Psikologi Mengajar

dalam posting sekarang ini akan saya coba sampaikan tentang Psikologi Mengajar
Psikologi Mengajar
Berbicara tentang pembelajaran tidak dapat terlepas dengan mengajar, karena dalam pendidikan formal keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan.

Dalam menjalani proses ini sangat melibatkan faktor psikis/kejiwaan dari para pelakunya. Oleh sebab tersebut pada posting sekarang ini akan saya coba sampaikan tentang Psikologi Mengajar, sebagai bagian dari keberhasilan pembelajaran, sehingga pada gilirannya dapat mencapai tujuan dari pendidikan.

Pembentukan manusia Indonesia sebagaimana disebutkan dalam tujuan SISDIKNAS pada pasal 8, yaitu “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. “. Dapat dicapai melalui Pendidikan.

Pendidikan itu sendiri diwujudkan melalui proses pengajaran (pembelajaran), baik dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Proses ini berdasarkan interaksi antara guru dengan peserta didiknya dalam proses pengajaran (pembelajaran) yang bersifat edukatif.

Agar Pembelajaran dapat berlangsung efektif, guru harus mampu menjadikan proses pembelajaran yang menyenangkan serta dinamis dan tidak monoton (pembelajaran yang baik). Oleh karena itu guru harus dapat menggunakan metode yang bervariatif, tidak banyak ceramah dan membuat peserta didik aktif dalam menerima pelajaran.

Untuk memahami Psikologi Mengajar tersebut mari kita pahami empat hal di bawah ini :

A. Ciri – ciri proses pembelajaran yang efektif :

1. Berpusat pada siswa.

Secara umum dalam kegiatan pendidikan, peserta didik menjadi subjek utama. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran siswa menjadi prioritas utama perhatian guru. artinya segala bentuk aktivitas diarahkan untuk membantu perkembangan peserta didik.
Dengan demikian keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam sejauh mana perwujudan diri peserta didik sebagai pribadi mandiri, pelajar efektif, dan pekerja yang produktif.

2. Interaksi edukatif antara guru dengan siswa

Dalam proses pembelajaran hendaknya guru tidak hanya memberikan bahan yang harus dipelajari, akan tetapi guru dapat berperan sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan pribadi peserta didik. Artinya terjadi interaksi edukatif antara guru dengan siswa, tegasnya antara guru dan peserta didik terjalin hubungan yang mendidik dan mengembangkan.
Dengan kata lain interaksi antara guru dengan peserta didik berdasarkan sentuhan – sentuhan psikologi,yaitu adanya pemahaman antara guru dengan peserta didiknya. Karena dalam suasana seperti ini dapat ditumbuhkan rasa percaya diri.

3. Suasana demokratis

Suasana demokratis dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran melalui hubungan antara guru dengan peserta didik dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berlatih mewujudkan hak dan kewajibannya.
Dalam suasana demokratis, semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensi yang dimiliki, sehingga dapat membangun rasa percaya diri, yang pada gilirannya dapat berinovasi dan berkreasi sesuai dengan kemampuan masing – masing peserta didik.

4. Metode yang variatif dan sesuai.

Sesuai tujuan dan bahan yang diajarkan hendaknya metode mengajar yang digunakan guru bervariasi, melihat keperluannya dan sumber daya yang tersedia. Artinya seorang guru juga harus kreatif memanfaatkan sumber daya yang ada dalam mendesain pembelajaran dan metode mengajar yang dilakukan.

Dalam Suasana seperti ini akan membuat peserta didik lebih senang dan bersemangat dalam belajar, sehingga hasil belajar yang dicapai akan lebih optimal dan tercipta suasana belajar yang tidak membosankan.

5. Guru Profesional.

Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian yang memadai, memiliki tanggung jawab yang tinggi, serta memiliki rasa kebersamaan dengan rekan sejawatnya. Karena dengan profesionalisme, guru mencintai pekerjaannya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Bahkan mereka mampu melaksanakan fungsi – fungsinya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab mempersiapkan peserta didik yang memiliki peran di masa depan.

Dengan demikian proses belajar mengajar yang efektif hanya mungkin terwujud apabila dilakukan oleh profesional dan dijiwai oleh profesionalisme.

6. Materi relevan dan bermanfaat.

Dalam hal ini tugas guru adalah mengolah bahan ajar yang akan diajarkan kepada peserta didik secara tepat dan bermakna.
Materi yang diajarkan bersumber dari kurikulum yang telah dibakukan dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan lingkungannya, sehingga memberikan makna dan manfaat bagi peserta didik.

Dengan harapan membuat peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas dan proses pembelajaran di kelasnya.

7. Lingkungan yang kondusif
Faktor lingkungan baik di sekolah maupun di luar sekolah sangat berpengaruh terhadap belajar mengajar di sekolah tersebut. Oleh sebab itu lingkungan yang kondusif sangat mempengaruhi dan menunjang proses belajar mengajar secara efektif.

Dalam hal ini Peran sekolah dan guru sangat diharapkan mampu membina kerja sama dengan pihak – pihak di luar sekolah, terutama dengan keluarga peserta didik dan steak holder setempat.

