat peserta didik melakukan proses asimilasi kognitif, yaitu proses mengintegrasikan informasi (persepsi, konsep dan sebagainya) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif (skemata) yang sudah dimiliki seseorang.

Keuntungan pembelajaran ini adalah :
  • Mampu memunculkan hasrat ingin tahu peserta didik dan memotivasi peserta didik untuk bekerja keras sampai menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul.
  • Peserta didik belajar keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi.
2. Penangkapan (Reception Learning)

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh David Ausubel. Dalam pembelajaran ini, peserta didik tidak mengetahui apa yang penting atau relevan untuk dirinya sendiri, sehingga mereka memerlukan motivasi eksternal untuk melakukan kerja kognitif dalam mempelajari apa yang dipelajari di sekolah.

Inti pendekatan pembelajaran penangkapan adalah pengajaran ekspositori, yakni pembelajaran sistematik yang direncanakan oleh pendidik mengenai informasi yang bermakna (meaningful information).

Dalam pembelajaran ekspositori ini terdiri dari tiga tahap, yaitu :

a. Penyajian Advance Organizer.

Merupakan pernyataan umum yang memperkenalkan bagian – bagian utama yang mencakup dalam urutan pembelajaran.

b. Penyajian materi atau tugas belajar.

Merupakan penyajian materi pembelajaran baru dengan metode ceramah, diskusi, media visual atau penyajian tugas – tugas belajar kepada peserta didik.

c. Memperkuat organisasi kognitif.

Caranya dengan mengaitkan informasi baru ke dalam struktur yang telah direncanakan di dalam permulaan pelajaran, dengan cara mengingatkan peserta didik bahwa rincian yang bersifat spesifik itu berkaitan dengan gambaran informasi yang bersifat umum.

3. Belajar terbimbing (Scaffolding)

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Vgotsky. Belajar terbimbing merupakan strategi pembelajaran yang berkaitan dengan dukungan kepada peserta didik dengan cara membatasi kompleksitas konteks dan secara perlahan – lahan mengurangi batas – batas tersebut karena peserta didik telah memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam mengatasi kompleksitas konteks tersebut.

B. Pembelajaran Kontekstual

Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual mencerminkan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi peserta didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari – hari.
Pembelajaran Kontekstual

Konteks yang dimaksud berupa konteks pribadi, sosial dan kultural, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

Secara mudah diungkapkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu peserta didik menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata serta memotivasi peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapanya dengan kehidupan nyata (sehari – hari).

Berikut ini karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu :
  1. Proses pembelajarannya mencakup berbagai disiplin pengetahuan, sehingga peserta didik memperoleh perspektif terhadap kehidupan nyata.
  2. Tujuan pembelajarannya berbasis pada :
  • Standar disiplin pengetahuan yang ditetapkan secara nasional atau lokal oleh asosiasi profesi.
  • Pengetahuan dan keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan memiliki daya guna dan kompetensi tertentu.
  • Keterampilan berpikir tinggi seperti pemecahan masalah, berpikir kritis dan pembuatan keputusan.
     3. Pengalaman belajarnya mendorong peserta didik membuat hubungan konteks internal dan   
         eksternal
     4. Integrasi pendidikan akademik dan karier akan membantu peserta didik memahami isi materi 
         pelajaran dan pemahaman tentang karier atau bidang kajian teknis tertentu.

Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual diperlukan komponen pembelajaran sebagai berikut :

1. Konstruktivisme

Belajar adalah proses aktif mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman alami maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial untuk mencari makna dengan memproses informasi sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimiliki

2. Inkuiri (menemukan)

Menemukan merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning).

Langkah – langkah kegiatan inkuiri adalah
  • Merumuskan masalah
  • Mengamati atau melakukan observasi
  • Menganalisis
  • Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil
3. Questioning (bertanya)

Kegiatan Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis CTL.

Hal ini berguna baik bagi guru maupun peserta didik,
  • Berguna bagi guru untuk: mendorong, membimbing dan menilai peserta didik; menggali informasi tentang pemahaman, perhatian, dan pengetahuan peserta didik.
  • Berguna bagi peserta didik sebagai salah satu teknik dan strategi belajar.
4. Masyarakat belajar (Learning Community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan pihak lain (kolaboratif). Artinya hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu kepada yang belum tahu.
Harapannya akan berkembang kemampuan sosial dan komunikasi.

5. Modeling (pemodelan)

Diberikan contoh terlebih dahulu oleh pendidik sebagai model / contoh cara mengerjakan yang bisa ditiru, sebelum peserta didik berlatih menyelesaikan dan menemukan kata kunci.

6. Refleksi

Adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa saja yang sudah pernah dilakukan dimasa lalu. Bentuknya dapat berupa kesan, catatan atau hasil karya.

7. Penilaian Autentik.
  • Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data/informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan peserta didik.
  • Penilaian autentik pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang diperoleh peserta didik setelah mengalami pembelajaran. 
  • Dilakukan melalui berbagai cara (test dan non-test), Alternative bentuk: kinerja, observasi, portofolio, dan/atau jurnal.
Prinsip –prinsip pembelajaran Kontekstual

Dalam pembelajaran kontekstual mempunyai tiga prinsip yang mempengaruhi terlaksananya pembelajaran tersebut, meliputi :

1. Prinsip saling ketergantungan.

Prinsip ini mengajak peserta didik mengenali keterkaitan mereka dengan, peserta didik lain, pendidik, masyarakat, dan lingkungan alam.

2. Prinsip diferensiasi

Prinsip ini mengembangkan kreativitas dan mendorong keragaman dan keunikan antar peserta didik untuk bekerjasama dalam bentuk yang disebut simbiosis.

3. Prinsip pengaturan diri

Prinsip ini menyatakan bahwa kegiatan belajar diatur sendiri, dipertahankan sendiri dan disadari sendiri oleh peserta didik.

Pendekatan pada pembelajaran kontekstual

Untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, di bawah ini terdapat enam pendekatan untuk melaksanakan pembelajaran kontekstual , yaitu :

1. Pembelajaran berbasis masalah

Merupakan pendekatan yang melibatkan peserta didik dalam pengkajian pemecahan masalah yang memadukan keterampilan dan konsep dari berbagai isi pelajaran.

2. Penggunaan keragaman konteks

Pengalaman pembelajaran kontekstual dapat diperkaya apabila peserta didik belajar keterampilan di berbagai lingkungan.

3. Pengelompokan peserta didik.

Tujuannya adalah agar mereka mampu berbagi pengalaman dan informasi.

Dalam pengelompokkan peserta didik, anggotanya berasal dari berbagai macam konteks dan latar belakang agar mereka memiliki berbagai sudut pandang terhadap suatu masalah.

4. Dukungan belajar peserta didik mengatur diri sendiri

Dalam pembelajaran kontekstual diharapkan dapat mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dalam hal ini mereka mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau tanpa bimbingan dari orang lain.

5. Pembentukan kelompok belajar saling ketergantungan

Peserta didik akan dipengaruhi dan akan memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan kepercayaan orang lain.

Kelompok belajar dibangun untuk berbagi pengetahuan dan memberikan peluang kepada peserta didik lain untuk saling membelajarkan

6. Menggunakan asesmen Autentik.

Asesmen belajar hendaknya berkaitan dengan metode dan tujuan pembelajaran.

Asesmen autentik menunjukkan bahwa belajar terjadi, terpadu dengan proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan dan arah perbaikan kepada peserta didik.

Asesmen Autentik hendaknya digunakan untuk memantau kemajuan peserta didik dan memberikan informasi tentang kegiatan pembelajaran.

Sekian, Penjelasan mengenai Pembelajaran Konstruktivisme dan Pembelajaran Kontekstual, semoga bermanfaat Bagi Anda semua

Baca Juga :

Reorientasi Belajar dan Pembelajaran di Era Millenial

Memahami Model pembelajaran Remedial Dan Pengayaan dalam Pembelajaran Tuntas
Web Directory Sites

Reorientasi Belajar dan Pembelajaran di Era Millenial

Reorientasi belajar dan Pembelajaran di Era Millenial

Setelah terjadinya reformasi tahun 1998 , maka kehidupan berbangsa dan bernegara kita memasuki babak baru. Tidak terkecuali dengan dunia pendidikan, yang sering orang berpendapat bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik.

Akan tetapi saya kira semua orang setuju, bahwa bangsa yang ingin maju dan berusaha memperbaiki keadaan masyarakatnya serta keadaan dunia, berpendapat bahwa pendidikan merupakan kunci dari itu semua, sehingga tanpa kunci itu usaha mereka akan kandas.

Senada dengan pendidikan sebagai kunci, maka negara – negara berkembang akan berusaha mengadopsi sistem pendidikan dari luar (negara maju), demikian juga dengan Indonesia dari mulai reformasi sampai sekarang sudah mengalami pergantian dan perubahan kurikulum pendidikan, terakhir adalah Kurikulum 2013 yang masih terus disempurnakan.

Hingga pada gilirannya sering kali mengalami kesulitan untuk berkembang, yang ujung – ujungnya sistem pendidikan yang ada sering menjadi sasaran kritik dan kecaman karena seluruh daya guna sistem pendidikan tersebut masih diragukan.

Dunia pendidikan, lebih khusus lagi dunia belajar, selama ini didekati dengan paradigma yang kurang mampu menggambarkan hakikat belajar dan pembelajaran secara komprehenship. Menurut Degeng (2000), Pendidikan dan pembelajaran selama ini hanya mengagungkan pada pembentukan perilaku keseragaman, dengan harapan akan menghasilkan keteraturan, ketertiban, ketaatan, dan kepastian.

Masih pendapat Degeng (1999), bahwa kekerasan dan kekacauan yang muncul di masyarakat bangsa ini diduga pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap kekacauan ini.

Realitas inilah yang sekarang sedang kita hadapi. Setelah sekian puluh tahun kita biasa disuguhkan dengan sistem pendidikan yang lebih menerima keseragaman, dan virus ini pula yang mengendalikan perilaku masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga kesadaran dan penyadaran tentang keberagaman (pluralisme) bangsa sangat jauh dari kehidupan masyarakat. Pola pikir sentralistik, monolitik, dan uniformistik sangat kental mewarnai berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan.
kegiatan pembelajaran di laboratorium

Contoh yang biasa kita temui adalah kebijakan penyeragaman pada berbagai hal di sekolah, seperti penggunaan kurikulum yang seragam, pakaian sekolah seragam, penggunaan buku paket yang seragam, dan lainnya sampai dengan evaluasi belajar yang seragam.

Yang belakangan baru kita sadari ternyata telah berhasil membelajarkan anak – anak, bahkan mungkin termasuk diri kita yang sangat menghargai kesamaan dan sulit sekali menerima keragaman/perbedaan. Sehingga perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum.
Pendapat lain dari Illich, mengatakan bahwa sekolah semata mata dijadikan alat legitimasi sekelompok elite sosial. Artinya sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal tampil dan menghadirkan dirinya sebagai suatu lembaga struktural baru yang justru menggali jurang sosial.

Dan kalau boleh disederhanakan sistem pendidikan yang dianut bukan lagi suatu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar mampu mengenal realitas diri dan dunianya, melainkan suatu upaya pem buta an kesadaran yang disengaja dan terencana yang menutup proses perubahan dan perkembangan.

Sejalan dengan teori stimulus-respon yang mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif, karena teori ini memiliki asumsi perilaku tertentu dapat dibentuk dengan mengkondisikan cara tertentu melalui metode indoktrinasi, munculnya perilaku akan semakin kuat dengan diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Sehingga teori ini menggarisbawahi hubungan stimulus-respon dengan individu pasif, perilaku yang tampak, dengan penataan kondisi yang ketat, reinforcement,dan hukuman, dianggap sebagai unsur – unsur penting dalam pembelajaran. Dan hingga sekarang teori ini masih merajai praktek pembelajaran, mulai dari jenjang pendidikan paling dini sampai pendidikan tinggi.

Pertanyaan yang timbul adalah apakah di era millenial ini metode ataupun pola pembelajaran seperti di atas masih relevan ??.

Untuk mendapatkan gambaran jawaban dari pertanyaan di atas, marilah kita reorientasi kembali tentang belajar dan pembelajaran yang sudah kita laksanakan atau alami selama ini.
Kegiatan Belajar dengan Diskusi

Dengan terus didengungkannya demokrasi sekarang ini baik dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan maka, anak – anak perlu mempersiapkan diri untuk memasuki era demokratisasi tersebut. Dimana, suatu era yang ditandai dengan keberagaman perilaku, pendapat dan lain – lainnya, keterlibatan dan pengalaman langsung proses demokratisasi menjadi bagian yang penting dalam setting belajar.

Penghargaan terhadap ketidakpastian, ketidakmenentuan, perbedaan/keragaman perlu ditumbuhkan sedini mungkin, sehingga redefinisi, dan reorientasi bahkan revolusi terhadap landasan teoritik dan konseptual belajar dan pembelajaran perlu dilakukan, agar lebih mampu menumbuhkan dan mengembangkan anak – anak bangsa ini untuk lebih menghargai keragaman dan sekaligus menikmatinya sebagai suatu rahmat untuk terus bersinergi dan berkreasi sebagai sumber daya manusia yang dapat menjawab tantangan global sekarang ini.

Ingat bahwa kompetensi yang dibutuhkan di era sekarang ini adalah berpikir kreatif, mampu memecahkan masalah, mampu mengambil keputusan, belajar bagaimana belajar, berkolaborasi, dan pengelolaan diri.

Langkah awal yang bisa dilakukan antara lain kita harus memandang peserta didik adalah sebagai manusia yang identitas insaninya sebagai subjek berkesadaran perlu dibela dan ditegakkan melalui sistem dan model pendidikan yang bersifat “bebas dan egaliter”.

Hal tersebut hanya dapat dicapai lewat proses pendidikan yang lebih terbuka terhadap perubahan dan metode pembelajaran aksi dialogial, oleh karena itu peserta didik harus diperlakukan dengan amat hati – hati, dalam arti tidak gegabah dalam memutuskan dan mengambil langkah dalam memilih metode dan pendekatan pembelajaran, kenali karakteristiknya.

Dalam teori kognitif konstruktivisme menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Hal ini memberikan pemahaman bahwa penataan kondisi atau keadaan bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi hanya untuk memudahkan belajar.
Keaktifan peserta didiklah menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan atau keberhasilan belajar.

Aktivitas mandiri menjadi jaminan mencapai hasil belajar sejati.
Dari uraian singkat di atas tantangan dunia pendidikan sekarang adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar, yaitu suatu proses belajar atas prakarsa peserta didik, yang didalamnya berisi pengakuan hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai dengan karakteristiknya.

Prasyarat utama untuk terwujudnya masyarakat belajar yang demokratis adalah pengemasan pembelajaran beragam dengan mengeliminasi penyeragaman, baik kurikulum, strategi, bahan ajar dan evaluasi belajar.

Di bawah ini beberapa kondisi yang akan mendorong proses belajar dan pembelajaran demokratis :

1. Hubungan Guru (pendidik) dengan Siswa (peserta didik) tidak lagi menunjukkan hubungan antara atasan dan bawahan atau instruktif otoriter, tetapi lebih seperti Ibu/Bapak, Kakak, sahabat atau mitra dalam belajar.

2. Peran guru bukan lagi satu satunya sumber belajar, tetapi lebih fleksibel, sehingga ada kalanya guru sebagai murid dan murid sebagai guru.

3. Hubungan antara peserta didik satu dengan lainya lebih menunjukan hubungan kesejawatan (egaliter), dari pada saingan sebagai kompetitor, sehingga sistem perengkingan di tiadakan, karena hal ini patut diduga akan menimbulkan eksklusifisme dan kebanggaan palsu serta penderitaan bagi siswa lainya.

4. Dalam proses pembelajarannya tidak cukup hanya dilatih, tetapi juga harus dididik, dengan harapan tumbuh menjadi manusia yang matang dalam emosi, spiritual, sosial dan intelegensi.

5. Pengaturan lingkungan belajar, hal ini sangat dibutuhkan agar peserta didik mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosional, dan harapannya memberikan kebebasan untuk melakukan pilihan – pilihan tindakan belajar yang mampu mendorong peserta didik terlibat secara fisik, emosional dan mental dalam proses belajar. Harapan lebih jauh tumbuhnya kreatifitas dan produktifitas.

6. Realness, artinya menyadari tentang kekuatan dan kelemahannya, keberanian, ketakutan, marah dan gembira, dan realitas lainya sebagai manusia.

Setelah kondisi proses pembelajaran demokratis seperti di atas maka pelatihan dan pendidikan (belajar) yang diharapkan adalah sebagai berikut :

1. Dalam pendidikan siswa dididik realistis, mengakui kehidupan yang multi dimensional, tidak seragam, dan diajak menghayati kebhinekaan.

2. Dalam pelatihan, yang pertama dibentuk adalah tingkah laku lahiriyah, dengan harapan membantu peserta didik untuk menjadi dirinya sendiri dan peka terhadap lingkungannya serta menguasai beberapa teknik belajar , sehingga mampu untuk terus belajar dan memperbaharui pengetahuan mereka untuk menjadi manusia yang humanis.

Sekian dulu dari saya tentang Reorientasi belajar dan pembelajaran di era millenial ini, semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi Anda semua, terutama bagi praktisi – praktisi pendidikan.

Baca Juga :




Mengenali Alergi dan Pencegahannya


Mengenali Alergi dan Pencegahanya

Penyakit alergi adalah penyakit yang bisa dialami oleh siapa saja dan mengganggu kita baik pria, wanita, tua, muda, bayi, orang lanjut si kaya maupun si miskin.

Penyakit ini cukup mengganggu dan populer tidak hanya karena menyerang semua lapisan masyarakat seperti yang saya sebutkan diatas, tetapi karena jenisnya atau bentuknya yang beraneka ragam dan menimbulkan gejala atau akibat yang merepotkan /mengganggu kehidupan sehari – hari, serta sifatnya yang sering kumat kumatan dan sukar disembuhkan.

Menurut Von Pirguet (1906)dalam Sukotjo Danusukarto (1989 : 219), mengatakan bahwa kata alergi berarti suatu keadaan sensitif terhadap sesuatu bahan berbeda dari keadaan normal, keadaan sensitif ini bisa lebih atau kurang dari reaksi pada umumnya.
Tetapi kemudian hingga sekarang, kata alergi hanya digunakan untuk keadaan sensitif yang berlebihan ( hiper sensitive)
Bentuk dan Jenis Alergi

Bentuk atau jenis penyakit alergi ini bisa berupa biduran di kulit, bintik – bintik merah pada kulit, bibir bengkak, mata kemerahan, kelopak mata bengkak, pilek (rhinitis allergica) ekstrim, kulit kemerahan, sariawan, penyempitan saluran pernapasan, pembengkakan selaput lendir rongga hidung, mulut dan saluran pernapasan, dan lain – lainnya.
Kadang – kadang alergi ini tidak nampak tetapi sangat mengganggu, misalnya rasa gatal yang sangat di kulit, padahal di kulit tersebut tidak ada perubahan sama sekali.

Alergi Pada Mata

Gejala – gejala terjadinya Alergi

Penyakit ini memberikan gejala yang berbeda – beda tergantung kepada bagian tubuh yang terserang alergi.
Keluhan atau gejala tersebut dapat berupa rasa seperti ditusuk – tusuk di kulit, rasa gatal – gatal, pedih, rasa panas, pilek, hidung tersumbat, tenggorokan selalu berlendir, sesak nafas, batuk, telinga gembrebeg, perut mulas, muntah, mencret, keputihan, nyeri sewaktu kencing, pusing sakit kepala, dan lain – lainnya.

Bahan / Penyebab terjadinya Alergi

Sebab –sebab dan bahan – bahan yang dapat menimbulkan alergi tergolong banyak sekali, contoh dalam kehidupan sehari – hari seperti minuman, pakaian, bulu binatang, udara, debu, kosmetik obat obatan, tanaman, bahan kimia, ( minyak tanah, bensin, olie, cat), obat nyamuk sabun mandi/cuci, gigitan serangga dan lain – lainya.

Sehingga para ahli mengatakan bahwa penyakit Alergi adalah musuh keluarga. Karena siapa saja bisa terkena alrgi dan penyebanya ada dimana – mana. Untunglah bahwa jumlah penderita alergi ini tidak sampai 10% dari jumlah penduduk.

Alergi Pada Bibir Karena Obat

Faktor lain penyebab alergi bisa jadi karena faktor keturunan, walaupun bukan penyakit keturunan. sebagian karena faktor bawaan. Namun banyak juga yang disebabkan karena mengkonsumsi obat.

Berikut ini obat – obatan yang dapat menyebabkan alergi, seperti :

• Penisilin (berupa kapsul,tablet sirop, salep kulit, salep mata)

• Sulfa (berupa tablet, tetes, dan bubuk)

• Tetrasiklin (berupa kapsul,tablet sirop, salep kulit, salep mata, krim, tetes mata, dan suntikan)

• Kloramfenikol (berupa kapsul, sirop, salep kulit, salep mata, tetes mata)

• Eritromisin ( berupa kapsul,tablet sirop )

• Paracetamol (berupa tablet, sirop )

• Acetasol (berupa tablet)

• Streptomisin (berupa kapsul,tablet ,sirop, suntikan)

• Baralgin (berupa tablet dan suntikan)

Bahkan ada obat yang biasa digunakan untuk mengobati alergi menimbulkan alergi., walaupun biasanya alergi obat ini lebih bersifat individual, artinya antara satu orang satu dengan yang lainnya berbeda – beda.

Pencegahan dan Pengobatan Alergi

Pencegahan penyakit alergi ini sebenarnya mudah asalkan kita mengetahui zat atau bahan – bahan yang menimbulkan alergi (alergent). Bila alergen ini bisa kita hindari maka alergi tidak akan terjadi.

Namun dalam prakteknya sering kali sulit, karena kita sering tidak mengetahui alergi tersebut. Sebagai contoh kasus :” Ada seorang ibu yang menderita eksim di bibirnya. Bertahun – tahun diobati tidak bisa sembuh dan selalu kumat, dicari alergennya juga tidak ketemu. Setelah bertahun – tahun di cari baru ketahuan bahwa suaminya memakai obat berupa krim penyubur kumis, dan ternyata krim inilah yang menyebabkan alergi pada istrinya. Setelah krim ini tidak dipakai lagi maka lenyaplah eksim pada bibir ibu tadi tanpa harus diobati”.

Menghindari diri dari alergen kadang – kadang juga susah, walaupun kita mengetahui pasti alergen tersebut. Contoh lagi seorang yang alergi debu dalam rumah tangga akan selalu sulit menghindarinya, karena debu dalam ruang – ruang rumah tangga selalu berterbangan.

Dari semua uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit alergi dapat disembuhkan, tetapi perlu kesabaran, ketekunan dan rajin berobat. Walaupun kemungkinan untuk kumat lagi masih ada, terutama kalau terkena lagi bahan yang menimbulkan alergi tersebut.

Karena Alergi pada hakekatnya adalah reaksi yang ditimbulkan dari dalam tubuh yang berupa zat histamin, sehingga obat yang digunakan tersebut disebut Antihistamin.

Demikian penjelasan singkat tentang penyakit alergi dan pencegahanya semoga dapat bermanfaat dan membantu anda yang sering terkena alergi.
Kritik dan saran silahkan tuliskan di kolom komentar.

Baca Juga :