8. Sarana belajar yang menunjang

Sarana dan prasarana belajar yang memadai dan lengkap sangat menunjang berlangsungnya proses belajar dan mengajar yang efektif.
Yang termasuk kedalam sarana dan prasarana antara lain, alat bantu mengajar, ruang kelas, ruang laboratorium,lapangan olah raga, aula, perpustakaan dan sebagainya.
Sarana Sekolah Jaman dulu
B. Peranan Guru dalam Pembelajaran

Yang dimaksud peranan guru adalah keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru mempunyai peran yang cukup luas, baik di sekolah, di dalam keluarga, maupun di masyarakat.
Di bawah ini ada tujuh peran guru dalam bidang pendidikan, antara lain :

1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai bermacam - macam aktivitas pendidikan.
2. Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa kepentingan dan suara masyarakat dalam pendidikan
3. Seorang pakar pada bidangnya, dalam arti guru harus menguasai materi yang diajarkan.
4. Penegak disiplin, seorang guru harus menjaga agar siswa – siswanya mampu melaksanakan disiplin.
5. Pelaksana administrasi pendidikan, artinya guru bertanggung jawab agar proses belajar dan mengajar dapat berlangsung dengan baik dan efektif.
6. Pemimpin generasi muda, seorang guru bertanggung jawab mempersiapkan dan mengarahkan peserta didik sebagai generasi muda pewaris masa depan
7. Penerjemah kepada masyarakat, dalam hal ini guru berperan sebagai penyampai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

Sedangkan dari sudut pandang Psikologi guru berperan sebagai :

1. Pakar psikologi pendidikan, maksudnya seorang guru harus memahami psikologi pendidikan dan mampu menerapkannya dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
2. Seniman dalam hubungan antar manusia, maksudnya seorang guru mesti memiliki kemampuan menciptakan keadaan hubungan antar manusia, dalam hal ini dengan peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan.
3. Pembentukan kelompok, dalam arti mampu membentuk kelompok dan interaksi serta aktivitas sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
4. Inovator, artinya seorang guru mampu menciptakan suatu pembaharuan untuk membuat sesuatu yang lebih baik.
5. Petugas kesehatan mental, maksudnya seorang guru bertanggung jawab atas terciptanya kesehatan mental peserta didiknya.

C. Kompetensi Guru

Secara umum kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan oleh seorang guru yang berkaitan dengan tugas tertentu.
Jadi kompetensi guru adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat menunjukkan perilaku sebagai guru.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 8 dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi 4 kompetensi, yaitu ;

1. Kompetensi Pedagogik, adalah kompetensi yang menyangkut kemampuan memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, merancang dan melaksanakan evaluasi, dan mengenbangkan potensi peserta didik.

2. Kompetensi Kepribadian, adalah kompetensi yang menyangkut kemampuan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

3. Kompetensi Sosial, adalah keterampilan untuk berinteraksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial, dalam arti kemampuan yang diperlukan untuk berhasil dalam hubungannya (komunikasi) dengan orang lain ( peserta didik, teman sejawat, tenaga kependidikan, orang tua murid dan masyarakat sekitar).

4. Kompetensi Profesional, adalah kompetensi yang berhubungan dengan aspek keahlian pada bidangnya, tanggung jawab atas tugasnya, dan kebersamaan dengan rekan sejawat serta lingkungannya serta antusias terhadap pemanfaatan teknologi dan pengembangan profesinya. Secara sederhana merupakan kemampuan mewujudkan diri sebagai guru profesional.


D. Profesionalisme Guru

Guru profesional yaitu guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan dengan didukung oleh etika profesi yang kuat.
Pada dasarnya kerja profesional guru merupakan perwujudan profesionalitas seorang guru yang secara sadar dan terarah dalam melaksanakan pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Kematangan profesional seorang guru ditandai dengan perwujudan guru yang memiliki :

1. Keahlian pada bidangnya
2. Rasa tanggung jawab profesi
3. Rasa kesejawatan yang tinggi terhadap rekan seprofesi.

Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian pada bidangnya, baik secara keilmuan dan menguasai keterampilan metodologinya dengan karakteristik memiliki rasa tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa, dan Negara, lembaga tempat mengabdi, organisasi profesi, dan kode etik jabatannya.

Kemudian Profesionalisme guru mempunyai makna penting, hal ini karena ;

1. Memberikan jaminan perlindungan kesejahteraan bagi masyarakat umum.
2. Merupakan suatu metode untuk memperbaiki profesi dan meningkatkan profesional guru
3. Memungkinkan perbaikan dan pengembangan diri guru dalam memberikan pelayanan pendidikan dan memaksimalkan potensinya

Sedangkan penampilan kepribadian seorang guru dalam berbagai situasi dan kondisi sebagai cerminan dari kualitas kepribadian, merupakan hal yang sangat penting untuk mewujudkan kinerja secara tepat dan efektif.

Artinya kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seorang guru dalam berinteraksi dengan lingkungan pendidikan di berbagai situasi dan kondisi.

Sampai disini dulu uraian mengenai Psikologi Mengajar yang dapat saya paparkan, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga dapat bermanfaat untuk semuanya.

Seorang Pengajar Pada Sekolah Menengah Atas Di Jawa Tengah dan Penulis Free line Pada Blog.. Blog ini sebagai wujud sumbangsih pada dunia Pendidikan dan sebagai langkah nyata dalam membantu dan melengkapi sumber referensi bagi siapapun yang membutuhkannya. Siap Berbagi, Siap Belajar, dan Pembelajaran

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »